<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884</id><updated>2011-08-26T04:59:15.613-07:00</updated><title type='text'>Warna Warni Sisi Hati</title><subtitle type='html'>banyak sekali sisi kehidupan yang berbeda di luar sana, mencoba mencari hikmah dari setiap kisah hati seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-3737940165582973076</id><published>2011-01-16T18:44:00.000-08:00</published><updated>2011-01-16T18:50:32.840-08:00</updated><title type='text'>Sampai Di Sini,..</title><content type='html'>&lt;em&gt;Kakiku menapaki bekas rumput yang bermandikan hujan semalam. Buliran titik hujan melindapkan rindu yang teramat panjang di kota ini. Ternyata ku tlah sampai di sini ,….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menara putih berdiri tegak di hadapanku, menatapku menantangku, seolah dia bertanya “mau apa aku kemari lagi???”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah sampai di sini, di sudut kotamu membawa aliran rinduku yang panjang sepanjang nakdong-gang yang mengalir tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka delapan, sebuah angka yang besar untuk sebuah perpisahan. Di sungnyemun ku dapati dirimu sedingin salju menatapku tanpa rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pergilah katamu,….rindumu padaku seperti someiyoshino di tanganku yang cepat me-layu secepat keinginannya untuk merekah,….. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika ku ingin rindumu padaku seperti Tiger Lily, yang selalu dengan senang hati menunggu sang mentari datang, senantiasa menghadap kea rah mentari dan mekar meskipun tak seorangpun sedang menyaksikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan gemintang di langit gelap tak pernah mampu mewakili rasa rinduku padamu, kini satu persatu rindu itu berjatuhan menghujam bumi hatiku yang menanah rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ku diam sediam tugu yang dibasahi rinai hujan,….masih aku di sini, mendengarkan hatimu telah sampai di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nakdong-gang   = sungai terpanjang di korea selatan&lt;br /&gt;Sungnyemun  = pintu gerbang bersejarah di jantung kota seoul&lt;br /&gt;Someiyoshino   = jenis sakura yang bunganya lebih dahulu mekar sebelum daun-daunnya mulai keluar   hanya bertahan hingga 7 hari. &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-3737940165582973076?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/3737940165582973076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2011/01/sampai-di-sini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/3737940165582973076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/3737940165582973076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2011/01/sampai-di-sini.html' title='Sampai Di Sini,..'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-9131464786382076237</id><published>2010-11-26T15:47:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T15:51:59.815-08:00</updated><title type='text'>Hujan di Mentawai</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIBtZ4kTI/AAAAAAAAAGA/r7Bqqa5Hf14/s1600/imagesCAXCSL5W.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 284px; height: 177px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIBtZ4kTI/AAAAAAAAAGA/r7Bqqa5Hf14/s320/imagesCAXCSL5W.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5544010335498309938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hujan,….jiko hujan hati den ibo&lt;br /&gt;(hujan, jika hujan turun hatiku lara)&lt;br /&gt;Takana maso, kisah nan lamo &lt;br /&gt;(mengingat suatu masa, kisah yang telah lama)&lt;br /&gt;Maso sapayuang kito baduo&lt;br /&gt;(masa dimana kita sepayung berdua)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alah lah jo (sudahlah bang),.. ajo indak perlu mengayuh sampan mencari ikan kalo hanya ingin lari dari masalah kita. Amak memang selalu bersikap seperti itu saat ada bujang hendak menyunting anak padusi satu-satunya ini. Bukannya amak indak setuju, hanya saja amak butuh bukti kalo ajo serius hendak memperistri anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iyolah (iya) ,..ajo Zainal hanya menjawab singkat sebelum kemudian mendorong sampannya ke dalam air lalu menggayuhnya menjauh dariku berlalu tak perduli dengan penjelasanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak amak menunjukkan sikap tak suka padanya, ajo Zainal menjadi lebih sensitive dari biasanya. Sementara aku yang berada di tengah diantara amak dan ajo justru lebih tersiksa. Tak mungkin aku melawan keinginan amak, tak mungkin pula aku menghilangkan rasa cintaku pada ajo zainal. Satu-satunya hal yang ku tunggu adalah waktu, untuk menenangkan hati amak menerima ajo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahku gontai kembali ke rumah, langit penuh jingga begitu indah untuk dipandang. Gerombolan burung pulang berduyun-duyun. Sebentar lagi magrib, aku harus segera tiba di rumah untuk shalat dan murathal Qur’an. Membaca Qur’an saat perubahan kondisi terang ke gelap (ashar-magrib) atau gelap ke terang (ba’da shubuh) sangat baik untuk meningkatkan ketajaman ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;################&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru pulang ka-u Ifa??,…amak menegurku di beranda depan. Aku diam tak menjawabnya, hanya berlalu menunduk tak berani menatap mata amak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ba’da murathal aku mengurung diri di dalam. Terngiang semua ucapan amak tentang ajo zainal pagi tadi yang membuat sebuah pertengkaran pula antara aku dan ajo zainal.&lt;br /&gt;Amak indak satuju (ibu tidak setuju), kalo ka-u mantang bahubungan samo si zainal itu (kalo kamu masih berhubungan dengan zainal), nada amak keras menentangku.&lt;br /&gt;Manga Amak indak satuju (mengapa ibu tidak setuju)?? Aku mencoba mendengarkan alasan amak dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pernikahan itu ado istilah “sekufu”, inyo tu kan tamat SMA (dia itu hanya tamat SMA), samantara ka-u sakolah bidan (sementara kamu seorang bidan), indak nyambung kalo kalian manikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menarik nafas dalam. Memang sekufu (setara) dalam pernikahan islam cukup diperhatikan agar tidak terjadi kesenjangan yang terlalu menonjol dalam pernikahan. Istilahnya kalo yang tak terlalu banyak perbedaan saja, bisa jadi cekcok, apalagi jika perbedaannya terlalu jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam mulai larut 21.40 menit. Aku akhirnya keluar dari kamarku. Terlihat sepi di tengah rumah, pintu kamar amak tertutup rapat, mungkin amak sudah tidur pikirku. Sebenarnya tak enak hatiku mendiamkan amak dengan cara kurang dewasa seperti ini.&lt;br /&gt;Aku baru hendak melihat amak di kamarnya, ketika kudengar deritan pintu dan jendela yang berderak-derak membuatku terhuyung-huyung menjangkau pintu kamar amak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amak,…amak,….gampo amak(gempa bu),..bangkiek mak (bangun bu),…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku panik bukan kepalang, ku kejar amak yang baru terbangun dari tidurnya. Ku papah amak keluar, aku takut jika saja rumah tua kami ambruk suatu waktu karena gempa yang cukup keras ini. Amak shock dengan apa yang terjadi, dengan sekuat tenaga kugendong amak keluar. Wajahnya pucat dan lemas. Kupeluk amak erat, aku takut kehilangan amak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai 20 menit dari redanya gempa, kudengar gemuruh ombak seperti suara ribuan pasukan berkuda menuju ke satu titik yaitu menyerang kami. Sekarang aku lebih panik dari sebelumnya. Angin dingin menusuk tulang-tulangku, suasana mencekam menyertainya. Suara gemuruh itu semakin mendekat, seperti membuntuti kami yang sebagian masih terlena menata kembali barang-barang yang hancur di dalam rumah.&lt;br /&gt;Amak,..capek amak( ibu, cepat), bia ambo gendong amak sajo (biar saya gendong saja ibu),….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlari bersama puluhan orang yang mulai menyadari sebuah bahaya besar sedang menguntit kami. Ombak raksasa yang berjalan vertical dengan kecepatan 80 km/jam itu menghalau kami tanpa memilih-milih sasarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amak diam dalam gendonganku, entah berapa kali aku terjatuh lalu sekuat tenaga bangkit lalu kembali berlari, hingga akhirnya aku seperti buih tergulung-gulung dalam lumpur ombak setinggi 3 meter itu, beberapa kali terminum olehku air asin yang mencekat leherku, beberapa kali pula aku tak mampu bernafas sejenak, hingga aku sadari amak terlepas dari gendonganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terjepit diantara dua pohon pinus yang setengah batangnya tenggelam. Berulang kali aku membuka mataku mencari sosok amak yang hilang dari pandanganku. Aku bertahan di pohon itu membeku kedinginan bersama air mataku yang tak mampu berhenti sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amak, dima amak??jangan bia ambo sandiri amak,…ya Allah, dima Amak.&lt;br /&gt;Aku berteriak-teriak ditengah gempa susulan dan ombak yang menggulung-gulung di hadapanku. Akhirnya aku diam, memasrahkan keselamatan amak pada Yang Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam kemudian murka lautan itupun mereda air lautpun mulai menyusut, walaupun sesekali gempa susulan masih terasa. Kupaksakan mencari amak dengan sisa kekuatan tubuhku. Dalam tumpukan sisa bangunan yang hancur, pohon-pohon yang patah, aku mencari amak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutku tak henti mengucapkan kata amak,..ya Allah, selamatkan amak,..selamatkan amak,..selamatkan amak. Sudah hampir pagi aku mencari amak, semburat cahaya mentari sama sekali tak indah pagi ini di pagai utara, Mentawai. Wajah-wajah pucat dan kaku bergelimpangan di sekitarku.&lt;br /&gt;Orang-orang tak henti mencari keluarganya. Aku hampir putus asa, hingga akhirnya kutemukan secarik sobekan baju amak di balik atap rumah yang telah hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkk,…..aku berteriak histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh amak telah dingin dan kaku, tangan dan kakinya membeku pucat. Berulang kali aku meraba setiap letak nadinya memastikan amak masih hidup. Aku telah menggila, ketika tak satupun nadinya yang berdenyut, tak sedikitpun kurasa hangat nafas dari hidungnya. Aku berteriak lagi, kepalaku terasa berat, mataku semakin berkunang-kunang. Tidak, aku harus kuat, aku harus kuat sugestiku pada diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkk,….manga amak tingga kan ambo&lt;br /&gt;(ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu, mengapa ibu tinggalkan aku)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh kaku amak diangkat ke tempat pengungsian, jejeran mayat yang puluhan jumlahnya juga sebagian ditangisi oleh anggota keluarganya. Walaupun tubuhku mampu bergerak, namun pikiranku sungguh sangat kosong. Hampa kurasakan di hatiku, belum sempat aku mengucapkan maaf pada amak karena perselisihan kami kemarin, belum banyak bahagia kuberikan untuk amak, sungguh perpisahan ini teramat menyayat hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku masih tersungkur di sini, aku hanya meninggalkan mayat amak sebentar untuk wudhu dan shalat, sebelum amak dikuburkan aku hanya ingin membacakannya ayat kursi dan yasin berulang kali, setidaknya hanya itu hadiah yang bisa kuberikan saat ini untuk amak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hendak bangun mengambil wudhu ketika beberapa orang meletakkan sebuah tubuh kaku lagi tepat di samping mayat amak. Aku sempat melirik tangan mayat lelaki yang baru diletakkan itu, mataku diam menatap sebuah cincin di jari manis yang sangat ku kenal. Bagaimana tidak, cincin itu sengaja ku design saat aku ke bukit tinggi beberapa bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajo,..indak mungkin, iko ajo zainal,….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadaku sesak, terasa sangat sesak. Tubuhku limbung, aku terjatuh dari posisi berdiriku. Aku benar-benar berada di ambang batas kesadaranku. Mayat laki-laki di samping mayat amak adalah ajo zainal. Hah,…Kutepuk keras dadaku, Oh Rabb, terbuat dari apakah hatiku saat ini???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rinai hujan dibawa angin ditanah mentawai yang berbau hangir, rintik hujan di hatiku juga semakin deras, membawa aliran rinduku yang semakin besar pada amak dan ajo. Hari ini hujan turun di mentawai, begitu juga dengan hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan&lt;br /&gt;Ajo  : abang &lt;br /&gt;Amak : ibu&lt;br /&gt;Indak :tidak&lt;br /&gt;Ka-u :kamu (perempuan)&lt;br /&gt;Padusi :perempuan&lt;br /&gt;Iko  : ini&lt;br /&gt;Sekufu :setara, contoh pernikahan syekh puji dan ulfa dibawah umur ditentang karena tidak sekufu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-9131464786382076237?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/9131464786382076237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/11/hujan-di-mentawai.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/9131464786382076237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/9131464786382076237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/11/hujan-di-mentawai.html' title='Hujan di Mentawai'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIBtZ4kTI/AAAAAAAAAGA/r7Bqqa5Hf14/s72-c/imagesCAXCSL5W.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-8740544433882528774</id><published>2010-09-25T08:47:00.000-07:00</published><updated>2010-09-25T08:52:42.591-07:00</updated><title type='text'>Peri Berkerudung Biru</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TJ4ar1u49WI/AAAAAAAAAFY/29gNmuhfcik/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 221px; height: 228px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TJ4ar1u49WI/AAAAAAAAAFY/29gNmuhfcik/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520879533663253858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Koridor 017&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku tertinggal di sini, telah lama kuraba mencoba menemukan tiap sudutnya&lt;br /&gt;Koridor 017 warna temaram menghiasi sepanjangnya,…&lt;br /&gt;Begitu redup cahaya di sana,..seredup keinginanmu untukku,…&lt;br /&gt;Peri berkerudung biru dalam senyumannya yang sendu,…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koridor 017,..ketika kuletakkan harapanku&lt;br /&gt;Mata coklatmu berbicara,..”aku baik-baik saja”&lt;br /&gt;Wahai Peri berkerudung biru,..&lt;br /&gt;Kurasakan cumulonimbus menggelantung pekat di atas kepalaku&lt;br /&gt;Diam,…Mataku panas menahan genangan sumur airmata di hatiku&lt;br /&gt;Lepaskan,..kan ku coba lepaskan&lt;br /&gt;Walaupun lebih berat daripada menahannya,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koridor 017 barisan file teratas dari kisahku&lt;br /&gt;Tanpa perlu kubuka isinya,..&lt;br /&gt;Hatiku telah sangat kenal judulnya&lt;br /&gt;Peri berkerudung biru,….aku tak kan memohon&lt;br /&gt;Namun Ijinkan aku tetap membukanya di file hatiku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertengahan February &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin mata coklat itu kini redup&lt;br /&gt;Lebih redup dari cahaya lampu di koridor 017,…&lt;br /&gt;Peri berkerudung biru,..&lt;br /&gt;Ku akui,..aku tlah menjadi pendosa&lt;br /&gt;Ketika dekapanku begitu erat menyanjung malaikat&lt;br /&gt;Namun hatiku tak berani membisu melafalkan kisahmu,…&lt;br /&gt;Seperti dzikir panjang yang tak pernah terputus waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan February,…tanpa hujan,..tanpa terik&lt;br /&gt;Ketika “seandainya” itu punya makna,…&lt;br /&gt;Mungkin aku akan memilih mencarikan cahaya untukmu&lt;br /&gt;Walaupun bukan cahaya gemintang,..&lt;br /&gt;Kerlipan Kunang-kunang pun akan terasa indah,…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peri berkerudung biru,…&lt;br /&gt;Meskipun ku tak mungkin mengubah “seandainya”&lt;br /&gt;Setidaknya biar kurangkai senyummu menjadi indah &lt;br /&gt;Biar kuterangi coklatnya matamu hingga berbinar&lt;br /&gt;Walaupun hanya dengan itu aku akan tetap menjadi seorang pendosa&lt;br /&gt;Antara kau peri berkerudung biruku dan bidadari yang erat memeluk tubuhku,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peri berkerudung biru,…untuk kesekian kali, ku mohon…Maafkan hatiku….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-8740544433882528774?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/8740544433882528774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/09/peri-berkerudung-biru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/8740544433882528774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/8740544433882528774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/09/peri-berkerudung-biru.html' title='Peri Berkerudung Biru'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TJ4ar1u49WI/AAAAAAAAAFY/29gNmuhfcik/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-2629000431080455597</id><published>2010-09-02T17:23:00.000-07:00</published><updated>2010-09-02T17:31:44.432-07:00</updated><title type='text'>Raishah dan Renata</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TIBBkJ5AeYI/AAAAAAAAAFQ/QYxQJ6TXGZs/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 235px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TIBBkJ5AeYI/AAAAAAAAAFQ/QYxQJ6TXGZs/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5512478033287608706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Gadis kecil bernama Raishah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raishah,…raishah,…apa kau mendengarkanku??” suara itu berbisik perlahan, tepat di telinga raishah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“iya,..kamu siapa??”……….raishah membuka matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku Renata,..aku telah datang untukmu” renata menatap tajam jauh ke dalam bola mata raishah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku kesakitan,…” ringis raishah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sssstttttt,….tenanglah, jangan menangis lagi. aku telah sangat mengetahuinya. Tak akan kubiarkan lelaki tua itu menyentuh tubuhmu lagi…diamlah, kan kubasuh lukamu, jika kau mau aku tak akan goyah bersamamu”…..renata mendekap raishah, menenangkan hati kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Gadis remaja bernama Raishah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Renata,…aku kecewa, aku merasa tak punya nilai” raishah terisak sendu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“karena wanita tua itu??? Masihkah dia bersikap kasar padamu??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“iya,…angguk raishah dalam…. “apakah dia pernah bersikap baik selaku ibu padaku??”….raishah kembali terisak sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bersabarlah,..aku selalu setia padamu”…raishah tersenyum dengan manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Seorang Mahasiswi bernama raishah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku hancur,..aku telah hancur,..aku benar-benar hancur” raishah tak berdaya di sudut gedung utara kampus. Renata menangis di sampingnya,untuk kali pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bangkitlah raishah, ini hanya mimpi buruk!!!,..seburuk apapun kau bisa memulainya lagi”….renata berhenti menangis, membantu tubuh raishah yang limbung untuk berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“apa aku harus selalu merasa kesakitan??” raishah berdiri lunglai, meringis merasakan perih diantara selangkangannya, dia tahu, dia telah tersobek-sobek oleh kebejatan nafsu lelaki penghuni jahannam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“raishah,…bagi sakitmu denganku, kan ku bagi seluruh bahagiaku padamu” renata memapah tubuh raishah yang lemah dan terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Wanita dewasa, bernama raishah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kini saatnya raishah,…saat kita harus berpisah”….renata menggenggam erat jemari lentik wanita dewasa bernama raishah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku belum siap,..ku mohon, tetaplah di sampingku” raishah berbisik halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“berhentilah sampai di sini, suatu saat aku bisa mengganggumu,…entah kapan lagi akan terulang…apa kau ingat, ketika kau tertawa lepas lalu tiba-tiba menangis karena aku mengingatkanmu akan luka itu??,…apa kau ingat ketika kau belajar menjadi lebih beriman namun aku mengajakmu menjadi nakal….walaupun tak selalu begitu raishah,…tapi aku tak ingin kau menciptakan kamuflase dalam dirimu sendiri, aku tak ingin kau menyimpanku lebih jauh dalam jiwamu”…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku takut sendiri,..aku telah terbiasa bersamamu” raishah memohon dengan sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ada beribu kemungkinan di sekelilingmu, ada banyak kesempatan di depanmu, namun hanya ada satu kekuatan di belakangmu yaitu TUHAN,..apa kau harus takut??? Kuncinya hanya satu keikhlasan raishahku sayang,….ikhlaskanlah semua yang telah terjadi dalam hidupmu,…jadilah jiwa yang matang!! aku pergi!...renata kemudian berlari menjauh semakin jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raishah senyap,..senyap dirasakan separuh jiwanya. Renata memang pergi, tapi suatu saat dia kan kembali menjadi sebagian jiwa raishah yang lain. &lt;br /&gt;“aku tak akan mengucapkan selamat jalan,..karena ku yakin kau hanya berhibernasi, suatu saat kau akan bangun lagi saat kubutuh jiwaku yang lain Renata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------&lt;br /&gt;Jakarta, 3 september 2010&lt;br /&gt;Aida m affandi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-2629000431080455597?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/2629000431080455597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/09/raishah-dan-renata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/2629000431080455597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/2629000431080455597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/09/raishah-dan-renata.html' title='Raishah dan Renata'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TIBBkJ5AeYI/AAAAAAAAAFQ/QYxQJ6TXGZs/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-1938122104633658313</id><published>2010-05-24T23:08:00.000-07:00</published><updated>2010-05-24T23:31:56.631-07:00</updated><title type='text'>Bukan Wanita Kedua</title><content type='html'>&lt;em&gt;Mengapa Kamu mendatangi jenis laki-laki diantara kamu (berbuat homoseks)&lt;br /&gt;Dan kamu tinggalkan perempuan yang  diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istrimu?&lt;br /&gt;Kamu benar-benar orang yang telah melampaui batas&lt;br /&gt;(Asy-Syu’ara 165-166)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat saat ku tatap mata laki-laki yang dijodohkan oleh orang tuaku dua tahun yang lalu. Saat dia datang melamarku bersama keluarganya, sekilas aku melihat tak ada yang aneh dengan laki-laki itu. Bahkan dia terkesan sangat sopan dan bisa dikatakan pria baik-baik pada kesan pertama ku menatapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata elangnya yang tajam ditambah segaris alis mata yang sangat tebal menatapku lekat. Aku bergetar untuk pertama kalinya, mungkinkah itu cinta yang datang menyergap tiba-tiba memenuhi relung jiwaku yang selama ini selalu sepi oleh kehadiran hati yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa setelah beberapa kali gagal membina hubungan cinta dengan beberapa orang pria membuatku pasrah akan jodoh yang ditawarkan oleh kedua orang tuaku. Kurelakan saja ketika laki-laki itu mencoba untuk mengenaliku sebelum menikahiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalah cinta mah gampang neng,..ntar bisa tumbuh belakangan, orang-orang dulu juga pada dijodohin, tapi ndak ada tuh yang kawin cerai kayak anak jaman sekarang “kata bibi Baiti, pembantu rumah tangga kami yang telah 15 tahun ikut ibuku bekerja di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak ku cerna kata-kata bibi Baiti, apa mungkin cinta bisa datang karena sering bersama, lalu bagaimana kalau cinta itu tidak hadir juga??,..ah, aku tak ingin gambling dalam hal ini. Tapi sebagian kata-kata bibi baiti ada benarnya juga, bahwa pernikahan jaman sekarang rentan oleh kawin cerai, padahal orang-orang sekarang bisa dikatakan lebih maju dan didukung oleh fasilitas untuk membina komunikasi yang baik antara suami istri,  mungkin memang begitu pernikahan akhir jaman kata mamaku menimpali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pertama tentu aku harus cari tahu siapa laki-laki yang profile dan fotonya di sodorkan padaku beberapa hari yang lalu. Aku hanya tahu laki-laki itu sedang mengambil program pasca sarjananya di bidang filsafat agama. Aku pikir laki-laki itu type laki-laki serius yang agak membosankan. Ah,..cepat-cepat kutepis anggapan sekilasku tentang laki-laki itu. Tapi paling tidak dia lulusan sarjana Agama yang mudah-mudahan bisa membimbing aku dan anak ku kelak agar lebih dekat pada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali aku melakukan shalat istikharah akhirnya aku menetapkan hati untuk menyambut lamaran dari laki-laki yang bernama Yunus itu. Dia memang pendiam bahkan sangat pendiam, hanya lirikan matanya yang sekali-kali kutangkap sedang mencuri pandang ke arahku, lalu dia kembali diam dan menunduk menekuri meja tamu di rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah menyangka akan menikah dengan laki-laki yang sangat mapan dalam segala hal, namun memiliki permasalahan yang sangat rumit. Wajah polosnya yang dingin, tatapan matanya yang tajam, bibirnya yang tak pernah berucap kata membuatku semakin bingung dan sulit memahami laki-laki yang telah menikahiku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikah kami mengontrak sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari tempat Yunus bekerja. Pekerjaan Yunus sebagai kepala Kantor  Urusan Agama semakin melengkapi tekanan  bathinku. Yunus menikahkan orang-orang di satu kecamatan yang dibawahinya , setiap pasangan diberi nasehat pernikahan. Bagaimana pentingnya komunikasi dalam pernikahan dan lain sebagainya. Lalu selalu menjadi pertanyaan besar di kepalaku, bagaimana dengan pernikahan kami sendiri??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlalu ingin mempertahankan pernikahanku setiap kali menyadari rasa malu yang akan kupanggul seumur hidupku jika perceraian terjadi dalam pernikahan kami.  Sudah setahun berlalu pernikahan ini, hampir tak ada kata bahagia yang tersimpan di hatiku semenjak ijab qabul itu terucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku tak percaya akan hal ini. Setiap kali aku mendekatinya dia selalu menghindariku. Aku pikir dia butuh waktu untuk mendekatiku atau apapun alasannya, mungkin saja dia malu bathinku. Perasaan curiga terus menghantuiku, ada apa dengan suami yang menikahiku hampir setahun ini. Aku istrinya yang seolah-olah paling disayang di depan semua orang, aku seorang pengantin wanita di kala pesta pernikahan kami digelar tapi ternyata aku bukan teman segala hal dalam hidupnya. Bahkan kami memiliki kamar tidur yang terpisah, tentu tak seperti kondisi pernikahan pasangan lain yang menurutku bisa dikatakan normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku berderai air mata saat kusadari ada yang salah dengan sikap Yunus. Seolah-olah dia membenciku. Dia tak pernah bicara apapun jika bukan hal yang sangat penting menurutnya, samasekali diam tiap kali ku bertanya, kapan dia akan menggauliku sebagai seorang istri. Kapan dia akan menikmati masakanku dan membiarkanku mencuci dan menyetrika baju untuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seperti seorang pungguk yang terlalu mengharapkan bulan. Aku seperti bermimpi menunggu kapan mimpiku akan menjadi nyata. Tidak pernah sekalipun dia mencicipi masakanku, tidak pernah sekalipun dia merelakan aku mencuci dan menyiapkan baju untuknya. Tidak pernah sekalipun. Bahkan dia selalu memarahiku jika ku tunaikan kewajibanku sebagai seorang istri untuk melayani sang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunus hanya diam, tak berucap kata seolah lupa bagaimana berbicara. Amarahku membeku tiap harinya, semakin hari aku semakin bingung dengan sikapnya yang aneh. Dia terlihat manis saat bertemu keluargaku dan teman-teman kerjanya. Dia selalu mengajakku dalam acara makan malam di tempat sanak saudaranya, tapi hanya sebatas topeng yang dikenakannya untuk menutupi kedok di belakangnya. Begitu sampai di rumah dia akan mendekam kembali di kamarnya dan aku diam sendiri di kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“astaghfirullahal adziiimmm&lt;/em&gt;,…apa kau tidak bisa memakai pakaian dalammu di kamar mandi saja” Yunus membentakku sembari memberikan handuk tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang,..aku ini istrimu, aku halal untukmu, mengapa kau harus beristighfar melihat sebagian auratku??,..seharusnya aku yang bertanya ada apa denganmu, selama ini aku hanya diam kau perlakukan aku seperti ini tapi bukan berarti aku tidak memperhatikanmu”...ku ambil handuk dari tangannya untuk menutupi sebagian tubuhku yang masih basah sesudah mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunus meninggalkanku bergerak ke kamarnya. Ku kejar dia sebelum tangannya menjangkau gagang pintu. Ku tahan tanganku agar diberi kesempatan untuk mengeluarkan uneg-uneg di kepalaku selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa abang ga pernah menjawab pertanyaanku ini. Seperti inikah pernikahan yang di ajarkan agama kita?? Seperti inikah nasehat pernikahan yang abang hembus-hembuskan pada pasangan suami istri yang akan menikah?? Tidakkah abang malu telah memiliki topeng seperti ini?? Aku malu bang,…bukan hanya malu, tapi hancur hatiku atas perlakuan abang. Kalau memang abang ga mencintaiku, mengapa setuju dengan pernikahan kita???”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunus tak bergeming, air mata yang bercucuran di pipiku tak menggerakkan hatinya untuk berbicara tentang masalah antara kami. Dia hanya diam melihatku sesenggukan. Sikapnya semakin membuatku geram dan ingin berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa ada manusia tak punya hati sepertimu ini??....Ya Allah dimana ilmu agama yang kau pelajari selama ini, apakah kau lupa ayat dan hadistnya menggauli istrimu??..pernikahan hanya sebuah kesakitan dalam hidupku. Katakan padaku, apa kau lemah syahwat?? Bisa kah kita mengobatinya bersama-sama,..aku ini istrimu, mana boleh kau biarkan aku penuh tanya seorang diri menjalani pernikahan ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunus melirikku sejenak, lalu kembali menekuri layar laptop di depannya. Ingin sekali aku melepaskan geram hatiku, ingin sekali aku melepaskan control amarahku agar reda seluruh resah hatiku. Aku terduduk di depan kamar Yunus dalam keadaan bermandikan air mata. Yunus benar-benar telah menghancurkan sisi kesabaranku, Yunus benar-benar merusak rasa sayangku yang berlimpah padanya menjadi rasa benci yang berlapis-lapis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca pertengkaran saat itu, aku semakin tahu bahwa Yunus memang tak pernah mencintaiku. &lt;br /&gt;Jika memang dia ingin bersamaku tentu tak sesakit ini perlakuannya padaku. Tentu dengan cepat pula dia memberikan penjelasan keadaannya yang sebenarnya. Yunus semakin menjadi dingin bahkan ku pikir sudah membeku, jangan kan berucap maaf atas pertengkaran kami saat itu, bahkan bertegur sapapun tidak pernah dilakoninya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak memikirkan aib yang akan ditelan oleh Yunus dan keluarga kami, mungkin aku tak akan bertahan sampai dengan saat ini. Aku sungguh masih memikirkan anggapan orang terhadap pekerjaan Yunus sebagai kepala KUA. Bagaimana mungkin dia akan memberi nasehat pernikahan jika pernikahannya saja tak selamat dari perceraian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendiamkan masalah yang semakin terbakar antara kami, diluar terlihat tenang tapi di dalam semakin membakar hampir seluruh hatiku. Ibarat api dalam sekam yang terlihat hanya asap yang sesekali mengepul dilewati tiupan angin. Yah,…aku memilih diam dan menahan derita ini hingga semuanya jelas di depan mataku arti kebenaran itu terungkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu begitu terik, panasnya mencapai 40 derajat celcius, aku mendekam dalam kamarku menikmati jus jeruk dan beberapa potong coklat. Di luar ku dengar suara motor Yunus yang berhenti di halaman rumah kami, sekilas ku intip lewat jendela ternyata Yunus pulang bersama Ilham sahabatnya sejak masih kuliah dulu begitu akuannya padaku suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa mereka berdua akan masak bersama, lalu makan bersama dan menghabiskan siang di kamar sambil menonton televisi yang selalu diputar dengan volume yang keras. Tak sekalipun aku menegur Yunus jika sedang bersama Ilham. Aku hanya tersenyum jika sempat berpapasan dengan Ilham saat berada di rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi entah mengapa siang itu aku sangat penasaran dengan rutinitas mereka. Bagiku agak sedikit aneh laki-laki yang selalu menghabiskan waktu bersama demikian dekatnya bahkan jauh lebih akrab dari istrinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan ku buka pintu, aroma ikan yang digoreng begitu khas di hidungku. Aku berjalan perlahan mengamati dua laki-laki yang sedang menghabiskan waktu memasak bersama itu. Aku semakin mendekat saat kenyataan itu terkuak di depan mataku atas izin Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Astaghhhfiruulllahhhal adhzimmm&lt;/em&gt;,…..ku genggam erat jari jemariku dalam kepalan tanganku. Ingin sekali kuhantamkan pukulan tinjuku ke wajah Yunus dan Ilham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah,…ternyata Ummat Nabi Luth masih tersisa di rumahku,..ampuni Hamba ya Allah,….” Yunus dan Ilham sontak kaget dengan teriakanku tepat di belakang mereka. Seketika mereka melepaskan pelukan yang begitu mesra dan hangat di depan mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku hancur tiada tara, air mataku semakin bercucuran mendapatiku Yunus suamiku yang sangat aku banggakan dalam hal agamanya, ternyata seorang homoseksual. Hatiku semakin hancur ketika kenyataan ini kudapatkan di rumahku sendiri di depan mataku sendiri dan mungkin telah terjadi berulang-ulang tanpa kusadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Yunus dan Ilham terlihat berang dengan sikapku yang mengganggu acara romantis mereka persis seperti seorang inteligen yang diam-diam melakukan sesuatu untuk mencari tahu kesalahan mereka. Aku tahu mereka akan marah padaku, bahkan mungkin akan melakukan hal bersifat kekerasan atas sikapku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam, terduduk lemas menyadari betapa tak berartinya aku di mata Yunus selama ini. Betapa tak menariknya aku selama ini di matanya. Dia bukan seorang yang lemah syahwat tapi dia seorang yang kelainan seksual. Betapa ku tak menyadari selama ini bahwa aku menikahi laki-laki yang masih turunannya ummat Nabi Luth as.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilham buru-buru keluar dan mengambil jaketnya lalu pergi, kulihat Yunus mengejarnya lalu berbisik di telinganya dan mengusap-usap  pundak Ilham perlahan sebelum mereka berpisah. Yunus duduk membelakangiku, dia hanya diam sambil memainkan jari-jarinya. Persis seperti seorang anak kecil yang telah melakukan sebuah kesalahan besar di depan orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa abang ga ngomong dari awal tentang masalah seks yang abang alami kepadaku??...” ku atur sedemikian rupa emosiku agar bisa bersikap lebih bijaksana dan memutuskan sesuatu dengan akal sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu ini aib buat abang, karena status abang sebagai seorang suami juga ditambah pekerjaan abang sebagai seorang penghulu, tapi jika dari awal abang mau berbagi hal ini ke aku mungkin aku tak akan sesakit ini menahan hati” yunus masih tetap diam tak bergeming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang,..mengapa selalu diam, bahkan sampai dengan saat inipun abang masih menganggap aku orang lain setelah hampir 2 tahun abang menikahiku tanpa memberikanku kebahagiaan apapun, aku mohon sekali ini saja kita saling berbagi. Aku akan menerima abang dengan ikhlas dan kita perbaiki ini sama-sama. Kita bisa ke phisikiater kita bisa ke dokter, asalkan abang mau berbagi ini denganku” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mataku semakin tak terbendung, kesedihan luar biasa menyayat hatiku. Aku benar-benar tak berharga di mata suamiku sendiri. Bahkan aku berusaha untuk menerima kenyataaan penyakit seksual suamiku sendiri karena aku ingin tetap mempertahankan pernikahanku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya kau tidak kunikahi dulu” akhirnya Yunus memecahkan kebisuannya dengan melepaskan beberapa kata atas pertanyaan-pertanyaanku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi sekarang aku istrimu bang,..kita bisa sama-sama ke dokter, ke ustadz atau kemana saja untuk mengobati ini” aku berusaha meyakinkan Yunus, bahwa aku menerimanya apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,..aku tahu selama ini aku sudah sangat menyakiti hatimu, aku tak ingin semakin menyakitimu lagi” kata-kata Yunus begitu datar tanpa beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa arti dari kata-katamu bang”,…aku mencoba mengartikan hal yang berbeda dari maksud ucapannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silahkan ajukan permohonan cerai, kau berhak mendapatkan kebahagiaanmu, jangan memaksakan hatimu untuk terus sakit berada di sampingku” yunus bangkit dari duduknya setelah kalimat terakhir diucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku begitu miris, mengapa seorang Yunus yang sangat faham agama masih tetap memilih menjadi pengikut ummat Nabi Luth yang dihancurkan Allah dengan batu-batu dari neraka lalu kemudian kotanya ditenggelamkan menjadi laut mati. Apakah imannya tak tergerak untuk takut akan murka Allah selanjutnya pada kaum &lt;em&gt;Guy&lt;/em&gt; yang akhir-akhir ini bukan hanya sebagai kelainan seksual tapi sudah menjadi trend hidup….&lt;em&gt;Na’udzuuubillahi min dzaliik&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mungkin memaksakan keinginanku pada keputusan Yunus yang lebih memilih bercerai dariku. Hampa kurasakan menyelinap di hatiku, ketika kenyataan ini harus ku telan sebagai pil pahit dalam kehidupanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang aku tak ingin meninggalkan Yunus, aku ingin dia kembali pada fitrahnya menyukai wanita bukan laki-laki. Tapi itu keputusan Yunus dia belum ingin memperbaiki ini semua. Bukankah keinginan berubah itu harus dari hati tanpa paksaan. Semoga dan semoga Yunus tak membiarkan penyakitnya ini semakin menghancurkan imannya. Bagaimanapun memilih mencintai sejenis bahkan memilih jalan tersebut sebagai trend hidup adalah sebuah dosa besar dalam islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpaku menatap surat akte perceraianku dengan Yunus, sampai sidang ketiga kemarin Yunus tak juga menampakkan batang hidungnya. Aku tahu ini sangat memalukan dan menjatuhkan reputasinya sebagai seorang kepala KUA. Tapi inilah jalan hidup yang ia pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak bercerai aku tak pernah melihatnya lagi, jabatannya sebagai KUA pun telah dicopot dan digantikan oleh pejabat baru. Yunus menghilang dari kotaku.  Ingin sekali aku menemuinya lagi, untuk mengatakan bahwa masih ada waktu untuk berubah dan bertaubat bukankah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat akan menggugurkan dosa-dosa yang telah lalu. Masih banyak psikiater yang bisa membantunya selama ia ingin memperbaiki ini semua. Namun aku juga tak ingin lupa mendoakannya semoga Allah membuka hati Yunus untuk kembali pada fithrahnya…amiiinnn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 24 Mei 2010&lt;br /&gt;Ummat Nabi Luth telah dibumihanguskan,..&lt;br /&gt;Apa kita ummat akhir jaman menjadi selanjutnya???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aida M Affandi&lt;br /&gt;www.warnawarnisisihati.blogspot.com&lt;br /&gt;www.scribd.com/aida_affandi&lt;br /&gt;www.infobunda.com/ummi_nazira&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-1938122104633658313?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/1938122104633658313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/05/bukan-wanita-kedua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/1938122104633658313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/1938122104633658313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/05/bukan-wanita-kedua.html' title='Bukan Wanita Kedua'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-2097672634262890563</id><published>2010-05-07T10:26:00.000-07:00</published><updated>2010-05-07T10:37:52.050-07:00</updated><title type='text'>Cinta Terlarang</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S-RP3jGfbwI/AAAAAAAAAEQ/MyEbW0SI698/s1600/sujud2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S-RP3jGfbwI/AAAAAAAAAEQ/MyEbW0SI698/s320/sujud2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468583663268491010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ku telanjangi wajahku dengan dosa&lt;br /&gt;Saat ku terlena akan sebuah cinta yang semu&lt;br /&gt;Ketika kusadar,…semua itu hanya ujian&lt;br /&gt;Ku kembali padaMu ya Rabb,..&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolak balik ku cek emailku, sesekali ku lirik handphone selularku. Masih sambil menatap layar komputerku yang memancarkan radiasi sehingga membuat mataku agak berair. Mengapa tak ada satupun balasan darinya gumamku. Apa dia belum membacanya, mengapa pesanku juga belum dibalas. Kemanakah gerangan laki-laki yang merenggut perhatianku kembali dalam beberapa bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalaku dipenuhi oleh sejuta tanya. Mengapa tiba-tiba dia menghilang dari hadapanku dengan cara seperti ini??, sejenak aku marah, tiba-tiba rasa posesifku memancar setelah selama ini kupendam karena  merasa bersalah pada seorang hati wanita yang telah memperbaiki sikapnya untuk mempertahankan suami yang sangat dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya hati seorang wanita yang telah kulukai, tapi aku juga telah menghancurkan kepercayaan suami dan anakku yang selalu mendambakan seorang ibu yang shalehah dari seorang diriku yang selama ini seolah telah mengorbankan kariernya untuk mengabdi pada keluarga kecil yang telah kami bina lima tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tit,..tit,..tit,..you’ve got email, tiba-tiba lamunanku terjaga oleh sebuah pesan yang masuk ke handphoneku. Firasatku mengatakan bahwa pesan ini balasan dari laki-laki yang kutunggu beberapa jam yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dear kekasih hatiku,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku mengungkapkan kebenaran ini sekarang, karena jujur aku tak sanggup sama sekali kehilanganmu, sampai kuungkapkan kebenaran ini pun aku tetap merasa berat jika harus kehilanganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa berdosa telah melakukan semua kesalahan ini. Apapun namanya atas nama cinta sekalipun, komunikasi cinta antara kita selama ini adalah sebuah kesalahan. Dalam tahajjud malamku aku menangis telah menyeretmu dalam kubangan dosa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mohon ikhlaskanlah semua ini berakhir, jika benar Allah membuat Plan B dalam hidup kita semuanya akan terlihat nyata di kemudian hari dengan cara yang halal. Aku tahu hal ini sangat menyiksa kita. Tapi bagaimanapun kita harus bisa mengakhiri semuanya dengan keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku doakan hidupmu akan selalu dalam kasih sayang Allah, karena aku menyayangimu. Kau bukan selir di hatiku, tapi kau adalah kekasih hatiku. Aku meminta padaNya agar salah satu bidadari syurga nanti adalah dirimu…amienn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warm regard&lt;br /&gt;Farhan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku panas menahan genangan air mata yang mengalir perlahan di pipiku. Ku gigit bibir bawahku merasakan perih di sudut hatiku, menahan sesak yang menyusupi sendi-sendi jiwaku. Email dari Farhan yang begitu menusuk-nusuk kesadaranku akan dosa yang telah kami lakukan selama ini. Aku menangis bukan karena kecewa telah kehilangan Farhan, tapi aku menangis mengapa Allah menghadirkan cinta di saat aku dan Farhan masing-masing sedang menjalani cinta bersama pasangan masing-masing dalam ikatan rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia ini sudah mau kiamat apa ya?” Randi mengumpat persis di depan wajahku. Randi sahabat terbaikku yang bekerja sebagai Hakim muda di pengadilan agama. Beberapa kali dia bercerita panjang lebar padaku tentang pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau kiamat gimana Ran?? Tanyaku hanya ingin tahu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini perceraian dimana-mana, dan masalahnya kebanyakan karena perselingkuhan. Yang suami godain anak gadis, yang istri godain mantan pacar. Belum lagi selingkuh uang dan lain-lainnya. Dunia benar-benar mau kiamat, iman manusia semakin diujung galah. Randi terus saja berbicara panjang lebar menjelaskan padaku tentang keheranannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener kan Fathiya, dunia mau kiamat?” tiba-tiba Randi memberikan pertanyaan itu padaku yang sempat membuatku gelagapan untuk menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh,..iya,..anggukku dalam, tak berani aku berbicara banyak jika permasalahannya adalah perselingkuhan. Aku merasa mukaku sedang ditampar dengan pertanyaan itu. Tengkukku dipaksa melototi lantai, tiba-tiba ingin rasanya kututup rapat-rapat wajahku karena menahan malu akan pertanyaan Randi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan suka main api,..ntar bisa jadi debu, jangan suka main hati,..nanti hati bisa beku menerima kebenaran ilahi. Kata Randi sambil berlalu dari hadapanku yang sedari tadi diam membisu memikirkan setiap kata yang diucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin berada dalam puncak kesalahan, tiap kali aku mengakui bahwa apa yang terjadi antara aku dan Farhan memang sebuah kesalahan besar. Terlalu banyak hati yang kami sakiti hanya untuk meraih cinta berselimut nafsu antara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan logika dan imanku yang membenarkan ini. Malah imanku yang selalu berlawanan dengan nafsuku yang memaksa hal ini terjadi. Terkadang imanku berkata, tinggalkan Farhan kau masih punya hidup yang jauh lebih baik daripada berada diantara jurang dan serangan rubah yang sewaktu-waktu akan membuatmu terjatuh ke jurang atau malah akan menjadi mangsa yang empuk. Dua-duanya akan berakibat buruk padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu hatiku yang lain berkata, apa salahnya dengan rasa ini. Bukankah aku dan Farhan saling mencintai. Cinta kami begitu suci, bahkan terlalu besar untuk dinafikan. Pergolakan bathin yang terus saja terjadi hampir setiap waktu ketika aku benar-benar merasa telah mengkhianati suami dan anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya mengkhianati keluarga kecilku saja. Aku merasa seperti seorang rubah betina yang menerkam mangsanya tanpa terduga-duga. Aku bahkan kenal baik dengan istrinya Farhan, bahkan terlalu sering aku mendengar curhatnya tentang Farhan kepadaku. Seolah-olah aku telah menjadi sahabat terbaiknya, aku mendengarkan dengan seksama, bahkan memberikannya saran semampuku. Sesekali aku merasa sakit dan cemburu, tapi sisi hatiku yang lain mengatakan bertahanlah atas apapun yang kurasakan pada Farhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir aku dan Farhan telah mengidap kelainan jiwa yang entah apa namanya. Ketika hubungan ini menjadi sebuah dosa, maka disitulah letak kenikmatannya. Bukankah itu sebuah penyakit kejiwaan yang serius. Kelainan jiwa seperti ini bahkan semakin menjalar ke setiap jiwa-jiwa yang lain dalam kehidupan akhir jaman. Buktinya pengadilan agama sibuk dengan kasus perceraian akibat perselingkuhan. Seolah-olah perselingkuhan bukan sebuah aib lagi pada jaman sekarang ini. &lt;em&gt;Na’udzubillahi min dzalikk…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Astaghfirullahaladzimmm,…&lt;/em&gt;ku usap wajahku yang sedari tadi mengenang percintaanku dengan Farhan. Kemana sudah kalahnya imanku dibandingkan dengan nafsuku yang semakin merajai logikaku. Apakah manusia akhir jaman semakin tidak malu memamerkan dosanya. Tiba-tiba air mataku jatuh perlahan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah yang salah dengan pernikahanku???,…jika kamu bertanya ada yang salah, maka akan selalu tampak kesalahan begitulah jawaban Randi yang mengusik alam sadarku ketika suatu kali aku memberi pernyataan bahwa setiap perselingkuhan selalu berawal dari sebab akibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kalimat yang mengatakan hal seperti ini, kau tidak bisa memaksa orang lain untuk melakukan seperti yang kamu mau, tapi kamu bisa memaksa dirimu sendiri untuk melakukan sesuatu yang orang lain inginkan. Dalam pernikahan memang selalu ada perbedaan, jika masing-masing pasangan benar-benar berniat memperbaiki dan melaksanakan inti dari kalimat itu, kemungkinan perselisihan bisa diminimalisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Randi memang jagoan dalam hal memberi pencerahan dalam rumah tangga. Terkadang aku iri melihat rumah tangganya yang senantiasa selalu terlihat harmonis, walaupun mungkin perbedaan kerap terjadi dalam kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana jika kericuhan rumah tangga diakibatkan campur tangan keluarga?? Tanyaku kemudian. Randi tersenyum kemudian menyeruput minuman cappuccino kesukaannya terlihat dia sangat menikmati minumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tergantung dari sikapmu dan suami. Analoginya seperti ini kamu punya kendaraan, suami adalah supir utama, istri dan anak-anak adalah penumpangnya. Arah tujuan dari kendaraanmu ditentukan oleh kebutuhan dan keinginan bersama. selanjutnya supir yang menjadi penunjuk jalan mengarahkan agar kendaraanmu berjalan dengan baik. Lalu tiba-tiba di tengah jalan kendaraanmu mogok. Yang boleh membantu tentu barang-barang seperti dongkrak, pompa angin dan tugas mereka hanya membantu tapi tidak ikut serta dalam menentukan tujuan perjalanan si pemilik kendaraan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya gampang saja ucap Randi tenang, selama kamu tak membiarkan pihak luar mengutak atik isi dari kendaraanmu dan bahkan sampai mengacaukan arah tujuanmu maka tak akan ada satupun yang mampu mengacaukannya. Setiap orang boleh memberikan saran tapi yang berhak mengambil sari kebaikan dari sebuah saran adalah kamu dan keluargamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analogi yang luar biasa dalam pikiran seorang Randi ketika dia mengibaratkan pernikahan adalah sebuah kendaraan.  Lagi menurut Randi, mau tidak mau seorang imam keluarga seharusnya dua kali lipat lebih kuat dari orang-orang yang diimaminya, dan seorang istri sebagai pendamping hidup harus memiliki dua kali tingkat kesabaran dalam mengelola kepentingan dalam rumah tangga. Masing-masing tidak menonjolkan diri atau membanggakan apa yang telah dilakukan. Cukuplah kesadaran masing-masing akan kewajiban sebagai suami ataupun istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan kalimat Randi kali ini begitu menggugah jiwaku. Teringat kembali sesosok wajah Farhan yang menemani hari-hariku belakangan ini. Aku bertanya, apa yang kucari dari seorang Farhan memang tak pernah kutemukan dari suamiku. Sehingga membuat aku semakin ingin memiliki Farhan. Ketika Farhan jauh lebih shaleh dalam kapasitasnya sebagai seorang muslim benar-benar telah membuatku jatuh cinta tiada tara padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena keshalehannya pula dia meninggalkanku, melupakan kenangan cinta kami dulu yang mulai terajut sejenak. Bukankah wanita baik untuk laki-laki yang baik pula dan wanita pezina untuk laki-laki pezina pula??...aku diam, kali ini mematut wajahku di cermin, melihat apa yang telah aku lakukan selama ini &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku baca kembali isi email Farhan yang menyayat hatiku itu. Sebuah bisikan syaithan tak akan membiarkan aku menerima keputusan Farhan yang sepihak meninggalkanku. Jika kuturuti bisa saja akan ku bongkar perselingkuhan ini pada istrinya, tapi apa yang kudapatkan setelah itu hanya dosa dan dosa lagi dan akhirnya aku kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berat memang menafikan sebuah cinta yang bercokol kuat di hati, apalagi jika yang dicintai adalah seseorang yang selalu mengingatkanmu untuk melakukan kebaikan. Aku pikir Farhan mengakhiri ini karena tak ingin mencampur sesuatu yang bersifat maksiat dengan yang bersifat kebaikan. Bagaimana mungkin kotoran dicampur madu, pada akhirnya tetap akan menjadi najis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,…Ya Rabb,..ampuni hamba, biarkanlah cinta ini pergi perlahan tanpa hamba memaksanya, biarkanlah sisa-sisa perih ini digantikan oleh ketulusan hamba untuk lebih mencintaiMu, biarkanlah semua pergi agar tak berlanjut menjadi penyesalan seumur hidupku dan Farhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku balas email Farhan dengan uraian air mata di pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dear Farhan,..&lt;br /&gt;Jujur dalam hatiku sangat perih menerima keputusanmu. Tapi sebagai seorang yang faham agama, tentu ini menjadi ukuran kau menuruti hawa nafsumu atau tidak. Aku sadar kondisi yang kita alami selama ini hanya mendatangkan ketaknyamanan dalam hati dan ibadah kita karena semua ini adalah dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekuatan hatiku yang tak seberapa ini, aku ikhlaskan semua telah berakhir antara kita, mulai hari ini dan selanjutnya. Semoga Allah mengampuni kekhilafanku selama ini…Amiiinnn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regard&lt;br /&gt;Fathya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Untuk seorang sahabat,..&lt;br /&gt;Kata merpati,..tak selamanya selingkuh itu indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 30 April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aida Maslamah&lt;br /&gt;www.warnawarnisisihati.blogspot.com&lt;br /&gt;www.scribd.com/aida_affandi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-2097672634262890563?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/2097672634262890563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/05/cinta-terlarang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/2097672634262890563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/2097672634262890563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/05/cinta-terlarang.html' title='Cinta Terlarang'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S-RP3jGfbwI/AAAAAAAAAEQ/MyEbW0SI698/s72-c/sujud2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-8039660981579220879</id><published>2010-03-28T00:23:00.000-07:00</published><updated>2010-03-28T00:32:43.906-07:00</updated><title type='text'>Kisah Cinta Wanita Rupawan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S68GDO4njWI/AAAAAAAAAEI/UlYFBPTvMkU/s1600/disini_kita_berpisah1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 212px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S68GDO4njWI/AAAAAAAAAEI/UlYFBPTvMkU/s320/disini_kita_berpisah1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453584326373903714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat –Hamka&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu duduk tepat di sampingku, perutnya yang kelihatan membuncit dapat dipastikan wanita itu sedang hamil. Wajahnya manis, matanya indah aku mengagumi kecantikannya perpaduan wajah melayu oriental dan arab. Tak jarang aku mencoba sesekali mencuri-curi pandang ke arahnya setiap kali kami bertemu di ruang tunggu pemeriksaan kandungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali jadwal pemeriksaan kandungan kami selalu bersamaan. Wanita itu selalu datang sendiri, lalu duduk di sudut ruangan sambil membaca sebuah buku atau Qur’an. Sesekali aku melirik apa judul setiap buku yang dibacanya. Selalu berubah, ternyata wanita itu melumat semua jenis buku tidak terpaku pada sastra saja atau politik saja misalnya. Beberapa kali dia tersenyum padaku, ketika mengucapkan permisi duduk di bangku kosong di sebelahku. Semenjak itu pula aku selalu berusaha memulai sebuah percakapan antara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah trimester berapa mba??” tanyaku membuka percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Trimester kedua mba, masuk bulan keenam” jawab wanita itu dengan senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh,..sama dunk dengan saya timpalku kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamil anak pertama juga mba??” tanyaku lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kedua,..jawabnya lagi masih mengembangkan senyumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohya,..saya pikir anak pertama juga... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hasil USGnya laki-laki atau perempuan mba” aku kembali bertanya, masih ku tatap mata indahnya. Aku belum menemukan sebuah tanda kurang berkenan dari sorot matanya yang bening. Jadi tetap saja ku lanjutkan bertanya. Entah mengapa aku semakin ingin tahu tentang wanita ini, senyumnya sering menimbulkan tanya. Kembali ennegramku yang dominan pengamat beraksi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak pertama saya perempuan, kalau yang ini kata obgynnya seh laki-laki. Kalau mba hasil USG nya apa?” sekarang wanita itu mulai membuka pembicaraan dua arah denganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dokter bilang laki-laki juga mba, tapi saya pengalaman hamil yang pertama ne” aku melirik ke arahnya mencoba mencari kesamaan dari pernyataanku dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamil yang pertama saya terpaksa melahirkan dengan tindakan cesar, karena sudah tidak ada pembukaan dan bayi saya terlalu besar, tapi alhamdulillah semua sehat-sehat saja, sekarang umurnya sudah 3 tahun cantik dan cerdas lagi” aku menangkap ada nada bangga di balik ucapan wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohya, pasti seneng banget ya mba” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ucap wanita itu datar lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi saya hanya bisa melihatnya 3 bulan sekali itupun kalo ada kesempatan, karena dia ikut papanya di jakarta” sambung wanita itu kemudian. Sorot matanya yang tajam menunjukkan sesuatu yang bermakna hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehhhmmm,..konsekuensi dari pekerjaan ya mba” ujarku dengan percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan karena pekerjaan, tapi akibat perceraian, pengadilan memutuskan anak saya diasuh oleh bapaknya” aku terdiam mendengar pengakuan wanita yang rupawan ini. Wanita secantik ini bisa diceraikan juga pikirku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, maaf mba…saya ga bermaksud mengingatkan mba kepada kisah itu” aku mencoba mengalihkan pembicaraan kami dengan menyodorkan minuman dingin padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa, sudah berlalu kok setengah tahun yang lalu” ucap wanita itu sambil mengambil botol minuman yang kusodorkan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah tahun yang lalu?? Baru enam bulan yang lalu berarti massa iddahnya baru berlalu kurang dari dua bulan yang lalu karena massa iddah seorang wanita adalah empat bulan.  Ingin sekali aku bertanya jika perceraian itu sudah enam bulan yang lalu. Lalu apakah sekarang wanita ini sudah menikah lagi?? Atau mungkin kehamilan ini hasil dari pernikahannya terdahulu?? Tapi kuurungkan niatku bertanya, aku tak ingin terlalu dalam ingin mengetahui kehidupannya, kecuali jika dia berinisiatif untuk menceritakannya padaku kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, sampai lupa kenalkan nama saya Almira” ku sodorkan tanganku ke arah wanita itu, yang langsung disambut hangat olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aurora, panggil saja Rora ucapnya lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian perkenalanku dengan wanita yang menarik perhatianku itu. Wajahnya yang cantik, senyuman yang menghiasi bibirnya yang selalu membuatku ingin mengetahui siapa dia. Entah mengapa ketika berawal dari proses mengamati segala hal, terutama tentang kehidupan wanita lain di luar hidupku. Banyak hikmah di balik kisah hidup setiap orang,  mendengar banyak kisah selalu membuatku tak henti-hentinya bersyukur atas apa yang Allah berikan padaku sampai dengan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dua bulan aku menjadi sahabat baru Rora, komunikasi antara kami tidak hanya di ruang tunggu pemeriksaan kandungan, tapi juga berlanjut di telpon selular dan email. Kedekatan itu terjadi begitu saja, mungkin karena kami berdua sama-sama datang sendiri tanpa suami, Rora memang hanya datang seorang diri, sementara aku terpaksa datang sendiri memeriksakan kandunganku karena suamiku bekerja di luar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku yang salah Mir,..” Rora sesenggukan menahan air matanya yang jatuh berlinang tak tertahankan lagi. Matanya yang bening berubah keruh dan memerah. Aku menatapnya dengan sendu dan haru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku yang sudah membuat perceraian itu terjadi, aku telah menduakannya, aku menyelingkuhinya dalam hatiku,…” Rora semakin tak sanggup menahan lara yang menyesakkan dadanya saat menceritakan kembali kisah cintanya dulu pada pernikahannya yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku merasa belum cukup dewasa dalam bersikap, aku hanya memikirkan apa yang ada di depanku saja, apa yang ada di fikiranku saat itu. Bahkan aku berani menduakan cinta suami yang sangat kucintai”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa bisa begitu mba” tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rora menarik nafas dalam, menatapku lekat masih dengan buraian air mata. Dadanya bergerak naik turun menahan emosi yang berlebihan. Seperti mengumpulkan seluruh kekuatan  dalam sebuah start pertandingan sprint atau lari jarak pendek saat dia mulai berbagi kisahnya itu denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kilas Balik&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir pernikahanku sangat indah. Setiap hari yang aku lalui penuh dengan kata cinta. &lt;br /&gt;Namun ternyata tembang cinta dalam kehidupan berumah tangga itu tak selamanya indah sesuai irama, terkadang terdengar sumbang, terkadang sering terdengar keluar jalur tangga nada. Tapi begitulah hidup berumah tangga, ada dua kepala yang berbeda latar belakang sifat, didikan dan sebagainya dipertemukan menjadi satu. Tentu terkadang benturan itu hadir tanpa diminta sekalipun. Ibarat sendok dan garpu yang bertemu dalam sebuah piring makan, sesekali akan berbenturan nyaring satu sama lainnya, begitulah juga sebuah pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak menikah aku diboyong ke kota dimana tempat suamiku bekerja dan dilahirkan. Aku pun berhenti bekerja demi bisa hidup bersama-sama di satu kota agar lebih mendapat ketenangan. Awalnya aku ngotot untuk tetap bekerja di kota asalku, tapi mengingat pesan seorang sahabat yang mengatakan bahwa salah satu ciri keluarga sakinah itu adalah selalu bersama, tidak berbeda tempat dalam waktu yang lama. Akhirnya aku mengalah untuk ikut saja, lagi pula aku dan suami ingin segera punya momongan, bagaimana mau cepat dapat momongan jika kami berpisah terus pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tak semuanya indah seperti yang kita harapkan. Aku ikut suami dan  tinggal di rumah mertuaku. Berawal dari rasa khawatir jika ibu mertuaku yang sudah melewati usia 60 tahun harus tinggal sendirian di rumah, akhirnya tinggallah kami serumah dengan ibu mertuaku. Dengan adanya aku di rumah, diharapkan bisa menemani beliau ya paling tidak untuk ke pengajian dan teman ngobrol di saat senggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat hafal ketika pak ustadz berbicara berulang kali di pengajian. Bahwa manusia itu ibarat lingkaran, kondisinya akan terus berputar seperti sedia kala. Saat bayi di lahirkan tanpa kemampuan untuk duduk, berjalan dan sebagainya. Kemudian kondisi itu juga akan hadir kembali ketika usia telah lanjut. Barang siapa yang dipanjangkan umurnya maka akan dikurangi nikmat fisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena seiring pertambahan umur tadi maka semakin berkurang nikmat fisik dan kemampuannya pula, maka tak jarang orang yang sudah tua akan cenderung lebih cerewet daripada saat dia masih muda. Awal-awalnya aku mencoba memahami itu, bersikap sabar dengan kondisi ini. Tapi lama kelamaan aku pikir kondisi ini semakin tidak sehat terutama untuk rumah tangga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak bisa dipungkiri perasaan seorang ibu yang selalu berupaya melindungi anaknya. &lt;br /&gt;Tak jarang yang merasa bahwa anaknya tetaplah seperti anak kecil di mata seorang ibu, padahal si anak sudah beranjak dewasa, sudah memiliki tanggung jawab atas anak dan istrinya pula. Namun tetap saja pikiran seorang ibu ingin mengayomi anaknya, takut kehilangan anaknya. Sehingga segala sesuatu seorang ibu cendrung ingin diikut sertakan dalam kehidupan anaknya bahkan terkadang keinginan itu melebar ke segala hal yang semestinya tidak perlu dijangkau oleh seorang orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin sekali aku melepaskan beban bathinku yang terus saja kupendam. Hidup dengan segala kecukupan di rumah mertua tak serta merta membuat hatiku tenang. Jika boleh memilih tinggal di rumah kontrakan yang hanya memiliki satu kamar sajapun bukan masalah buatku, apalagi aku bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Jadi bersusah-susah bukanlah hal yang aku hindari dalam hidup ini. Hal ini sangat kontras dengan suamiku yang sudah terbiasa dimanjakan oleh kedua orangtuanya. Bagaimanapun aku pun tak bisa menyalahkannya, aku hanya bisa berulang kali meyakinkannya bahwa suatu saat kami mampu mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun, dua tahun, tiga tahun telah berlalu namun tak ada yang berubah. Aku kembali menahan perasaanku hampir tanpa keluhan, ibu mertuaku tetap ikut campur dari hal-hal yang kecil tentang rumah tangga kami bahkan hingga ke urusan pengaturan keuangan. Aku semakin tertekan dengan sikap suami ku yang sangat sensitif setiap kali mengajaknya membicarakan tentang rencana mengontrak rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi seperti ini terus saja berjalan tanpa penyelesaian. Aku sadar kondisi seperti ini semakin memperparah hubungan kami. Kondisi seperti ini jika semakin dipupuk tentu semakin menimbulkan penyakit, laksana bisul yang semakin lama semakin membesar dan siap meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersabarlah,..sebagai anak tentu harus lebih sabar dari orangtuanya” hanya itu yang dikatakan suamiku tiap kali aku merasa kurang nyaman dengan sikap mertuaku, ya bersabar hanya itu yang aku lakukan. Berulang kali aku membaca surah Al-Hasyr ayat 10 dan surah Ali Imran ayat 159 ketika rasa kesal itu semakin hadir di hatiku. Berulang kali aku membacanya sehingga aku sudah hafal dengan artinya bahkan. Namun bagaimanapun penyakit tetap harus dicari obatnya, tidak mendiamkannya tanpa ada penanganan, seperti sel kanker yang tak terdeteksi perlahan-lahan namun pasti membayangi nyawa manusia.&lt;br /&gt;Apakah hanya itu masalah dalam rumah tanggaku?? Tidak,..bukan hanya itu. Aku menyadari ada yang salah dalam komunikasi kami yang hampir hanya berlangsung lewat telpon saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan suamiku yang menjadi sosok pendiam ketika sudah tiba di rumah sehingga membuat hubungan kami hanya sebatas mengucapkan hai dan hello. Suamiku sering pulang di atas jam 9 malam bahkan lebih, dia lebih senang menghabiskan waktunya dengan makan dan menonton telivisi berjam-jam. Aku merasa ketika di rumah dia enggan bercerita  banyak, lalu membiarkan aku dan anaknya tidur. Keesokan harinya dia kembali bekerja dan begitu lagi dan begitu lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ingin membenarkan apa yang aku lakukan. Karena bagaimanapun perselingkuhan tetap haram dalam sebuah pernikahan. aku membagi resahku dengan laki-laki lain bukan suamiku setelah mencoba membicarakan segala hal dengannya tanpa mendapatkan solusi yang tepat dan baik untuk kami semua. Seharusnya aku tidak lelah untuk membina komunikasi tapi aku terlanjur lelah sehingga perselingkuhan itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai masalah komunikasi antara kami, lagi-lagi kesedihan hatiku ditambah dengan perlakuan suamiku yang sama sekali berubah. Suamiku tak pernah memberikan nafkah batin untukku lagi semenjak kehamilan anak pertamaku. Aku tak pernah menyadari ketika tanpa kebutuhan biologis antara kami benar-benar memberikan perubahan dan akibat yang sangat hebat dalam rumah tangga kami. Aku yakin semua telinga yang mendengar hal ini akan menyatakan hal yang sama, ada apakah gerangan di balik semua ini???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Fiqh Islam hal ini bisa dikategorikan dengan ILA’ atau sengketa batin adalah ketika seorang suami yang bersumpah tak akan menggauli istrinya dalam waktu yang tidak ditentukan. Sumpah ini bisa diucapkan di depan banyak orang ataupun tidak diucapkan tapi dilakukan secara diam-diam kepada istrinya. Ya, suamiku tak pernah memberikanku nafkah batin selama setahun semenjak aku hamil anak pertama kami, kemudian setelah anak kami lahir kondisi itu juga tidak berubah. Dia menggauliku hanya di saat dia ingin menggauliku saja, terkadang 5 bulan sekali, terkadang 3 bulan sekali.&lt;br /&gt;Kondisi ini semakin memperparah kejiwaanku. Aku berubah menjadi pendiam dan tegang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya hilang sudah rasa maluku untuk meminta digauli selayaknya seorang istri. Tak jarang aku menutup wajahku dengan bantal menahan tangisku saat dia berkali-kali menolak mencumbuiku. Ku lebur hasratku dengan berpuasa sunnah untuk menahan hal-hal yang tak diinginkan karena kebutuhan biologisku yang tak kunjung dipenuhi. Sungguh tersiksa rasanya ketika intuisiku sebagai istri mengatakan suamiku tak pernah menginginkanku lagi. Seperti boneka usang yang tak terlalu menarik lagi untuk diajak bermain, akhirnya aku hanya dipajang, jika suatu kali bosan dengan boneka yang lain maka dia akan mengajakku kembali untuk bersenda gurau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak,..aku tidak tahu apakah suamiku mendua hati di luar sana. Aku juga tak pernah mencari tahu walaupun terkadang terbaca olehku kata-kata cinta dari seorang wanita. Tapi lagi-lagi aku tak ingin memikirkannya, walaupun aku sempat merasakan cemburu dan rasa sakit yang menjalar sejenak di hatiku. Kembali aku ingat kata-kata suamiku seperti sebuah sugesti tertanam tepat dalam memory ingatanku “aku mencintai anakku, berarti aku juga mencintai ibunya, apapun yang terjadi aku tak akan menyakiti istri dan anakku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku akui kata-kata itu seperti sebuah hipnotis untukku agar selalu percaya padanya. Aku tak pernah berfikir bahwa dia berlaku aneh di belakangku, atau dia menyelingkuhiku atau bahkan telah menikah di belakangku dengan cara nikah sirri. Sama sekali aku tak ingin memikirkannya walaupun dia tak kunjung memberikanku nafkah batin. Aku masih berusaha untuk sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari aku bertanya pada seorang ustadz. Apa sebenarnya hukum jika suami tak pernah menggauli istrinya lagi?? Dengan panjang lebar pak ustadz menjelaskannya padaku. ILA’ hanya boleh dilakukan oleh suami apabila istri melakukan kesalahan, tapi dalam waktu 4 bulan harus kembali berbaikan jika si istri sudah berubah menjadi baik atau jika tidak bisa dilanjutkan dengan perceraian. Yang kedua jika ILA’ terjadi karena suami tidak mau menggauli istri atau dalam kondisi tidak mampu menggauli maka boleh diajukan permohonan cerai atau si istri bisa bersabar dengan sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdiam aku mendengar penjelasan pak ustadz. Bercerai?? Ah, tidak boleh sejauh itu. Mungkin saja suamiku kelelahan jawab hatiku karena begitulah selalu jawaban yang ku peroleh tiap kali aku bertanya mengapa dia tak menggauliku lagi, tapi mengapa kelelahan terus saja berbulan-bulan??timpal hatiku yang lain pula. Bukankah aku juga lelah mengurusi rumah dan anak seorang diri tanpa pembantu pula?? Tapi aku tetap ingin melaksanakan tugasku sebagai istri yang melayaninya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah kutemukan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud dikatakan bahwa jika seorang istri menolak digauli oleh suaminya maka wanita itu akan dilaknat Allah. Ingin sekali aku memperoleh keterangan jika kondisinya dibalikkan. Bagaimana jika suami yang menolak ajakan istrinya, apakah si suami juga akan dilaknat Allah??...namun aku tak pernah menemukan satupun hadist yang menggambarkan kondisi sebaliknya. Akhirnya aku hanya menenangkan hatiku dengan mengatakan bahwa suami yang terbaik adalah yang memperlakukan istrinya dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku buang jauh-jauh setiap tanya dan kemungkinan dalam hatiku. Walaupun akhirnya aku merasa bahwa suamiku seperti tak tertarik lagi padaku atau bahkan tak menginginkanku lagi. Hanya lelahkah?? Dulu bagiku jawaban itu sudah cukup, suamiku lelah maka aku harus mengerti. Aku terlalu malu meminta lagi ketika setiap kali ditolaknya, akhirnya aku hanya diam dan pasrah menunggu kapan dia akan mendekatiku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring waktu tahun keempat sudah pernikahan kami, aku mulai merasakan kejenuhan itu. &lt;br /&gt;Tanpa ada kemesraan, tanpa komunikasi dua arah. Tak ada kondisi saling berbagi cerita lagi, semua itu hilang entah kemana seperti asap yang mengepul ke atas hilang bersama partikel-partikel udara. Tapi aku tak mau kalah dengan keadaan ini, aku tetap ingin mempertahankan pernikahanku sampai seseorang yang berada di masalaluku kembali hadir lagi menghiasi hari-hariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu mantan pacarku, dulu kami pernah hampir menikah. Aku memperoleh nomer telponnya lewat jejaring pertemanan di internet dari seorang sahabat lama kami. Semua berawal dari sebuah pesan singkat lalu berlanjut di telpon. Akhirnya komunikasi itu semakin lancar ketika kami berdua sama-sama mencurahkan isi hati dari masalah-masalah dalam rumah tangga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku tak ingin menyatakan ini benar. Bagaimanapun masalah rumahtangga cukuplah hanya diselesaikan oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Aku sadar aku salah, tapi nafsu terlalu memasung hasratku untuk melangkah dalam jalur yang tidak benar. Kehadiran laki-laki itu seperti menutupi kesedihan yang kurasakan selama menjadi istri yang tersia-siakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kami hanya berlangsung lewat telpon. Tak pernah sekalipun aku bertemu dengannya, semua pembicaraan kami selalu disampaikan via telpon atau email. Ketika masalah hadir aku cepat-cepat mencarinya untuk berbagi. Awal-awalnya semua biasa saja, tapi lama kelamaan sisa-sisa cinta di masalalu antara kami akhirnya berkuncup juga bahkan mulai mekar seolah-olah tak perduli di antara kami ada terlalu banyak alasan untuk mengakhiri semua kisah lalu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perselingkuhan via telpon itu berlangsung enam bulan sudah. Perasaanku padanya semakin menggebu-gebu di tengah hubunganku dengan suami yang semakin rumit. Aku tahu, ini bukan alasan atas legalisasi perselingkuhan. Bagaimanapun semua ini harus diakhiri ucapku dalam hati. Kupaksakan hatiku untuk mengakhiri semuanya, kembali ku ingat romantisme saat pertama kali menjadi pengantin baru. Kembali ku buka foto-foto ku dan suami saat masih pacaran dulu, ku coba mengingat kembali bahwa kami juga pernah merasakan bahagia itu dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku tak ingin hubungan ini terlalu jauh, aku harap kau mengerti. Walaupun ada yang salah dengan pernikahan kita masing-masing, tapi aku sangat sadar hubungan lain yang terajut di tengah badai rumah tangga juga merupakan kesalahan terbesar” ku akhiri emailku buat sang mantan kekasihku dulu. Semua harus berakhir, sekarang juga tekadku di hati. Memang sejak saat itu tak ada komunikasi apapun antara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu bagiku setiap permasalahan apapun itu pasti ada jalan keluarnya. Tapi perselingkuhan memiliki tingkat penanganan yang lebih serius, ketika berselingkuh akan ada perbandingan antara pria idaman lain dengan suami sendiri. Terkadang nafsu dan syaitan terlalu pandai memainkan perasaan manusia, padahal belum tentu apa yang kita inginkan akan indah seperti yang kita bayangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ini….” Suamiku melemparkan handphoneku di atas kasur sebelum aku beranjak tidur. &lt;br /&gt;Aku hanya diam saat matanya melotot menahan marah yang menyelubungi setiap sendi tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang juga,…bereskan pakaianmu, keluar dari rumahku” aku menatap tak percaya atas apa yang dia lakukan, ini sudah jam 11 malam, aku harus kemana dengan tanpa uang dan tanpa saudara seorangpun di kota ini. Bukankah dalam kelam malam selalu ada kejahatan yang tersembunyi, lalu bagaimana dia tega mengusirku di tengah malam seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sujud tersungkur di kaki laki-laki yang dulu pernah membahagiakanku. Sekarang tanpa bertanya banyak, tanpa meminta penjelasan dariku dia mengusirku dengan cara yang sangat hina. Mungkin benar aku tak pernah pantas mendapatkan kata maaf, tapi seburuk apapun yang telah aku lakukan, bukan berarti dia boleh bentindak semena-mena padaku. Bukankah dulu dia mengambilku dari kedua tangan orangtuaku dengan cara yang baik, lalu mengapa dia ingin mengembalikanku tanpa mengantarkannya kembali dengan cara yang baik pula??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dengungan cinta yang membahana ruang hati kami dahulu telah sirna atau mungkin suamiku merasa terhina atas perselingkuhanku. Entahlah apapun alasannya, aku merasa perlakuannya kali ini lebih menyakitkan daripada alphanya dia memberikanku nafkah bathin. Masih beruraian air mata, perlahan kumasukkan beberapa baju ke dalam tas besar lalu memasukkan juga beberapa baju anakku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,…baju Wiena tidak boleh dibawa, dia akan tetap di sini bersamaku bukan bersama ibu yang tak tahu diri seperti dirimu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata suamiku begitu tajam kurasakan menyayat hatiku. Apakah aku harus membela diri dengan mengatakan aku menyesal dan aku telah mengakhiri hubungan dengan mantan pacarku karena ingin mempertahankan pernikahan kami??? Apakah dia masih mau mendengarkan ketika cinta yang menyatukan kami telah lenyap dalam pekatnya amarah..., Tuhan mungkin punya rencana yang lain, suamiku menendangku dari ikatan yang menyatukan kami. Bahkan dengan teganya dia memisahkan aku dari anak yang sangat kusayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ingin membela diriku, karena mungkin aku tak punya hak untuk membela diri. &lt;br /&gt;Dengan segala keresahanku ku tampung semua duka hatiku ketika kukuatkan hati bahwa aku telah diceraikan dengan cara yang sangat menyakitkan. Apakah dia akan mendengarkan bahwa aku tersiksa dengan semua perlakuannya selama ini????... Apakah dia mau tahu penyebab dari semua ini???..ingin sekali aku meneriakkan di wajahnya dimana janjinya yang ingin membawaku ke syurga?? Dimana janjinya untuk selalu bisa menjadi imam dalam shalat jama’ah kami, dimana janjinya untuk bisa membangunkanku tahajjud bersama??...aku hanya diam ketika dia mengusirku dengan segala ketakberdayaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulangkahkan kakiku bersama hancurnya tiap keping jiwaku, kukecup lembut kening anak semata wayangku yang masih tertidur pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan bunda sayang,…bunda bertahan untukmu, tapi bunda tak berdaya untuk membawamu serta,..bunda Cinta Wiena” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku benar-benar bisa merasakan bagaimana rasanya tanpa arti lagi. Langkah gontaiku di pekat malam semakin membuat kesendirian ini begitu terasa. Aku istri yang tak berbudi, aku ibu yang tak bertanggung jawab. Semua kata-kata itu seperti bayangan gelap mencekam yang membuntuti setiap langkahku. Aku telah tercampakkan, sangat dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kutatap bayanganku dalam redup lampu-lampu rumah yang menerangi mata kakiku untuk melangkah. Langit hitam, tanpa bintang dan bulan. Tak seorang pun yang menahanku untuk pergi. Semua diam, hanya isak tangisku saja yang kudengar hingga menembus kepekatan malam yang lengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ku tatap duniaku lagi yang memandangku penuh benci ketika hembusan perselingkuhan itu menjadi topik utama dalam sidang perceraian kami. Semua melihat akibatnya tanpa mencari penyebabnya. Harus ku kemanakan hatiku jika bukan karena iman aku sudah meminta Allah mencabut nyawaku. Karena isu perselingkuhan itu pula, hak asuh anak semata wayangku jatuh pada suamiku. Serasa dunia kiamat di depanku, serasa beribu gunung yang runtuh di depanku seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seburuk apapun aku akan bangkit, sekeras apapun terjangan itu aku harus kuat. Terakhir kali suamiku menggauliku ternyata membuahkan seorang janin di kandunganku. Tapi lagi-lagi aku harus dua kali lebih sabar dan kuat ketika anak yang ku kandung dianggap menjadi insan yang tak diinginkan ayahnya karena menurut suamiku janin yang kukandung bukan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengkap sudah penderitaanku, ku kepakkan sayap lemahku demi anak yang dititipkan Allah padaku. Aku hanya ingin menjadi ibu yang shaleh. Aku hanya ingin membahagiakan anakku, walaupun mati-matian ku kumpulkan setiap pundi-pundi ketegaranku. Bagaimanapun aku hanya manusia biasa, wanita biasa yang terkadang lemah jika diterjang dari segala arah, terkadang sayapku juga terasa sakit akibat patah kena hantaman kehidupan. Tapi aku harus bangkit, tak ada gunanya meratapi yang lalu hanya akan menyisakan perih yang tak pernah usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aurora masih terisak dalam pelukanku, aku bisa merasakan beban berat yang dia pikul sendiri saat ini. Tubuhnya berguncang hebat menahan air mata yang mengalir. Ku tatap ada sorot mata penyesalan, tapi aku juga melihat ada sorot kelegaan. Antara menyesal telah melakukan sebuah kesalahan dengan kelegaan terlepas dari beban bathin yang telah menghadangnya selama berumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mira,…menurutmu apa aku ibu yang baik??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku anggukkan kepalaku sambil memberikan sapu tangan pada Rora. Sebersit aku menatap kagum pada wanita satu ini. Beban hidupnya begitu berat, kenyataan hidupnya begitu pahit untuk dipikul sendiri. Bukankah Allah Maha Pengampun atas setiap dosa yang dilakukan?? Bukankah Allah Maha Penyayang sehingga Rora mampu menjalani ini semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setiap hati memiliki cara merasakan masing-masing pada setiap masalah. Mungkin Rora salah telah berselingkuh lewat dunia maya, tapi bukan berarti suaminya juga suami yang baik untuk seorang Rora. Tak ada seorangpun yang tahu bagaimana aib itu tersingkap dan tersimpan dengan baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diam aku menatap sajadah panjangku setelah menghabiskan bacaan surah Ar-rahman. Wahai yang Maha Sayang,..sayangilah hamba dan suami hamba untuk selalu berjuang mempertahankan pernikahan kami dalam kasih dan sayang. Wahai yang Maha Pengasih Kasihilah wanita-wanita yang teraniaya hatinya, ampunilah khilafnya dalam sebuah tabir penyesalan,..Amiennn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Wanita yang menghampiriku&lt;br /&gt;Dengan genangan air mata&lt;br /&gt;Ahris Nafsaka anittadbir (Ringankanlah dirimu atas apa yang menjadi kehendakNya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 28 Maret 2010&lt;br /&gt;Aida affandi&lt;br /&gt;www.warnawarnisisihati.blogspot.com&lt;br /&gt;www.scribd.com/aida_affandi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-8039660981579220879?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/8039660981579220879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/03/kisah-cinta-wanita-rupawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/8039660981579220879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/8039660981579220879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/03/kisah-cinta-wanita-rupawan.html' title='Kisah Cinta Wanita Rupawan'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S68GDO4njWI/AAAAAAAAAEI/UlYFBPTvMkU/s72-c/disini_kita_berpisah1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-961324157909670523</id><published>2010-03-19T00:45:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T00:53:16.123-07:00</updated><title type='text'>Wanita Kedua Itu Sahabatku</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S6MtQoa4mUI/AAAAAAAAADg/HpPhySG68Ao/s1600-h/true_friendship.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 208px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S6MtQoa4mUI/AAAAAAAAADg/HpPhySG68Ao/s320/true_friendship.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450249737799768386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;aku bertanya padamu,….&lt;br /&gt;Bukankah sahabat berarti berbagi, peduli dan memaafkan sahabatnya??&lt;br /&gt;Tapi kau menjawabnya,…&lt;br /&gt;Sahabat berarti berbagi, peduli dan mengambil orang yang dicintai sahabatnya,..&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka tetaplah sebuah luka, walaupun telah ditelan waktu sekalipun mungkin luka itu masih tetap tersisa di hati. Dulu ku pikir meminta maaf adalah sesuatu hal yang sulit untuk di lakukan, namun ternyata berada di posisi memberi maaf tanpa menyisakan perih dan dendam jauh lebih sulit dari apapun. Namun akhirnya aku sadar itulah sejatinya perjuangan sebuah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti bebatuan yang jatuh tepat  di ubun-ubun kepalaku laksana siksaan batu neraka yang dikirimkan Allah untuk ummat Nabi Luth. Dalam keadaan berjuang hidup dan mati, aku benar-benar tak percaya, ketika aku mendapati kenyataan bahwa wanita yang telah bertahun-tahun menjadi sahabatku menambatkan hatinya pada seorang laki-laki yang justru adalah suamiku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun yang lalu saat di sebuah training pengembangan diri aku bertemu dengan Shinta. Seperti seorang gadis kecil sikapnya sangat manja, mungkin karena umur kami yang terpaut 5 tahun. Shinta memang lebih muda dariku, tapi entah mengapa antara kami hadir sebuah kecocokan hingga terjalin persahabatan itu. Mungkin karena sikapku yang berperan sebagai kakak dan shinta sebagai adik yang manis.&lt;br /&gt;Shinta memang seperti malaikat, dia selalu ada di saat aku sangat membutuhkannya bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Bak seorang ibu peri dengan tongkat ajaibnya dia membuat anak-anakku jatuh hati padanya. Setiap pulang dari tempatnya bekerja Shinta selalu menyempatkan mampir ke rumahku hanya untuk membawakan mainan dan kroket  kesukaan anak-anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus aku katakan, wanita ini memang mampu mengalihkan perhatian semua orang karena kebaikan hatinya. Ya, Shinta bukan hanya baik tapi aku pikir Shinta juga sedikit berbeda, di saat yang lain membenarkan apa yang aku lakukan, tapi Shinta selalu menjadi sisi yang menunjukkan aku arah yang benar. Yah, aku pikir memang semestinya seorang sahabat menunjukkan sesuatu yang benar bukan selalu membenarkan apa yang kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada satupun yang menyangka bahwa persahabatan kami akan berakhir seperti ini. Tak terfikirkan olehku bahwa wanita yang childish itu mampu menaklukkan semuanya. Tak terfikirkan olehku bahwa wajah yang seolah-olah tanpa dosa itu mampu memporak porandakan semua pondasi hatiku. Sungguh, sama sekali tak terfikirkan olehku karena aku terlalu mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah melihat sisi yang lain dari seorang Shinta. Selain ku akui Shinta memiliki wajah yang cantik, tubuh bak model catwalk tak kurang dari 170 cm tingginya. Mungkin di situlah letak sex appeal nya seorang Shinta sehingga membuat suamiku jatuh cinta lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat pertama kali saat aku meperkenalkan Shinta pada suamiku. Tak terbersit sedikitpun di hatiku untuk mencurigai mereka sama sekali, bahkan gelagat bahwa mereka akan mengkhianatiku di kemudian haripun tak pernah benar-benar kurasakan. Walaupun terkadang mereka asik bermain dan berbincang bersama anak-anakku di taman belakang rumah kami di saat aku sibuk di dapur dengan macaroni schuttle, aku tetap merasa bahwa kondisi itu wajar atau mungkin karena aku terlalu mempercayai mereka. Aku memang tak menaruh curiga sedikitpun sampai suatu hari itu dimulai ketika dokter memvonisku positif mengidap kanker  serviks atau kanker leher rahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti wanita yang kehilangan kepercayaan diri ketika vonis itu dijatuhkan padaku. Mendadak aku ingin sendiri, merenungi apa yang harus aku lakukan setelah ini. Hidupku benar-benar hampa dengan berita itu. Kadang ku coba bangkit mengingat anak-anakku yang masih balita, siapa yang akan mengasuh mereka jika ibunya hilang semangat untuk bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan seperti itu Shinta hampir selalu hadir. Tak dapat kutampik aku merasakan betapa besar pengaruhnya saat itu. Dia selalu menyemangatiku untuk tetap optimis bahwa aku pasti sembuh, bahwa aku pasti kembali sehat. Dia selalu memompa semangatku tiap kali rasa lemah itu hadir. Terkadang dia hadir dengan leaflet berisikan tentang info pengobatan kanker serviks. Terkadang dia juga membawakanku obat-obatan tradisional guna mengurangi penyebaran sel kanker sebelum penanganan medis dari dokter dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pepatah jawa &lt;em&gt;Tresno jalarang suko kulino&lt;/em&gt;, ya cinta itu hadir karena sering bersama. Semua berawal saat kami sekeluarga ke singapura. Suamiku sengaja mengajak aku dan anak-anak jalan-jalan ke singapura untuk mengurangi stresku sebelum melakukan pembedahan sel kanker pada leher rahimku. Menurut dokter sel kanker yang menyerangku masih bersifat &lt;em&gt;karsinoma in situ &lt;/em&gt;atau kanker yang terbatas pada lapisan serviks luarnya saja, dengan bantuan pisau bedah atau pun melalui &lt;em&gt;LEEP (Loop electrosurgical excision procedure)&lt;/em&gt; seringkali sel kanker dapat diambil. Walaupun kemudian aku harus bolak balik kembali untuk pap smear setiap tiga bulan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa mungkin karena rasa percayaku pada suami dan Shinta, dengan tanpa maksud apapun aku minta ijin pada suamiku agar mengajak Shinta ikut serta ke Singapura dengan semua biaya ditanggung oleh suamiku. Sungguh itu terjadi di luar keinginanku, di luar kontrolku untuk segera mendeteksi rambu-rambu penunjuk tanda bahaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah sebuah perselingkuhan terjadi karena adanya sebab akibat” ungkap suamiku suatu hari saat membela diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sebab aku terlalu mempercayai suamiku dan Shinta. Ya, sebab aku memberikan kesempatan waktu untuk mereka berdua mencurahkan signal-signal cinta yang telah hadir sejak lama. Di situkah letak kesalahanku?? Apa karena Shinta lebih muda dariku??? Apa karena Shinta  lebih cantik dariku?? Apa karena Shinta selalu hadir di saat aku gundah menerima kenyataan bahwa aku mengidap kanker??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, laki-laki…apa demikian mudahnya untuk jatuh cinta lagi?? Apa demikian visualnya seorang laki-laki ketika yang hadir di depan mata jauh lebih cantik dan lebih muda daripada yang sudah menemaninya berjuang  hidup bersama selama 7 tahun yang lalu??,…Ah, laki-laki seperti tak pernah habis waktuku untuk menelusuri bagaimana sebenarnya cinta itu hadir begitu saja antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada seorangpun yang menyampaikan padaku bahwa mereka mengkhianatiku. Sungguh, tak seorangpun  yang khusus datang menyampaikan apa yang telah mereka lakukan di belakangku. Tapi Tuhan telah menyampaikannya padaku dengan cara Nya sendiri tentang kenyataan yang mengiris hatiku itu. Hampir aku tak bisa menerima kenyataan ketika pertama kali dalam keadaan setengah sadar pasca pembedahan dan kesakitan di ruang rawat inap, ku lihat di sudut ruangan suamiku memeluk Shinta dengan mesranya. Mereka benar-benar telah menempatkan sebuah posisi yang lebih besar untuk sesuatu yang bernama “Nafsu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tak menyadari dalam keadaan samar aku masih bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan. Mereka tak menyadari dalam keadaan setengah sadar sekalipun hatiku masih merasakan sesuatu yang janggal telah terjadi di sekitarku. Berulang kali aku bertanya dalam hatiku, apa mereka tak berfikir seketika sewaktu-waktu aku bisa saja terbangun atau dua orang anakku bisa saja terbangun mendapati perbuatan mereka yang sudah sangat keterlaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Tuhan,..sudah berapa lama mereka melakukan ini padaku. Dengan bermodalkan rasa kepercayaanku mereka benar-benar telah menghancurkan semua pengharapanku. Seketika aku ingin mati saja, dalam keadaan masih lemah, dalam keadaan masih merasakan sakit aku benar-benar memohon pada Tuhan agar nyawaku diambil saja. Aku sungguh tak mampu bertahan menerima kenyataan telah dikhianati oleh suami yang sangat kucintai dan oleh seorang sahabat yang sangat kusayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabbi,..kemana harus kutambatkan hatiku jika bukan Engkau yang menerimaku. Ya Allah, kemana kuharus mengadukan resahku jika bukan Engkau yang Maha mendengarkannya. Hamba lemah ya Allah diperlakukan seperti ini. Hamba lemah ya Allah, hamba hanya manusia biasa yang hatinya juga merasakan sakit yang teramat dalam. Kemana hamba harus membuang lara jika bukan Engkau yang menguatkan hamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis dalam tanyaku pada Allah, rasa sakit itu bukan main telah menjalari sekujur tubuhku. Lebih ganas dari sel kanker yang diam-diam menggerogoti tubuhku. Lebih sakit dari bekas luka operasi yang baru saja ku jalani. Sakit, sungguh sakitnya tak terperi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam dan menyimpan semua yang telah kuketahui tentang pengkhianatan mereka padaku. Aku memilih diam dan bertahan demi anak-anakku. Anak-anakku masih terlalu kecil untuk mengerti tentang hal ini jika tiba-tiba aku melepaskan amarahku di depan mereka, namun ternyata dengan diam semakin menyiksaku, menyiksa semua pertahananku untuk tetap tenang dan berfikir. Tapi ku pikir aku harus tetap bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata perjalanan ke singapura merupakan salah satu jalan ketika semua kebathilan yang tersembunyi di balik mata itu terbuka juga dengan izin Allah. Aku masih tetap diam, diamku bukan berarti aku rela dan menyerah dengan semua keadaan ini. Mereka masih tetap bersikap manis di depanku dan bercumbu di belakangku seolah-olah aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sungguh ini sebuah hal yang memuakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, mungkin menjadi suatu hari yang tak pernah terlupakan seumur hidupku. Kupaksa Shinta menemaniku makan siang di luar, tentu saja di luar kebiasaanku yang tak pernah sekalipun menemuinya di jam makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangkap mata itu resah, sikapnya serba salah. Tak seperti biasanya shinta menjadi seorang yang sangat pendiam. Dia masih mencoba tersenyum, walaupun ku tahu itu bukan sebuah senyuman dari hati seperti yang selama ini kulihat. Tiap kali kucoba menatap matanya, kembali shinta memainkan jari-jarinya untuk kesekian kalinya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ada apa, mengapa sikapmu begitu gugup Shin” ucapku basa basi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“banyak kerjaan di kantor mba” jawab Shinta mencoba mengalihkan arah pertanyaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku ga akan lama kok Shin, aku pingin ketemu kamu untuk mengungkap suatu hal saja” jawabku santai sambil melirik ke arah Shinta. Ku lihat wajahnya berubah pucat, matanya semakin setia menekuri setiap sudut meja di hadapan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“apa kau mencintai Mas Rangga??” tanyaku menantang kejujuran Shinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“eeehhh,..kok mba nanya nya gitu?” Shinta semakin gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“jawab saja, apa kau mencintainya?? sejauh apa Shin,..apa kalian sudah melakukannya selayaknya suami istri” aku semakin memburunya, emosiku terpancing juga dengan ketidakjujuran Shinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mba,..mba ngomong apa??siapa yang berusaha merusak persahabatan kita mba??” Shinta berdalih, tapi kali ini dia gagal karena aku sangat faham bagaimana sifatnya seorang Shinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu Shin,..kamu yang merusak persahabatan kita, sampai saat ini aku terus mencari dimana letak kesalahanku sehingga kau dan mas Rangga berani berbuat ini padaku. &lt;br /&gt;Tidak ada seorangpun yang memberitahuku tentang pengkhianatan kalian, tidak,… tidak,.. seorangpun hanya Allah saja. Aku dan anak-anak mungkin tidak tahu dosa yang kalian lakukan di belakangku, tapi Tuhan, apa Dia tidur menyaksikan semua dusta yang kalian lakukan?? Shinta sama sekali tak menjawab bahkan dia sama sekali tak berani membela diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mengapa diam??,..katakan, apa aku pernah sangat menyakiti hatimu Shin, kalau memang benar aku pernah menyakitimu aku bersedia minta maaf tapi bukan berarti kau boleh berbuat ini padaku..sudah sejauh apa?? Jawab pertanyaanku,..suaraku agak sedikit keras dan terkesan membentak Shinta, beribu kali ku kuatkan hatiku untuk tak setitikpun menitikkan air mata, aku tak ingin Shinta melihat aku begitu lemah dengan peristiwa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“maafkan aku mba, aku sungguh tak ingin membuatmu terluka. aku tak sengaja jatuh cinta pada mas Rangga, mas Rangga juga demikian semua terjadi begitu saja” shinta menitikkan air mata berusaha menjangkau jemariku di atas meja mencoba untuk meyakinkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“itu pembelaanmu Shin,..kau benar-benar telah menyakitiku dengan mengambil semua rasa kepercayaanku padamu, katakan padaku jika kau berada di posisiku apa kau akan memaafkan kesalahan seperti ini??” apa kau tidak terluka dikhianati Shinta,..jawab aku apa kau masih punya hati untuk merasakan apa yang aku rasakan sekarang?? Coba Shinta,..coba kau rasakan detak amarah yang terus mengalir di setiap jantungku”kutarik dengan paksa tangan Shinta untuk merasakan detak di dadaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shinta semakin sesenggukan dengan semua pertanyaanku. Hatiku sangat hancur bahkan ku tak mampu menangis lagi di depan wanita yang telah menghancurkanku dan rumah tanggaku. Katakan, apa aku salah telah menghakimi Shinta, aku tak bisa menafikan bahwa semuanya terjadi karena ada yang menawarkan dan ada yang menerimanya. Mungkin suamiku yang memulai dan shinta menerimanya, atau bisa saja shinta yang memulai lalu suamiku mengabulkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“katakan,..aku harus bagaimana sekarang??, apa kau pikir luka ini bisa hilang secepat ketika kau menorehkannya?? Entahlah,..antara kita berdua harus ada yang mengakhiri ini. Jika bukan kau tentu aku”…kutarik nafas dalam-dalam, percuma aku menguras energy untuk tetap marah pada shinta. Aku berlalu meninggalkannya dengan amarah yang meluap-luap di dadaku. Terlalu lelah untuk menata hatiku jika terus berhadapan dengannya, bagaimanapun aku ingin lebih bijaksana dalam menyikapi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahkan tak punya tenaga lagi saat kudapati suami yang sangat kubanggakan malah menyalahkanku atas semua kejadian ini, menyalahkanku karena beberapa kelemahanku, menyalahkanku untuk alasan yang kurang relevan dan tak berhubungan dengan kehadiran Shinta di hatinya. Mas Rangga sama sekali tak ingin disalahkan, lalu siapa yang salah?? Aku kah yang salah karena tidak mengerti cinta mereka. Oh,..ini sungguh terlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mengapa kau harus menghakimi Shinta?? Bukankah aku juga bagian dari masalah ini” kata-kata mas Rangga begitu menyayat hatiku, kata-kata itu menghujam tepat pada jantungku. Mas Rangga membela Shinta, mas Rangga telah melupakan cinta antara kami berdua demi wanita yang lebih muda lima tahun dari umurku. Kenyataan yang begitu menyakitkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku tak hanya kecewa padanya tapi juga padamu, suami yang selalu ku utamakan dari apapun di dunia ini ternyata malah menjadikan aku orang lain di hatinya demi wanita lain. Apa kalian punya alasan untuk membela diri, seolah-olah aku tak boleh  menghakimimu dan Shinta??” aku kembali bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“jika benar kami salah menurutmu, tapi kau tak perlu memarahi Shinta seperti itu. Bukankah kau juga telah membuat dia semakin merasa bersalah dan sakit??” mas Rangga mengucapkan kata-kata yang seolah-olah tak membuatku kaget setengah mati mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa??? Sakit??? Sakit hatikah Shinta karena perlakuanku ketika aku meminta pengakuannya?? Sakit hatikah Shinta karena seorang sahabat bertanya bagaimana teganya dia menyakiti perasaan sahabatnya sendiri??,…sakit, siapakah yang lebih sakit saat seperti ini. Shinta wanita yang datang dalam hari-harimu belakangan ini selalu menjadi indah dibanding istrimu yang terkadang terlihat kelemahannya karena telah bertahun-tahun bersamamu. Lalu siapa yang lebih sakit??? Shinta atau Aku????,….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berteriak-teriak bersama linangan airmataku. Bukankah aku yang paling sakit saat ini, bukankah aku yang paling menyedihkan saat ini. Bagaimana mereka masih menganggap aku tidak sakit hati, bagaimana mereka bisa memaksaku untuk menerima semua cinta yang hadir antara mereka, bagaimana bisa mereka berlaku demikian kejam padaku. Bahkan yang membuat aku semakin ingin mati ketika mas Rangga dengan entengnya memintaku untuk menandatangi surat izin mas Rangga untuk menikahi Shinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gila,…lelucon macam apa ini?? aku bukan hanya disakiti dengan perselingkuhan suami dan sahabatku, tapi aku juga dipaksa merelakan dan memberikan legitimasi atas cinta mereka. Ini bukan hanya terlalu, tapi sungguh sangat keterlaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“shinta,..aku pernah bilang semua ini harus berakhir, jika bukan kau orangnya berarti akulah yang akan mengakhirinya”…tak ingin kulihat wajah Shinta lagi. Bukan karena aku merasa kalah, tapi aku merasa benci itu semakin besar hadir atas sikap dua orang yang sama sekali tak ku kenal lagi, semua berubah karena cinta yang menggebu-gebu antara mereka. Sungguh mereka telah dibutakan cinta untuk memahami perasaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Rangga, Sekarang aku mohon dengan sangat, jika kau laki-laki sejati ceraikan aku” tangisanku akhirnya meledak juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kalimat itu terasa tercekat di leherku. Memikirkan kalimat itu saja hampir tak pernah sekalipun dalam hidupku, membayangkan hidup tanpa suami dan membesarkan anak seorang diri adalah hal yang paling menyedihkan bagiku. tapi sekarang aku telah memintanya dengan lantang karena merasa harga diriku yang telah diinjak-injak demikian hinanya di mata suamiku, dan yang paling menyedihkan karena aku kalah oleh kenyataan bahwa suamiku jatuh cinta lagi pada wanita yang jauh lebih cantik dan menarik dari istri yang tak berharga lagi di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang aku pernah bertanya dalam hati. Bukankah tak ada seorangpun di dunia ini yang tampak sempurna selain Rasulullah??,..bukankah kekurangan seorang istri atau suami akan senantiasa tampak ketika kita melihat yang lain “bukankah rumput tetangga selalu lebih hijau dari milik kita sendiri”. Sama halnya seperti yang aku alami dulu, ketika sebelum menikah semuanya seolah-olah akulah yang nomor satu di mata mas Rangga. Namun ketika dia mengenal Shinta segalanya tentang aku hanyalah sebuah cerita picisan belaka. Aku tak tahu apakah ini akan berlaku pada Shinta juga kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat mimik wajah Shinta yang terkejut dengan permintaan ceraiku. Aku tak ingin mempertimbangkan apapun lagi, bukankah memang itu yang mereka inginkan dariku. Pergi dari kehidupan mereka dan berjalan jauh sebagai seorang yang kalah. Mungkin aku kalah karena tak mampu mempertahankan pernikahanku, tapi aku menang membela hak-hakku sebagai seorang wanita yang benci atas nama pengkhianatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perceraian,..tak ada seorangpun wanita di bumi ini ingin bercerai, perceraian dulu bagiku selalu menjadi momok yang menakutkan. Namun ternyata semua hal itu menjadi berat ataupun ringan hanya ada di pikiran kita saja. Harus ku hadapi kenyataan saat ini walau seberat apapun itu harus ku jalani. Untungnya aku selalu siap untuk menjadi mandiri karena bagiku seorang istri harus tegar dalam kondisi apapun. Mungkin karena aku terbiasa melakukan banyak hal seorang sendiri walaupun mas Rangga masih bersamaku dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dua anak-anakku aku menjalani hari yang sungguh sangat berbeda dari yang sebelumnya.  Shinta menikah dengan mas Rangga dan aku memilih menjauh, jauh dalam segala hal yang berhubungan dengan mereka. Apalagi ku ketahui mas Rangga sedang menikmati waktunya menjadi ayah, anak yang dilahirkan Shinta. Sungguh,.. aku belum mampu memaafkan mereka. Walaupun beberapa kali Shinta mengirimiku surat, email, pesan singkat bahkan telpon untuk memohon maafku, tapi hatiku tetap tak bergeming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang kali kucoba menghilangkan dendam dan benci di hati ini, tapi selalu tanpa hasil. Semakin ku coba, aku semakin terperangkap dalam kubangan kebencian yang teramat dalam. Apakah benar hatiku telah membeku untuk memberikan kata maaf yang bisa saja terucapkan oleh lidah tapi sulit diamini oleh hati. Entahlah mungkin suatu saat nanti, mungkin  Allah akan menghilangkan kebencian itu dari hatiku. Sama halnya ketika Allah menghadirkan kebencian itu di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Kisah seorang sahabat,..&lt;br /&gt;“apakah benar salah satu hubungan yang tak terputus itu &lt;br /&gt;adalah sebuah persahabatan??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 16 Maret 2010&lt;br /&gt;Aida m. Affandi&lt;br /&gt;www.warnawarnisisihati.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-961324157909670523?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/961324157909670523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/03/wanita-kedua-itu-sahabatku.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/961324157909670523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/961324157909670523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/03/wanita-kedua-itu-sahabatku.html' title='Wanita Kedua Itu Sahabatku'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S6MtQoa4mUI/AAAAAAAAADg/HpPhySG68Ao/s72-c/true_friendship.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-5969407842779720119</id><published>2010-03-11T04:49:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T05:04:56.318-08:00</updated><title type='text'>Tentang pernikahanku</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S5jqZtxo8RI/AAAAAAAAADY/QorvKDJeu_c/s1600-h/bundo1-resize1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 219px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S5jqZtxo8RI/AAAAAAAAADY/QorvKDJeu_c/s320/bundo1-resize1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447361476810043666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tak akan kubenamkan asaku dalam sekulit duka di masalalu&lt;br /&gt;Dalam keyakinanku, aku tak pernah sendiri&lt;br /&gt;Selalu ada Tuhan yang mengiringi langkah kecilku,….&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku tatap dua pasang mata indah di depanku, dua gadis kecilku yang beranjak remaja. Bagaimana aku harus menjelaskan pada mereka bahwa aku ibunya akan menikah lagi. Setelah pernikahan pertamaku yang berakhir dengan perceraian, bukankah akan membuahkan kekhawatiran dalam diri gadis kecilku karena pengalaman buruk dulu. Aku tersudut dalam pikiranku sendiri, ku putar semua kata-kata yang telah ku susun sejak pagi tadi. Semuanya buyar ketika iris mata coklat itu tersenyum padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah lagi,..mungkin itu satu pertanyaan yang selama ini selalu ku hindari. Sulit kuyakinkan hati, bahwa ternyata Tuhan menggariskan dalam hidupku harus menikah dua kali. Apa aku harus bangga??, tidak,..sama sekali aku tidak bangga. Kalau bisa memilih tentu aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku. Perceraian yang pernah terjadi bukanlah sebuah prestasi dalam kehidupanku, meskipun halal tapi tetap saja suatu hal yang dibenci oleh Allah. Bagaimanapun hatiku sedih saat memisahkan anak-anakku dari ayah kandung mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika hanya dengan perceraian semuanya menjadi lebih bermakna, apakah aku harus mundur mengambil keputusan itu?? dan itu yang aku rasakan dan telah aku lakukan, bahwa aku harus bertahan untuk selalu berbahagia demi anak-anakku, mempertahankan bersama dalam satu rumah yang sudah seperti neraka juga bukan pilihan yang baik untuk anak-anakku. Dulu ku pikir ini suatu hal yang memalukan, mungkin juga karena stereotype kebanyakan orang yang membuat penilaian seperti itu. Namun akhirnya harus ku sadari aku tak perlu bertahan dan mengorbankan sebuah kebahagiaan hati yang juga layak kusematkan di dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar rasa cinta dan benci itu hanya memiliki batasan yang sangat tipis, seperti perasaan cinta rasa benci juga demikian selalu meledak-ledak dan berkobar-kobar dalam hal yang kecil sekalipun. Tak satupun yang ku mengerti ketika seorang lelaki yang sangat mencintaiku dulu berubah menjadi seseorang yang tak pernah menganggap aku seseorang yang penting lagi dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa masalahmu mas??,..akhir-akhir ini aku merasa kau semakin uring-uringan tanpa sebab. Kalau aku punya salah tolong katakan, jangan mendiamkan aku berhari-hari seperti ini”. Akhirnya ku beranikan juga bertanya pada Hadi, sikapnya yang semakin tidak ku mengerti perlahan-lahan mulai mengganggu perkembangan nilai-nilai anak-anakku di sekolah dan pekerjaanku di kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang ku dapati wajah Syifa dan Nadia yang tegang saat melihat aku beradu argumentasi dengan ayahnya. Terkadang mereka melihat aku menangis sesenggukan. Tapi mereka hanya diam tak berani bertanya banyak. Hanya pelukan yang mereka berikan saat ku merasa  semua yang kulakukan selama ini tiada berharga di mata Hadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahanku yang pertama terjadi sepuluh tahun yang lalu. Sama halnya seperti pasangan yang lain, aku dan suamiku sempat merasakan indahnya percintaan itu. Kami berkenalan dan menjajaki pikiran masing-masing selama setahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah membangun kebahagiaan dalam kasih sayang Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal pernikahan aku bekerja sebagai staf keuangan di sebuah lembaga pendidikan, sementara Hadi suamiku bekerja sebagai honorer di kantor pemerintahan. Tak ada yang salah dalam pernikahan kami hingga di tahun kelima itu terlampaui. Aku pikir kisah pilu itu berawal dari sini,  entah mengapa hal ini kemudian selalu menjadi sumber perselisihan antara kami. Ya,..masalah itu berjudul harga diri laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa perlu melakukan pengamatan aku yakin seyakin-yakinnya dengan perubahan Hadi, seolah-olah aku tak pernah benar-benar mengenalinya dengan baik. Dia justru berubah di saat dua orang malaikat cantik kami butuh perhatian ekstra di usia sekolah. Entah mengapa semua menjadi buram di matanya saat promosi karierku menanjak pesat dengan penghasilanku tiga kali lipat lebih banyak dari penghasilannya. Semua semakin terlihat salah saat aku menjabat sebagai manager pendidikan di tempatku bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, tak pernah cukup waktu untuk mengenali seseorang, bahkan setelah menikah sekalipun. Hadi yang dulu sangat manis berubah menjadi laki-laki dengan kepribadian yang sama sekali tidak kukenal lagi. Akhirnya aku menyadarinya bahwa jabatan baruku telah memancing ego kelaki-lakiannya.  Dia cemburu, cemburu oleh persaingan yang dihadirkannya sendiri. Cemburu yang mampu menghilangkan rasa cintanya padaku, cemburu karena merasa tak sebanding denganku lagi, cemburu karena dia merasa aku berada jauh di atasnya. Mungkin begitulah dia melampiaskan perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah karena jabatan baruku membuatmu seperti ini?? Entah untuk berapa kali sudah ku ulangi pertanyaan itu, namun dia tetap diam. Mendiamkan aku berminggu-minggu, melupakan anak-anak yang butuh kehadiran seorang ayah. Bahkan dia lebih memilih meletakkan kesetiaannya pada kartu-kartu remi kesayangannya semalaman bersama teman-temannya daripada pulang menemani aku dan anak-anak tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku bekerja dan beraktivitas merupakan sebuah eksistensi diri selain karena kebutuhan hidup kami yang semakin besar dan rasa tanggung jawabku sebagai anak tertua yang sudah waktunya ikut membantu biaya kuliah adik-adikku, tapi bagaimana aku harus menjalani ini semua jika tanpa ada dukungan seseorang yang sangat kucintai. Apa aku telah menyalahi kodratku?? Tidak,..aku bukan pencinta emansipasi wanita yang melewati koridornya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya. Karenanya aku tak pernah lupa memasakkan sarapan sekeluarga di pagi hari, aku tak pernah lupa menyiapkan bekal untuk Syifa ke sekolah, bahkan malam sekalipun aku selalu sempatkan diri untuk menemani Nadia membaca buku sebelum tidur. &lt;br /&gt;Lalu dimana letak kesalahanku?? Hadi tak pernah bicara, bahkan tak ingin membahas ini semua denganku tidak juga dengan yang lain kecuali dengan kartu-kartu reminya yang semakin hari semakin membuatnya senewen dan bertambah aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang kali aku bertanya dalam hati, apakah Hadi membenciku?? Apakah Hadi tak mencintaiku lagi??,..tiap kali ku bertanya, tiap kali pula tak ku temukan jawabannya. Jika ia masih mencintaiku tetapi mengapa sikapnya demikian kasar padaku, mengapa seolah-olah semua yang kulakukan menjadi salah dimatanya??. Berulang kali kucoba memahami perasaannya, tapi Hadi tak pernah memberiku kesempatan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada acara makan malam bersama dengan beberapa orang kolegaku, kamu mau kan ikut??” kata-kataku sedikit merayu hadi berharap dia mau membuka diri dan mengenali pekerjaanku. Hanya sekedar mengenali dan tahu apa yang istrinya lakukan selama ini sangat membutuhkan dukungan yang besar dari keluarga terutama dari suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,..aku ga mau ikut” jawabnya ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalah mu apa mas?? Aku semakin tidak mengerti kondisi kita seperti ini. Seolah-olah aku telah melakukan kesalahan yang besar. Semakin ku coba untuk mengerti tentang keinginanmu, semakin aku tak menemukan apa sebenarnya yang kau inginkan” sifatku yang terkadang emosional menghadapi sesuatu semakin membuat Hadi tak bergeming. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, katakanlah aku bukan ibu yang becus atau katakanlah aku bukan istri yang selalu bisa memperhatikannya. Tapi tolong katakan dimana letak kesalahannya atau caraku menyampaikannyakah yang salah??... Aku tak berubah samasekali padanya dan anak-anak. Aku masih menyiapkan sarapan mereka, aku masih menyiapkan baju dinasnya untuk ke kantor. Aku juga membayar kebiasaan waktu mengobrol kami dengan selalu menelpon di sela-sela kesibukanku. Lalu salahnya dimana?? Ah,..percuma aku bertanya dimana letak kesalahan itu, rasa-rasanya semua akan terlihat salah jika hati Hadi telah memvonisku salah. Bahkan segala sikapnya selama ini selalu menunjukkan permusuhan padaku. kembali hati kecilku berkata bahwa dia  memang tidak mencintaiku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang cepat kutepis ketika perasaan itu hadir ketika melihat hadi bersikap manis padaku. Sebagai seorang istri tak ada hal yang lebih indah saat melihat suami berwajah manis di hadapan istrinya walau akhirnya kutahu semua sikap manisnya selalu berujung uang dan uang. Yah,..hadi selalu bersikap manis padaku saat ia membutuhkan uang dalam jumlah yang besar untuk beberapa kebutuhannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bicara apa kamu mas tentang keikhlasan?? Aku murka ketika Hadi menuduhku berkuasa atas rumah tangga kami, karena sebagian besar pengeluaran bahkan uang sekolah untuk adik-adiknya dibiayai olehku. Tubuhku bergetar menahan amarah yang teramat sangat. Darimana pikiran picik itu hadir, apakah dari ketakpercayaan diri Hadi yang sudah sangat terlalu??....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku usap dadaku, tak sanggup ku menahan sesak yang membuncah di hatiku. Beribu kali aku terpaku dalam keadaan yang semakin membuat hubungan kami terasa jauh. Oh Hadi, apakah dia tahu bagaimana hatiku dengan sangat bahagia membiayai kebutuhan ibu bapaknya dan biaya kuliah adiknya. Bahkan aku tak pernah mempermasalahkan ketika bertahun-tahun sudah dia tak memberiku nafkah. Apakah dia tahu bagaimana mirisnya hatiku telah dianggap tidak ikhlas dalam hal memberi??...Ah, Apa aku perlu bertanya lagi jika jawaban yang mengalir dari mulutnya hanya sebuah penghinaan dan hujatan. Kembali ku usap dadaku yang terasa perih, telah kucukupkan hari ini tak akan ku bertanya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Allah humma Arinal haqqa haqqan, Warzuknattiba’ah&lt;br /&gt;Wa Arinal Bathila Bathilan Warzuknajtinabah&lt;br /&gt;Ya Allah, tunjukkanlah yang Hak adalah Hak dan berikanlah&lt;br /&gt;Hamba kekuatan untuk mengikutinya&lt;br /&gt;Dan tunjukkanlah yang batil adalah batil, dan berikanlah&lt;br /&gt;Hamba kekuatan untuk menjauhinya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cukup sampai di situ keanehan yang di alami Hadi, dia semakin uring-uringan saat aku semakin sering berurusan dengan pejabat-pejabat tinggi di kota kami. Rasa cemburunya semakin menjadi-jadi, bahkan membuat dia sama sekali tak percaya lagi padaku. Ku akui aku lelah dengan situasi ini namun tetap ku coba menetralkan suasana hatinya dengan mengajaknya bersama di beberapa acara kantorku, tapi kembali dia selalu merasa niat baikku adalah untuk menjatuhkan harga dirinya sebagai suami.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akui saja,..latihan tennis ataupun golf bersama pengusaha-pengusaha itu hanya sebuah alasan legalisasi perselingkuhanmu kan…” tiba-tiba Hadi menyalak di depanku, persis seperti seorang terdakwa aku dituduh tanpa bukti. Matanya merah menatapku, bau alkohol dari mulut Hadi menyelinap masuk ke rongga hidungku sampai membuatku ingin muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya aku yang bertanya, kemana saja uang yang kau peroleh selama ini?? Untuk mabuk-mabukan seperti inikah?? Aku malu pada keluargaku atas sikapmu akhir-akhir ini. Apa kau fikir anak-anak tidak malu menemui ayahnya  seperti seorang preman jalanan”…emosiku kian memuncak, kata-kata yang keluar dari bibirku sudah di luar kontrolku, aku marah dengan keadaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Hadi mengancang-ancang hendak menampar mukaku. Sekejap mataku ku tutup rapat, tak sanggup kurasakan sakitnya jika memang benar kepalan tangan Hadi akan mendarat di pipiku. Cucuran airmata di pipiku tak sanggup ku tahan lagi, badanku bergetar sesenggukan aku menahan sakit yang tak terperi di hatiku. Ini bukan Hadiku lagi, ini syaitan yang telah menjelma di hadapanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ploooookkkkk,….sebuah pukulan tepat di wajahku. Terasa begitu panas dan menyakitkan, terhuyung-huyung aku merasakan pukulan yang hebat itu, hadi bukan hanya memukul fisikku tapi juga telah dengan keras memukul hatiku. Hadi berlalu meninggalkanku dalam keadaan terisak dan sujud di kakinya, selama ini dia tak pernah memukulku tak pernah sekalipun walaupun sering mengancam akan memukulku. Namun kali ini dia telah melakukannya, kurasakan beban hatiku semakin berat dengan perlakuannya saat ini. Menangis hanya itu yang sering aku lakukan. Bahkan aku tak pernah malu lagi ketika berulang kali menangis  memohon pertolongan Allah dalam sajadah malamku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,..tolong hamba jika Hadi memang jodoh yang Engkau pilihkan buat hamba hingga akhirat kelak, berilah kami tanda terang untuk memperbaiki ini semua. Jika tidak, hamba serahkan semuanya padaMu ya Allah, Engkau selalu tahu apa yang terbaik buat kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perselisihan itu masih terus berlangsung hampir dua tahun, terkadang berat ku hadapi ini. Apalagi melihat Syifa dan Nadia yang lebih sensitive dari biasanya. Syifa yang dipaksa dewasa dari umurnya untuk faham tentang masalah yang dihadapi orangtuanya. Hingga suatu hari ketika semuanya menjadi terang untukku bersikap, setelah tak lelah menanti jawaban atas do’a-do’aku selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh,..jadi ini yang selama ini yang kau lakukan, sekarang aku mengerti kemana semua uangmu kau larikan. Ternyata untuk taruhan atas kesetiaanmu pada kartu-kartu remimu ini” kali ini aku benar-benar murka. Ku dapati Hadi dengan bertelanjang dada dan wajah yang penuh ambisi menang bertaruh di meja judi. Aku meledak-ledak. Bagaimana tidak, aku sama sekali tak mendapati suamiku yang santun ketika menikahiku dulu, yang kutemukan kali ini adalah seorang laki-laki kasar dan pencandu judi. Entah berapa lama dia telah menyelingkuhi uang-uangnya itu di belakangku. Sejenak namun pasti, kurasakan semua perasaan cinta itu hilang dari hatiku bersama kekecewaan yang teramat dalam padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perempuan jalang,..mau apa kau kemari?? Urus saja selingkuhan-selingkuhanmu yang kaya raya itu”. Hadi spontan menjawab pertanyaanku, bahkan dia tak menyadari bahwa aku sangat hancur dengan semua kebohongan dan kata-katanya yang menghantam keras tepat di hatiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sebaris katanyapun kujawab lagi, aku berlari membawa hatiku yang remuk dan semakin jauh dari ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang yang telah kalah oleh kemenangan nafsu dan syaitan. Ku tenangkan diriku sejenak di dalam mobil. Kutarik nafasku perlahan-lahan mengurangi energy negative yang memenuhi pikiranku sebelum menjemput Syifa dan Nadia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita pulang ke rumah nenek nak”,..aku duduk di depan dua gadis kecilku yang sedari tadi menatap mataku yang bengkak karena kenyang menangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti begitu sampai di rumah nenek, mama akan jelaskan semuanya pada kalian. Sekarang bantu mama persiapkan semua baju-baju kalian masing-masing selama kita tinggal di rumah nenek nanti. Kulihat Syifa lebih dewasa menanggapi ini ketika Nadia mencoba bertanya mengapa ayahnya tidak ikut bersama kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hushh,..jangan banyak nanya Nad,..kan kata mama, begitu kita sampai di rumah nenek akan dijelaskan semuanya kan” Syifa melirik ke arahku, aku tahu dia semakin dewasa atau memang terpaksa menjadi dewasa karena kondisi yang kami alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu apa aku telah berdosa meninggalkan rumah tanpa minta izin pada suami yang tak bertanggung jawab itu. Yang ku tahu seorang istri harus mendapat izin dari suami sebelum meninggalkan rumah, tapi apakah hal ini juga berlaku pada laki-laki yang tak pernah berniat untuk mempertahankan pernikahan kami. Jika iya, aku mohon ampunan Allah, aku hanya ingin menjaga perasaan anak-anakku yang belum mengerti permasalahan yang dihadapi kedua orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya perjalanan ini begitu lama ku rasakan, aku ingin memeluk ibuku, aku ingin bersujud di kedua kaki ayahku memohon diberikan doa untuk anaknya yang telah dihancurkan oleh suaminya sendiri. Betapa hatiku sangat membutuhkan sandaran saat ini. Satu-satunya yang membuatku kuat adalah kedua putriku yang sedang tertidur pulas dalam pelukanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dengan mata yang penuh berkabut memelukku yang menangis tiada henti. Ibu membelai lembut rambutku, sama kurasakan lembutnya belaian ini saat ibu melepaskanku untuk menjadi istri Hadi delapan tahun yang lalu. Jika dulu ibu membelaiku menangis melepaskan anaknya saat dipersunting oleh seorang Hadi, namun kali ini ibu membelaiku menangis untuk memberikan kekuatan dan ketenangan atas perlakuan Hadi. Oh, itu sungguh dua hal yang sangat berbeda kurasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah mencoba bertahan bu,.. tapi mungkin harus begini akhirnya. Sungguh bukan perceraian yang kuharapkan dalam sebuah pernikahan. Namun selama dua tahun konflik antara kami terjadi, semakin membuat suasana yang tidak sehat untuk kedua anakku. Aku tahu, bagaimanapun perceraian selalu berdampak negative bagi anak. Tapi mempertahankan pernikahan yang telah tanpa cinta juga memberi pengaruh  yang tak jauh berbeda dengan perceraian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mengusap dadanya saaat ku ceritakan perlakuan Hadi selama ini padaku. Ayah yang biasanya tenang kali ini terlihat lebih gusar. Sesekali kupandangi mata coklatnya menunjukkan kecemasan yang tiada tara. Bagaimanapun aku tetap anaknya, mereka tak akan rela anaknya diperlakukan demikian menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah nak,..kalau memang kondisinya tak mungkin dipertahankan lagi, urus saja keperluan-keperluan untuk bercerai. kami juga tak ingin anak perempuan kami diperlakukan seperti itu”. Ayah kemudian diam setelah memberikan persetujuan atas keinginan bercerai dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku didera kesedihan menyadari di hari tuanya ayah dan ibu masih memikirkan keadaan anaknya yang menyedihkan ini. Tiap kali kuseka air mataku tiap kali itu pula kembali bercucuran. Ku lihat dari sudut ruangan ibu bercakap-cakap dengan Syifa dan Nadia, aku tahu ibu mulai memberikan pengertian kepada dua gadis kecilku itu. Aku memang meminta ibu menceritakan hal yang aku alami sebelum aku sendiri yang akan menjelaskannya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumantapkan langkahku menuju bangunan yang ber plat “Pengadilan Agama” aku tak akan mundur selangkah pun lagi. Hatiku telah terlanjur hampa dengan perlakuan Hadi. Ku bulatkan tekadku, jika Allah telah menentukan semua ini yang terbaik untuk kami, hatiku telah menerimanya dengan lapang dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku tak akan mengabulkan pengajuan perceraianmu di pengadilan” hadi berteriak-teriak di telpon sehingga membuat telingaku berdengung-dengung. Aku masih tetap bersikap tenang menghadapi sikap hadi yang meledak-ledak begitu mendengar bahwa aku telah mengajukan permohonan cerai atas dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengadilan memang telah memberikan surat panggilan kepada hadi untuk pertama kalinya. Hadi bertingkah dan berkelakuan aneh, dia mangkir untuk menghadiri sidang pertama perceraian kami, entah untuk alasan apa aku pun tidak mengerti. Bahkan beberapa kali mediasipun telah dilakukan pihak keluargaku, namun Hadi tetap tak bersedia memenuhi panggilan sidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Hadi berfikir bahwa pengadilan tidak bisa menjatuhkan keputusan cerai jika tanpa persetujuannya. Padahal yang ku tahu, secara agama kami bisa dikatakan telah bercerai karena entah sudah beberapa kali Hadi mengancam akan menceraikanku secara siir ataupun terang-terangan di depan keluarga dan teman-temannya sebelum permohonan cerai ini kuajukan. Bukan hanya itu saja, aku pun telah cukup bukti untuk menggugat cerai atas perlakuan hadi yang menurut hukum agama dan Negara  termasuk atas kekerasan dalam rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kali ini karena merasa harga dirinya dipertaruhkan dia berusaha masih menyakitiku dengan menggantung permohonan ceraiku di pengadilan agama. Dia bukan hanya menyakitiku, tapi juga menyakiti anak-anaknya yang telah diabaikannya begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin Allah tidak tidur, Allah mendengar do’a-do’a orang-orang yang teraniaya. Pengadilan Agama akhirnya mengabulkan permohonan ceraiku dan hak asuh anak jatuh padaku. Palu di ketuk dan hasil sidang dikirimkan kepada Hadi. Sujud syukur aku di ruang sidang bersama linangan air mata kebahagiaan. Walaupun ku tahu Hadi akan murka dengan hal ini, bahkan mungkin dia akan mempermasalahkan harta gono gini selama pernikahan kami, terutama rumah yang kutinggalkan begitu saja. Tapi untuk saat ini aku tak ingin memikirkan apapun, aku hanya ingin menemani kedua putriku pasca perceraian yang banyak menguras energiku selama ini, mereka butuh perhatianku saat ini, mereka butuh penjelasan yang bisa menenangkan hati mereka. Terimakasih ya Allah,…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perceraian itu memang telah terjadi, bahkan aku membiarkan Hadi mengambil hak kepemilikan atas rumah yang telah kubangun dengan hasil keringatku sendiri karena rasa kepercayaanku dulu pada seorang suami, maka nama Hadilah yang tertera sebagai pemilik rumah beserta tanahnya. Paling-paling rumah itu tak akan bertahan lama di tangannya karena kemudian akan dipertaruhkannya lagi di meja judi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang masih membencinya, membenci sikapnya pada anak-anak kami yang tak pernah dinafkahinya lagi. Seolah-seolah anakku lahir tanpa ayah. Jangankan mengharap kiriman uang sekolah untuk anak-anak, menanyakan kabar anak-anaknya saja tak pernah dia lakukan. Dia benar-benar menghilang dari kehidupan kami juga menghilang dari hati anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tak pernah mengajarkan anak-anakku untuk membenci ayah mereka, seburuk apapun Hadi tetap ayah mereka tak akan pernah menjadi mantan ayah sebagaimana sekarang dia menjadi mantan suamiku. Aku bahkan mengajari anak-anak  agar mendo’akan hadi berubah dan bertaubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama,..sejujurnya kami ga mau mama menikah lagi, tapi jikapun mama menikah lagi tolong menikahlah dengan laki-laki yang tidak seperti ayah, aku dan Nadia tak ingin melihat mama menangis lagi, aku juga ga mau melihat wajah ayah yang marah-marah pada kami” Syifa mendadak berbicara tentang rencana pernikahanku setelah dua tahun aku memilih sendiri menjalani hidup. Syifaku yang berumur 10 tahun berbicara dengan sangat bijaksana. Sungguh, aku sangat terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku ga mau mama nikah lagi” sergah Nadia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kenapa” balas Syifa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku ga mau mama ga perhatian lagi ke aku dan kak Syifa” suara Nadia tersendat-sendat karena menahan tangisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, ini kondisi yang berat untuk anak-anakku. Menikah lagi untuk yang kedua kalinya pula tentu melibatkan banyak hati-hati yang telah ada. Hati keluargaku yang tak ingin melihat aku disakiti lagi, dan yang terpenting adalah hati Syifa dan Nadia yang masih merasakan trauma di masalalu ibunya. Semua memang butuh waktu. Begitu juga hatiku, hatiku juga butuh kesiapan untuk memulai hubungan yang baru lagi tanpa menyisakan masalalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ga akan sayang,..Mama ga akan menyia-nyiakan kalian berdua, karena kak Syifa dan Nadialah Mama berjuang selama ini, karena Mama cinta kalian” ku rengkuh mereka dalam pelukanku, telah kutambatkan lara itu di ujung jalan sana, tak akan kubiarkan sedikitpun merusak kebahagiaan kami saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syifa dan Nadia,..Insya Allah Mama telah memilih sayap yang lain, yang lebih kuat, yang lebih setia dan yang lebih menyayangi kita dari pada yang sebelumnya. Semoga Allah  menjaganya untuk kita bersama karena kita juga berhak untuk bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk seorang wanita yang ku kagumi&lt;br /&gt;Allah selalu punya rencana lain, tanpa harus bertanya pada hambaNya,…&lt;br /&gt;Jakarta, 6 Maret 2010&lt;br /&gt;Aida Affandi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-5969407842779720119?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/5969407842779720119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/03/tentang-pernikahanku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/5969407842779720119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/5969407842779720119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/03/tentang-pernikahanku.html' title='Tentang pernikahanku'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S5jqZtxo8RI/AAAAAAAAADY/QorvKDJeu_c/s72-c/bundo1-resize1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-6024112898050556795</id><published>2010-02-25T23:30:00.000-08:00</published><updated>2010-02-25T23:41:46.945-08:00</updated><title type='text'>Permintaan Dari Hati</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S4d7KGayoJI/AAAAAAAAACk/XMERy_7KMr4/s1600-h/luna_noche.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 287px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S4d7KGayoJI/AAAAAAAAACk/XMERy_7KMr4/s320/luna_noche.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442454088152424594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Terkadang Tuhan menyembunyikan matahari&lt;br /&gt;Dia datangkan petir dan kilat&lt;br /&gt;Kita menangis dan bertanya-tanya kemana hilangnya matahari,&lt;br /&gt;Rupa-rupanya Tuhan hendak memberi kita pelangi….&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kakinya kecil-kecil saat melangkah, wajahnya yang sumringah mampu membius setiap orang yang menatapnya. Alisnya tumbuh dengan lebat dan hampir bertaut satu sama lainnya. Hidungnya tinggi dan sedikit lancip. Bibirnya merah dan penuh sangat cocok dengan wajahnya yang putih bersih seperti salju. Sikapnya sangat santun, bahkan membuat aku merasa kurang memiliki manner sebaik dirinya. Aku merasa sedang berhadapan dengan seorang lady atau dayang utama pada zaman kastil edo. Satu kata untuk wanita itu cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali dia melepaskan pandangannya keluar restoran lewat jendela yang berada di samping kami yang saling duduk berhadapan. Aku hampir hilang rasa percaya diriku. &lt;br /&gt;Bagaimana tidak, aku menatap kedatangannya dari atas hingga ujung kakinya. Rambutnya tertutup oleh kerudung berwarna merah muda, dipadupadan dengan baju putih berbunga pink kecil, bawahannya dibalut dengan rok panjang berwarna senada,wanita ini sangat anggun di mataku. Aku rasa wanita itu punya segalanya yang didambakan seorang pria termasuk suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam sejenak, wanita itu masih memandangku menunggu apa yang ingin ku utarakan padanya. Alisnya bergerak ke atas seperti membentuk bukit. Aku tak berani memandang mata coklatnya yang bening. Hilang semua keinginanku untuk bermarah-marah ria. Wanita ini mampu menaklukkan emosiku yang sedang naik turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“saya baca email dari teh Dina buat mas Arie…akhirnya aku membuka bicara, berat bibirku berucap, kelu rasanya lidahku. Ku dengar desahan nafas yang berat milik wanita itu. Antara saya dan mas Arie memang sangat terbuka, apalagi untuk hal yang satu ini karena kita ingin menjaga satu sama lainnya ucapku ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku lihat wanita itu kembali diam, tak berbicara satu patah katapun. Ku lihat matanya yang tak sejernih tadi lagi, genangan air menutupinya. Aku bisa menangkap perubahan wajahnya yang terjadi secara tiba-tiba. Perlahan dia menatapku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan saya dek ,..ucapnya lirih. Hanya itu yang keluar dari bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Karena bukan di telingaku kau berbisik, namun di hatiku&lt;br /&gt;Karena bukan di bibirku kau mengecup, namun di jiwaku&lt;br /&gt;(Judy Garland)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arie memang seorang laki-laki yang sangat familiar di kampus. Tak jarang banyak yang menaruh hati padanya. Bukan hanya berwajah tampan, tapi juga memiliki nilai akademi yang di atas rata-rata, dan yang terpenting dari semuanya adalah dia laki-laki yang shaleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah mengaguminya sejak dulu saat masih aktif di lembaga dakwah kampus. Beberapa kali mencuri pandang dan menyimpan harap jika suatu saat diberikan waktu untuk bisa lebih mengenalinya. Tapi niatku itu terhenti saat Arie mulai ta’arruf dengan salah seorang teman wanitanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu bernama Ardina, sama dengan Arie dia juga wanita yang cemerlang. Semua setuju bahwa mereka pasangan yang sangat ideal. Entah apa sebabnya, atau memang mereka tidak ditakdirkan  berjodoh, akhirnya taaruf antara mereka tak berlanjut ke jenjang pernikahan. Dina akhirnya menikah dengan ikhwan yang lain dan Arie menikah denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan masalalu antara mereka terkadang masih membuatku cemburu. Tapi cinta Arie terlalu kuat untukku dan anak-anak kami, sehingga mengalahkan semua hal yang terasa tidak penting untuk difikirkan. Karena kehidupan kami memang sangat bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda,.. tolong buka emailnya ya,..ayah ngirim sesuatu buat bunda” begitu isi pesan singkat yang dikirim mas arie kepadaku. Mungkin harus segera dibuka pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengantarkan anakku kayla ke sekolah aku mulai jelajahi situs-situs untuk bahan tulisanku dan  mengecek deretan email yang mungkin penting untuk di baca. Ternyata benar mas arie mengirimiku sebuah email forward dari seorang teman pula.&lt;br /&gt;Nafasku berhenti sejenak, merasakan sesuatu yang tidak biasanya. Mataku cemas membaca judul email itu “permintaan hati”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Assalamua’laikum Arie….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah untuk beberapa lama aku menyimpan niat untuk mengirimimu pesan ini. Berulang kali aku kembali bertanya dalam hati, mudah-mudahan ini bukan hanya keinginan nafsu belaka melainkan keinginan untuk bisa beribadah bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali beraktivitas bersamamu, kembali mengingatkanku akan masa ta’aruf kita dulu. Allah memang selalu punya rahasia di balik semua ini. Begitu juga dengan statusku yang sekarang menjadi janda sepulang suamiku di sisi Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus kuakui aku merasa kesepian tanpa anak dan suami. Aku butuh teman untuk berbagi banyak hal dalam hidupku. Mungkin karena aku telah terbiasa memiliki seseorang yang selalu berbagi segala hal bersama membuat aku merasa lemah dalam kesendirianku.&lt;br /&gt;Arie maafkan aku sebelumnya, aku tak berniat menjaga atau bahkan memupuk perasaan ini. Namun berada di sampingmu dalam beberapa event telah memberikanku ketenangan yang hilang kurasakan sejak suamiku tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang kali aku bertanya pada Tuhan, mengapa Dia menitipkan cinta yang begitu dalam di hatiku pada seorang suami shaleh yang sangat mencintai keluarganya. Semakin ku coba melupakanmu, semakin aku merasakan bahwa aku memang telah jatuh cinta padamu. Aku mohon, maafkanlah keterusteranganku ini. Seperti kata Benjamin Disraeli “jangan pernah menyesal setelah anda mengungkapkan suatu perasaan, karena jika demikian, anda sama saja telah menyesali kebenaran”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ingin mengganggu ketenanganmu apalagi jika ini kemudian menjadi dosa di hatiku. Sungguh aku tak ingin melakukan itu semua.  Katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk memadamkan cinta ini, sementara hatiku bersikeras tak ingin cinta ini pergi dari hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arie hamba Allah yang aku cintai,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang kali aku membaca bagaimana tata cara polygami dalam agama kita. Aku yakin kau jauh lebih faham tentang hal ini.  Kau dan istrimu adalah hamba-hamba Allah yang shaleh. Kalian sangat mengerti syariat agama, polygami tak pernah terlarang dalam agama kita. Jika istrimu mengijinkan, aku mohon nikahilah aku untuk menjadi istrimu. Aku yakin laki-laki shaleh sepertimu dapat menjalankan peran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikapun tidak, maafkanlah jika aku masih tetap menyimpan cinta yang membara ini untukmu. Aku hanya menunggu sampai Sang Penitip cinta membalikkan hatiku agar berpaling darimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberikan kesempatan ini untukku…aminnn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamua’laikum wr. Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardina &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leherku terasa tercekat setelah membaca email dari Dina. Tiba-tiba kurasakan panas di kedua pelupuk mataku, air mataku pun jatuh perlahan seiring rasa takut kehilangan suami yang sangat kucintai. Aku yakin tak ada laki-laki yang mau menolak cinta seorang Dina. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan. Ku bertanya dalam hati dalam keadaan miris dan sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ayah,…bunda sudah baca email dari teh Dina” ku kirim pesan singkat itu ke Arie. Tak ada apapun yang mampu kutuangkan lewat sebuah pesan. Aku berharap saat ini Arie di depanku memelukku erat sekali, menghapus air mataku hingga membuatku tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ya sayang,..nanti kita bicarakan di rumah ya, ayah masih ada kerjaan yang harus diselesaikan hari ini. Tenang ya sayang,..ayah akan selalu bersama kalian selamanya”&lt;br /&gt;Kurasakan sendu merayapiku, menggetarkan tubuhku yang limbung dalam kelaraannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa tahun yang lalu bayangan wanita itu sempat membuatku mundur teratur untuk mencintai Arie. Namun kini dia datang lagi mungkin tak berniat menganggu keharmonisan rumah tangga kami, namun pengharapannya yang besar, keterusterangannya semakin membuatku sesak. Seperti lupa aku akan rasanya cemburu, kini Dina mengajarkannya lagi padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukumpulkan semua kekuatanku. Entah darimana datangnya rasa ingin mempertahankan apa yang aku miliki. Entahlah mungkin aku akan terlihat egois, namun hatiku benar-benar tak ingin berdusta karena perihnya mulai terasa. Tak mudah bagiku berjalan bertiga dalam satu perahu walaupun tujuan akhirnya adalah mengharapkan ridha Yang Maha Kuasa. Apapula indahnya jika malam dihiasi dua rembulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih berlinang airmataku, ku peluk Arie yang sedari tadi tersenyum melihatku menangis. Entah apa yang terselip di benaknya, Arie begitu tenang bahkan aku tak mampu menebak di balik ketenangan dan senyuman lembutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sekarang ayah ingin bunda yang menyelesaikan ini,…” arie menggenggam tanganku erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ketika wanita yang berbicara dari hati ke hati, maka semua akan terlihat jelas karena sesuatu yang belum difahami laki-laki tentang perasaan seorang wanita akan terselesaikan dengan sendirinya jika dibicarakan oleh sesama wanita, bundalah yang harus berbicara dengan Dina”. Arie kembali tersenyum sebelum melanjutkan kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ayah bangga memiliki bunda, ayah bangga saat bunda ingin mempertahankan ayah. Semua sekarang keputusan ada di bunda.  Ayah serahkan semuanya pada bunda, karena ayah yakin cinta kita terlalu besar untuk dipisahkan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya tiada hal yang lebih bahagia di dunia ini selain menyadari bahwa kita begitu sangat berarti. Bahwa kita begitu dipertahankan dan dicintai. Itulah yang aku rasakan dalam tiap kata-kata yang diucapkan arie malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku sodorkan sebuah amplop berukuran post card berwarna putih di depan Dina. Wanita itu menatap lekat benda yang ku geserkan ke arahnya. Seolah-olah belum pernah melihat benda yang berjudul amplop itu, Dina menatapnya sangat lama sebelum kemudian tangannya sempat ragu untuk meraihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ini apa dek Ifa ??,… Tanyanya dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ini surat buat teh Dina dari saya, saya pikir ada hal-hal yang bisa diungkapkan lewat lisan namun juga ada hal-hal yang lebih baik diutarakan lewat sebuah surat. Kalo teteh tidak keberatan mungkin lebih baik membacanya ketika teteh sudah di rumah ataupun di tempat yang menurut teteh lebih tenang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan saya tidak bisa menemani teteh menghabiskan minumannya karena saya harus menjemput Kayla pulang sekolah. Mudah-mudahan lain waktu kita bisa bertemu lagi untuk hal yang lain. Saya minta ijin pulang duluan,.. Assalamua’laikum” ucapku menutup pertemuan kami yang cukup singkat bahkan nyaris tanpa basa basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku bergegas pergi dari restoran tempat kami bertemu. Aku bahkan setengah berlari seolah telah berhasil melepaskan diri dari penjara ketidaknyamanan. Sama sekali aku tak membenci Dina karena meminta sesuatu yang belum mampu kupenuhi, bahkan aku telah memaafkannya bukankah setiap orang butuh dimaafkan??... Apalagi seorang Dina yang sangat faham syariat, jika bisa memilih tentu dia tak akan melakukan hal ini padaku.  Ku layangkan pandanganku ke sekitar, ku tarik nafas dalam-dalam bismillahirrahmaanirrahimmm moga ini bukan sebuah kesalahan. Ampuni hamba ya Rabb,..doaku lirih dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina membuka perlahan surat yang telah diberikan Alifa padanya pagi tadi. Duduk di sudut ruangan kerjanya yang dipenuhi berkas-berkas pekerjaan. Sore itu menunjukkan pukul empat sore, setelah shalat ashar Dina merapatkan tubuhnya ke jendela memperhatikan padatnya lalu lintas di luar sana dari jendela kantornya, sembari perlahan ingin mengetahui isi dari surat Alifa istri Arie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya gemetar menarik perekat amplop yang tertutup rapat. Sebenarnya sudah dari pagi tadi dia sangat penasaran ingin mengetahui apa isi dari surat itu. Namun ketakutan merayapinya jika saja isi dari surat itu akan mempengaruhi pekerjaannya yang membutuhkan fokus taraf tinggi. Sehingga dia memilih mengacuhkan rasa penasarannya demi profesionalisme kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Assalamua’laikum &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh Dina Yang dicintai Allah,…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari yang lalu mas arie menforward email dari teh Dina ke saya. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa mengungkapkan perasaan saya. Setelah membaca email dari teteh akhirnya saya mengerti bagaimana rasanya ketika cemburu itu membuncah di dada saya. Ya, email teh Dina telah menghadirkan rasa cemburu di hati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana saya harus menyampaikan hal ini pada teteh. Saya tidak ingin merasa telah menzalimi hamba Allah yang lain karena maksud dan isi dari surat saya ini yang mungkin akan menghadirkan sebuah luka di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam tahun yang lalu saya dan mas arie mendirikan bangunan pernikahan ini. Selama itu pula tak pernah ada hal yang begitu sulit untuk kami komunikasikan. sampai dengan saat ini, terus terang email teh Dinalah yang telah menghadirkan resah di hati saya sebagai seorang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh Dina yang saya hormati,…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak di bangku kuliah saya telah kenal baik dengan teteh, saya yakin banyak sekali kelebihan yang teteh miliki. Rasa-rasanya hampir tak ada laki-laki yang akan menolak cinta dari seorang wanita seperti teteh. Teteh bahkan punya segalanya yang didambakan oleh setiap laki-laki. Saya kenal betul teteh, bukan hanya saat ini tapi sejak dulu saat saya tahu bahwa pernah terjadi ta’aruf antara teteh dengan mas Arie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya seorang wanita sederhana yang mengabdikan hidupnya untuk suami dan anak-anak saya. Saya bahkan tak memiliki kelebihan yang teteh miliki kecuali suami yang sangat saya banggakan dan ternyata diam-diam teteh juga telah jatuh cinta padanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya mas Arie yang saya miliki dan membuat saya bergairah untuk hidup beribadah pada Allah. Hanya mas arie dan anak-anak kami yang membuat saya benar-benar mensyukuri hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saya salah jika hati saya tak rela membagi mas arie dengan teteh?? Walaupun syari’at agama kita membenarkan untuk hal itu. Apa saya salah mempertahankan satu-satunya hal yang sangat saya banggakan dalam hidup saya??...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan saya teh dina,…hanya mas arie satu-satunya kelebihan yang saya miliki. Jika hal itupun teteh minta untuk dibagi bersama. Saya tidak tahu bagaimana hari-hari yang akan saya lalui. Maafkan saya, mungkin tanpa sengaja saya dan mas arie telah menyakiti perasaan teteh dengan menolak permohonan teteh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh Dina yang dicintai Allah,…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa merasakannya bagaimana ketika cinta itu datang tanpa diminta kehadirannya. Terkadang bukan cinta yang salah, mungkin juga kita salah mencintai seseorang. &lt;br /&gt;Berulang kali saya mencoba untuk menenangkan hati saya berusaha untuk mengabulkan permintaan teteh. Tapi tiap kali itu pula saya gagal bahkan saya tidak bisa berpura-pura meluluskan permohonan teteh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya tidak meminta teteh harus melupakan mas arie. Tapi saya hanya meminta berilah kesempatan pada laki-laki shaleh lain yang di luar sana agar dapat hadir di hati teteh. Saya yakin banyak sekali laki-laki shaleh di luar sana yang siap untuk diajak beribadah bersama mengharapkan ridha dari Allah.&lt;br /&gt;Sekali lagi maafkanlah saya, semoga Allah mengampuni dosa saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamua’laikum wr.wb&lt;br /&gt;Alifa&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina menangkupkan kertas putih yang berisi permintaan hati dari seorang istri. Di luar kuasa Dina pun menangis, menangis karena telah menyakiti wanita yang menjadi istri sah Arie, menangis karena dia tak mampu menahan perasaan yang semakin hari semakin merekah di hatinya bak bunga mawar yang malu-malu menunjukkan helai demi helai kuntumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh Tuhan,..aku kembali bertanya, mengapa kau hadirkan cinta di hatiku yang mampu membuat luka hati yang lain??” lirih Dina dalam doanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh Tuhan,..Yang Maha membolak balikkan hati. Setelah kemaren aku tak berani meminta, hari ini kuteguhkan hatiku untuk memohon padamu, Jauhkanlah Arie dari hati hamba, padamkanlah cinta yang meluap-luap dari sisi jiwa hamba. Berikanlah hamba ketenangan dan keikhlasan untuk menerima ini semua”. Dina semakin terpekur dalam doanya yang mengalir bersama suara adzan magrib yang mendayu-dayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar sana, di balik jendela langit mulai kemerahan. Lalu lintas semakin padat. Dina mendapati dirinya seorang diri kerdil tiada arti tanpa kasih sayang Sang Pencinta. Air matanya semakin deras mengalir ditemani suara Iqamat pertanda shalat magrib akan segera dilaksanakan. Dina bergerak perlahan, menguatkan hatinya untuk bertemu Sang pemilik hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hatiku memang sakit, namun aku yakin hati seorang istri yang diminta berbagi suaminya denganku jauh lebih merasakan sakit dari apapun yang kurasakan saat ini”….&lt;br /&gt;Dina bergegas mendirikan shalat, bergegas pula menata hatinya kembali. Berharap Semoga Allah memberikan cinta yang lain di hatinya. Ya,..ini hanya sebuah fase yang harus dilalui oleh hati-hati di muka bumi ini every dark light is followed by a light morning, setiap malam yang gelap selalu diikuti pagi yang tenang. Semoga,…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 23 february 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aida_affandi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-6024112898050556795?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/6024112898050556795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/permintaan-dari-hati.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/6024112898050556795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/6024112898050556795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/permintaan-dari-hati.html' title='Permintaan Dari Hati'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S4d7KGayoJI/AAAAAAAAACk/XMERy_7KMr4/s72-c/luna_noche.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-294089969124561023</id><published>2010-02-24T02:17:00.001-08:00</published><updated>2010-02-24T02:20:43.110-08:00</updated><title type='text'>Aku dan Laki-laki itu</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S4T9bgP8g4I/AAAAAAAAACc/uGS_wnutZDY/s1600-h/pic2454.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 86px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S4T9bgP8g4I/AAAAAAAAACc/uGS_wnutZDY/s320/pic2454.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441752898725512066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Masih kulihat di ujung sana,…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberkas sinar memberikanku terang,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk berani melangkah walaupun sesulit apapun,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak akan berputus asa,..&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mataku nanar menatap lampu kamarku yang redup, kutatap sekelilingku bunga-bunga mawar merah dan melati masih bertebaran di lantai kamar pengantinku. Masih ku tatap wajahku yang  penuh dengan make up selepas resepsi pernikahanku dengan Bima. Rasa bahagia masih sangat terasa, namun terkadang gundah sering merajai sudut hatiku yang karam dalam ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bima tersenyum memandangku, memberikan senyuman terindahnya untuk istri yang baru pagi tadi ia nikahi. Masih terasa syahdu kalimat ijab dan qabul yang memenuhi relung kalbuku, namun tiba-tiba sekelebat perih kembali membahana jiwa rapuhku. Bima masih tetap tersenyum sembari memijat lembut kedua bahuku yang terasa kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;//“Apa kau sangat bahagia dengan pernikahan kita sayang”//Bima memelukku sembari memberikan kecupan yang lembut di pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam, masih tetap memandangnya dengan senyumanku yang sedikit kutahan. Pikiranku masih berlari ke sana kemari mencari sudut yang tepat untuk meletakkan terminal ketenangan itu. Bukankah kemarin aku telah berjanji bahwa terminal kedamaian itu ada pada Bima, yang mampu membuat aku lebih kuat dari hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama kutetapkan hatiku untuk bangkit dari keterpurukan yang tak pernah aku inginkan, keinginan untuk menjadi kuat itu semakin ada dengan kehadiran Bima yang selalu menjadi sahabat yang penuh semangat dan cinta. Sekali lagi, aku tak ingin menjadi tiada dalam ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;No matter how hard the past, you can always begin again,… &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti biasanya aku mengendus sikap yang aneh dari bang Madi, laki-laki bertubuh kecil berperawakan aneh, yang paling ku ingat batang hidungnya yang sangat menonjol dari sekian organ di wajahnya persis seperti Petruk seorang tokoh dalam pewayangan. Tubuh kecilku berontak, melepaskan setiap genggaman kuat Bang Madi seorang penjaga sekolahku tepat di halaman belakang sekolah tempat aku sering memanjat pagar yang banyak ditumbuhi tumbuhan Passiflora quadrangularis L aku sering menyebutnya konyal atau buah markisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebun belakang sekolah adalah tempat favoritku di sekolah ini. Bahkan itu sudah menjadi rutinitasku berpamit dengan tanaman-tanaman sebelum menggayuh sepeda kecilku lalu pulang ke rumah. Rutinitas kali ini berganti dengan tragedi yang tak akan ku lupa seumur hidupku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku terlalu lemah dan kecil untuk dapat melepaskan diri dari setiap kuncian tangan bang Madi pada setiap tangan dan kakiku. Entah bagaimana caranya dia mampu begitu cepat melumpuhkanku padahal aku telah berusaha sekuat tenagaku. Namun aku ingat aku hanya seorang anak kelas 1 sekolah dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berteriak tapi tanpa suara, bahkan aku nyaris tak mampu bernafas karena telapak tangan bang Madi yang besar memenuhi mulut dan hidungku yang kecil. Tak ada seorangpun yang mendengar teriakanku yang dibungkam bang Madi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”sssssttttt,…tenang anak manis, bang Madi hanya mau bermain-main saja denganmu, kita ambil buah Markisa mau kan??”// dengus laki-laki berumur 30 tahunan itu di telingaku. Tubuhnya berbau keringat membuatku mual dan pusing. Rasanya hilang semua kekuatan dalam diriku, saat dia menggendong tubuhku ke kamar mandi belakang sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar mandi itu berukuran besar namun di bagian atasnya  terbuka lebar  tanpa atap. Sekelilingnya hanya berdinding tembok tinggi. Di dekat kamar mandi itu hanya ada satu bangunan perpustakaan sekolah yang jika siang hari seperti ini akan sangat sepi. Laki-laki itu tak melepaskan tubuhku sedetikpun dari gendongannya. Aku menangis sesenggukan setelah lelah menangis sambil berteriak karena tak seorang yang mendengarkan jeritan histerisku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh kecilku menggigil ketakutan di sudut kamar mandi menyaksikan bang Madi melucuti satu persatu celana panjang hingga pakaian dalamnya. Dia menatapku penuh gairah seperti bertemu wanita dewasa yang akan memenuhi nafsu birahinya yang membludak hingga ke ubun-ubunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah mengerti mengapa ada kelainan seksual seperti ini, aku yakin semua orang setuju dengan pendapatku bahwa kelainan seksual seperti ini sangat biadab karena korbannya adalah anak-anak yang masih sangat polos dan tanpa dosa. Bukan hanya saja biadab tapi sangat menghancurkan masa depan si korban secara kejiwaan. Aku tak bisa membayangkan generasi selanjutnya yang akan hadir dengan penyakit jiwa semacam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo pipis dulu anak manis,..Bang Madi buka celana mu ya biar ga ngompol” tanpa persetujuankupun laki-laki itu memaksa melucuti celana dalam ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mau pipis,…aaaku mau pulang,..Bunda pasti sudah menungguku” terbata-bata aku menyusun kalimat itu bahkan bibirkupun bergetar mengucapkannya. Bang madi hanya tersenyum namun ada sedikit gusar di bola matanya yang bercampur dengan keinginan bejatnya tadi, sehingga tatapan matanya membuatku takut yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Madi mulai menunjukkan aksi gilanya, dia menggendong tubuhku yang dingin menggigil. Dengan kejam dia memasukkan alat kelaminnya yang besar itu. Aku berteriak luar biasa sakitnya, mengapa ada orang gila seperti bang Madi yang menyiksa anak kecil seperti diriku. Pikiran anak kecilku tak pernah memikirkan bahwa dia mempunyai kelainan seksual. Yang ku tau bang Madi orang jahat yang suka menyakiti anak-anak seperti aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeritanku justru semakin membuat bang Madi bergairah, matanya terpejam merasakan sensasi yang dahsyat atas perlawanan yang aku lakukan. Nafasnya yang terus memburuku. Penyakit itu benar-benar telah menggerogoti dirinya, menyakiti kejiwaan dan pikirannya. Belum puas dengan itu dia memaksaku menyentuh kelaminnya. Aku benar-benar ingin muntah mencium aroma cairan yang keluar dari kelaminnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelaminku terasa sakit, sangat sakit seperti disayat pisau yang karatan, bang Madi melepaskan gendongannya dan membiarkan aku menangis menahan sakit di sudut kamar mandi. Bang Madi membelakangiku, setelah tak berhasil menghujamkan kelaminnya di antara selangkanganku. Sekilas aku melihat bang Madi melakukan sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya, dia seperti melakukan sebuah “pesta” besar dengan kelaminnya. Setelah dewasa aku baru tahu bahwa dia sedang masturbasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap ke arah langit yang sedikit mendung, aku hanya ingat bunda,aku mau bunda menolongku.  Allah Yang Maha Kuasa dengarkan aku begitu ucap bunda suatu kali mengajarkanku meminta pertolongan dariNya. Pintu kamar mandi yang tidak dikunci dan posisi bang madi yang membelakangiku memberikanku kesempatan untuk lari dari kenyataan yang menyakitkan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah mengendap-endap aku menuju ke arah pintu. Aku berlari sekuat tenaga ketika bang madi mendesah kencang merasakan orgasme. Tentu saja dia tak sempat menghadangku bahkan mengejarku karena posisinya yang tak mungkin untuk mengejarku. Dari kejauhan aku hanya mendengar bahwa dia mengancamku jika berani membuka cerita ini pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeda kecilku oleng ke kanan ke kiri menahan bobot tubuhku yang linglung menggayuh sepeda. Jarak rumahku yang tak terlalu jauh dari sekolah terasa sangat jauh seperti melalui beberapa gunung dan bukit. Rasanya begitu jauh untuk memperoleh dekapan bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umurku baru 6 tahun merasakan kejadian yang luar biasa menyakitkan ini. Aku tak pernah menyangka Bang Madi akan berlaku sekejam itu padaku. Selama ini sikapnya sangat santun bahkan selalu baik dan menyenangkan anak-anak yang duduk sekelas denganku di Sekolah Dasar ini. Namun aku baru mengetahui begitulah seorang pedofil mendekati calon korbannya. Berusaha keras untuk mendapatkan kepercayaan dari orang-orang terdekat seperti guru-guru di sekolahku sebelum menjalankan aksi biadabnya. Bahkan usaha untuk memperoleh kepercayaan itu bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan pulang aku sangat menyesal tidak mematuhi pesan bunda kalau selesai sekolah harus langsung pulang. Ternyata berakibat demikian beratnya padaku. Ku lempar saja sepedaku di halaman rumahku. Nafasku berderu sangat cepat memaksaku untuk duduk diam sejenak di depan rumahku. Masih kurasakan aroma keringat bang Madi yang ingin membuatku muntah. Takut, aku sangat ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa Kayla?? Dikejar anjing galak di simpangan jalan masuk ke komplek lagi??” bunda memelukku lembut sambil menyodorkan minuman dingin untukku. Keringat dingin membasahi tubuhku, wajahku pucat pasi namun aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa hilang keberanianku untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Bunda di kali pertama bunda menanyakan hal ini. Wajah bang Madi yang mengancamku sebelum aku lari sekuat tenaga tadi masih terlihat jelas di mataku, seolah-olah kejadian itu merupakan kesalahanku. Sekarang ketakutan justru mengalahkan keberanianku untuk mengungkapkan apa yang baru saja  terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Kayla,..bangun anak pinter, kan harus sekolah jangan sampai terlambat loh” Bunda membangunkanku dari tidurku yang kurasa sama sekali tak nyenyak malam ini. Kepalaku sedikit pusing karena berulang kali terbangun serasa berada dalam mimpi buruk yang berkepanjangan dan tak pernah ada akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda,..Kayla ga enak badan nih, kepalanya hanget neh” aku mencoba membohongi bunda supaya hari ini aku tidak ke sekolah lagi. Bunda meraba keningku yang sama sekali tidak panas. bunda mengernyit sejenak, mungkin sedang berfikir ada apa denganku yang biasanya sangat rajin ke sekolah tiba-tiba hari ini memilih di rumah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“wajahmu memang agak pucat, tapi badanmu sama sekali tidak panas anak manis” bunda memastikan bahwa aku baik-baik saja, tapi ya sudah biar hari ini di rumah saja mungkin sehari istirahat sudah cukup, besok kamu harus sekolah ya pinter” bunda berlalu dari hadapanku, aku bersorak dalam hati hari ini aku tak akan melihat tampang laki-laki seperti hantu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku beranjak ke kamar mandi, sedikit meringis dan mataku berkaca-kaca menahan sakit pada selangkanganku. Aku sungguh merasakan perih, aku tak sanggup menahannya. Aku menangis menahan nyeri yang semakin lama semakin perih ketika diguyuri air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda,..pipis Kayla sakit,..aku merengek menangis mencari bunda. Saat merasa sakit seperti ini hanya bunda yang paling mengerti kondisiku. Aku menangis merengek di pangkuan bunda. Dengan cekatan bunda mencari sumber sakit yang aku rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat dengan jelas wajah bunda yang berubah menjadi kaget begitu melihat kelaminku terdapat memar dan lecet dengan sigap bunda mengambil air hangat untuk mengompres lukaku. Rasa perihnya semakin menjadi saat bunda membersihkan lukaku. Sekilas kulihat wajah bunda yang panik dan penuh selidik ingin segera mengetahui apa sebenarnya yang terjadi padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kayla,..ini lukanya tidak wajar sayang, cerita sama Bunda..apa kayla jatuh atau ada seseorang yang menyakiti kayla..Cerita sama bunda ya nak” bunda terlihat berkaca-kaca, ketika dewasa aku baru bisa membayangkan bagaimana perasaan khawatir dan sedihnya sebagai seorang ibu ketika sesuatu yang buruk terjadi pada buah hatinya. Aku masih tetap diam memandang bunda yang mulai menitikkan air mata. Berulang kali bunda meyakinkan aku, bunda akan selalu menjagaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutku yang kemaren terkunci untuk menceritakan hal ini akhirnya mengeluarkan kata-kata yang membuat hati bunda semakin miris. Air matanya semakin bercucuran, namun dia berusaha menguatkan dirinya agar aku juga tidak takut untuk menutupi semua kejadian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda segera berganti pakaian, begitu juga dengan aku. Aku tak tahu hendak kemana bunda membawaku. Selama ini bunda memang menjadi single parent semenjak ayahku telah tiada. Aku baru tahu kalau bunda membawaku ke sekolah setelah memarkirkan motor bebeknya di parkiran sekolah. Jantungku langsung berdegub kencang. Aku takut jika harus bertemu dengan bang Madi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kenapa kita harus ke sekolah bunda?? Aku tidak mau,…”aku menangis tidak mau turun dari boncengan bunda. Tapi bunda hanya diam dan mencoba bersikap setenang mungkin. Bunda menatap ke sekeliling sekolahku. Tidak terlihat bang Madi yang biasanya nongkrong di depan kantin sekolah untuk menyiapkan minuman untuk guru-guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda menggendongku yang masih tetap menangis dalam pelukannya. Dadaku sesak, ku peluk bunda dengan sedikit gemetar. Bunda melangkah perlahan ke ruangan kepala sekolah dengan tujuan yang jelas. Aku bisa merasakan dada bunda yang naik turun menahan marah, sedih dan kekecewaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan itu beralaskan karpet hijau yang memenuhi semua ruangan, kipas angin yang berputar ke kiri ke kanan mampu menahan sedikit suhu yang panas hari ini. Namun aku tahu panas di hati bunda sama sekali tidak hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya hanya ingin sekolah melaporkan kejadian yang dialami Kayla, saya yakin anak-anak yang lain juga akan menjadi korban selanjutnya jika tidak segera bertindak. Bundaku tiba-tiba menjadi sangat tegas ketika melihat gelagat dari pihak sekolah yang tak begitu mau diributkan dengan masalah penjaga sekolahnya ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong,…apa Bapak bisa membayangkan bagaimana perasaan saya sebagai seorang ibu Kayla yang anaknya menjadi korban kebejatan Madi Penjaga sekolah ini. Saya hanya ingin bapak berganti sejenak 10 menit saja merasakan apa yang saya rasakan sebagai seorang ibu. Seharusnya anak saya di usia seperti ini bisa merasakan masa-masa bermain dan belajarnya, namun sekarang hidupnya penuh dengan ketakutan dan kecemasan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda berlinang airmata saat menceritakan kejadian yang aku alami. Saat bunda menangis aku baru menyadari betapa besar cinta seorang ibu. Walaupun saat itu aku belum begitu mengerti bagaimana mengungkapkan kasih sayang, tapi aku sangat yakin air mata yang berlinang, emosi bunda yang meluap karena amarah merupakan salah satu bentuk besarnya cintanya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang harus saya lakukan selain memberikan therapy untuk Kayla, saya tak ingin dia tumbuh menjadi anak yang merasa rendah diri, takut bahkan saya takut bisa berakibat fatal yang lainnya, tak jarang anak-anak korban pedofil menyayat tubuh mereka. Saya tak akan menuntut pihak sekolah, saya hanya minta sekolah melaporkan Madi ke polisi. Sementara urusan kejiwaan Kayla saya akan mengatasi sendiri” bunda mengeluarkan uneg-uneg di hatinya atas kekecewaan yang teramat sangat dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala sekolahku tak segan mengucapkan terimakasih untuk melaporkan kasusku, ternyata sekolah ini juga memikirkan nama baik sekolahnya dan anak-anak murid yang juga bisa menjadi korban selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja bang Madi tidak hadir lagi di sekolah semenjak kejadian itu. Bahkan dia menghilang entah kemana, tak ada seorangpun yang tahu dimana keluarga bang Madi karena bang Madi sangat tertutup untuk hal-hal bersifat pribadi. Menurut Richard Von Kraft-Ebing seorang ahli kejiwaan dari Austria begitulah kebanyakan seorang pedofil, mempunyai sifat tertutup, hanya menyukai sex dengan anak-anak dan bukan dengan orang dewasa. Kehidupannya juga sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain mungkin karena diusir atau menutupi kedoknya. Pedofil terlihat sangat ramah pada anak-anak tapi kenyataannya mereka predatori yang akan mengejar korbannya kemanapun hingga mendapatkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (Albaqarah : 153)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sulitnya bunda menghadapi keadaan ini sendirian, belum lagi melaporkan kasus ini ke polisi selalu saja harus berhadapan dengan sistem birokrasi negri ini yang bertele-tele dan memakan biaya dan waktu yang lama. Tapi aku tak pernah melihat kesabaran yang luar biasa dari seorang ibu seperti yang bunda lakoni sekarang ini. Keadaan ini semakin membuat aku mencintai bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin sekali banyak di luar sana yang mengalami hal seperti yang aku alami, tapi jarang yang mau melaporkan karena mungkin akan menjadi rumit jika harus melapor. Belum lagi hukuman untuk seorang pedofil hanya dijerat 15 tahun penjara dan denda 300juta rupiah, aku pikir itu tak akan sebanding dengan trauma yang dialami anak-anak sepanjang umurnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa kali aku harus bolak balik ke dokter lalu bertemu dengan om yang berpakaian rapi dan sangat baik. Kata bunda aku sedang ditherapy, aku mengikuti saja ajakan bunda. Terkadang aku terbangun di malam hari karena mimpi buruk, aku tak mendapati bunda di tempat tidur bersamaku, tapi aku selalu melihat bunda dengan mukenanya dalam sujud yang dalam dengan linangan air mata. Begitulah bunda menjalani hari-harinya dengan shalat dan kesabaran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;People should always try to take the bad things that happen to them&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;in their lives and turn them into something good...&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda adalah ibu yang luar biasa, aku akui aku memang mengalami trauma dengan kejadian itu, namun aku tak menyangka mampu melewati masa kecilku dengan indah dalam artian tak jauh berbeda dengan anak-anak yang lain. Bunda selalu mengatakan bahwa aku anak yang kuat, bahwa aku anak yang berani menghadapi sesulit apapun kondisi dalam hidup ini. Aku sudah pernah terlatih dengan kehilangan ayahku di usia 3 tahun, padahal saat itu saat-saat yang indah bersama ayah. Sekarang aku terkuatkan oleh cinta bunda untuk menjadi kuat dan semakin kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 22 tahun yang lalu, apa aku sudah melupakan kejadian itu?? Tentu saja jawabannya tidak. Aku sama sekali tidak melupakan kejadian yang sangat buruk itu. Tapi aku menghadapi ketentuan yang telah digariskan padaku untuk berani menghadapi dan menjadi pejuang sejati, bukan menjadi yang kalah. Jika aku bisa memilih tentu aku ingin masa kecilku dilalui dengan hal-hal yang indah, jika aku mampu menghapus kisah buruk itu tentu aku akan menghapusnya, tapi aku tak punya kekuatan untuk itu. Aku hanya punya kekuatan untuk melangkah ke depan menjadi orang yang bertanggung jawab atas masa depan yang aku dambakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kagum pada Oprah Winfrey karena kegigihannya melawan kondisi yang serupa. Ketika berumur 9 tahun juga mengalami pelecehan seksual oleh sepupunya sendiri dan harus hamil di usia muda, tapi tak ada satupun yang menyangka bahwa ia bisa menjadi seperti sekarang ini, menjadi orang yang terkenal dan salah satu orang terkaya di dunia. Jadi, aku pikir tak ada satupun alasan untuk aku putus asa dengan masalaluku, aku harus kuat karena aku memang punya kekuatan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo,..ngelamunin apa neh” tiba-tiba Bima menepuk pipiku. Ternyata aku telah mendiamkannya cukup lama. Ini malam pengantin kami, bagaimana mungkin aku membiarkannya menunggu lama. Walaupun masih sedikit kaget, aku menyambut pelukan hangat suamiku tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau masih teringat kejadian itu cinta? Bima memelukku dari belakang, memberikanku ketenangan. Aku bersyukur menemukan Bima untuk menjadi salah satu bagian dari sepanjang hidupku di dunia. Aku bersyukur memiliki bunda yang super perhatian, aku bersyukur begitu banyak orang-orang yang menyayangiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kejadian itu memang masih ku ingat, tapi yakinlah semua itu tak memberi pengaruh apapun untuk kita di malam ini dan selanjutnya” Bima tersenyum setelah mendengar ucapanku yang penuh keyakinan. Aku rasa semua orang berhak untuk bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (Alfurqan : 02)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Untuk semua paedophilia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan hancurkan masa depan anak-anak kami&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-294089969124561023?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/294089969124561023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/aku-dan-laki-laki-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/294089969124561023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/294089969124561023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/aku-dan-laki-laki-itu.html' title='Aku dan Laki-laki itu'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S4T9bgP8g4I/AAAAAAAAACc/uGS_wnutZDY/s72-c/pic2454.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-4449900778302198858</id><published>2010-02-22T19:22:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T19:37:22.078-08:00</updated><title type='text'>Kuijinkan Kau menikahinya</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S4NNZfB4JYI/AAAAAAAAAB8/ahqmR6WtXjw/s1600-h/muslimah1a1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S4NNZfB4JYI/AAAAAAAAAB8/ahqmR6WtXjw/s320/muslimah1a1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441277875015132546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Wahai yang maha memiliki hati,..&lt;br /&gt;Ikhlaskah aku membagi pujaan jiwaku pada yang lain,..&lt;br /&gt;Wahai yang maha penyemat cinta,..&lt;br /&gt;Ajarkan aku tentang keikhlasan,..&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulepaskan mukena lebarku yang berwarna putih terang, sembari menatap sajadah coklat yang bergambar abstrak yang masih terbentang lebar di depanku. Pikiranku menerawang pada wajah suamiku tercinta. Wajahnya teduh, tatapannya sangat menyejukkan. Wajahnya tampan, hidungnya mancung, wajahnya putih bersih. Di sepanjang dagunya tumbuh lebat bulu-bulu halus yang semakin menambah ketampanannya. Suamiku sudah tidak muda lagi, umurnya pun sudah 40 tahun lebih. Namun kharisma dan ketenangannya mampu mengalihkan perhatian seorang wanita muda sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini suamiku pujaan jiwaku menikah untuk kedua kalinya. Menikah dengan seorang wanita yang jauh lebih muda dari usiaku. Terkadang sedih menyelinap pelan-pelan di sudut hati dan pikiranku. Mungkin keikhlasan itu begitu sulit saat berhubungan dengan kata cinta. Namun kemaren aku telah menetapkan hati membagi cinta antara aku, suamiku dan wanita yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dan Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim, maka kawinilah wanita-wanita yang lain yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (An-nisa’ ; 03)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku Furqan, dia seorang Guru Pengajian di lingkungan tempat kami tinggal, kegiatan sehari-harinya mengajar di pondok pesantren khusus untuk bapak-bapak dan ibu-ibu yang kebanyakan pensiunan dan sudah lansia. Terkadang Furqan juga sering mengisi pengajian di beberapa tempat bahkan hingga keluar kota. Sebagai seorang istri, kegiatanku juga tak jauh berbeda dengan suamiku. Mengajarkan anak-anak usia sekolah mengaji dan belajar agama di rumah. Sesekali juga ikut mengisi pengajian ibu-ibu di komplek perumahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini kami telah bersama dalam ikatan pernikahan selama 18 tahun. Tak ada yang kurang dalam pernikahan kami, semua indah dan terasa begitu menyenangkan hidup bersama Furqan dan kelima putra putri kami. Furqan sangat lembut dan santun. Tak sekalipun dia berucap kata-kata kasar bahkan menyakiti hatiku, malah dia memanggilku Cinta sebagai panggilan kesayangannya untukku. Sebagai seorang Ayah, Furqan juga selalu menanamkan nilai-nilai yang santun pada anak-anak kami. Furqan memang seorang &lt;br /&gt;Imam yang bertanggung jawab dalam keluarga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari pertama kami menikah Furqan mengatakan sesuatu yang sangat membahagiakanku. Membawaku melambung  tinggi dalam genggaman cinta yang meluap-luap antara kami. Memberikanku sebuah keyakinan bahwa kami hanya satu dan tak ada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; /” Sayangku, hari ini aku menikahimu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Ijinkan aku menegurmu jika kau berbuat keliru, kuijinkan kau menegurku jika aku berbuat keliru pula. Jadilah pujaan hatiku, sekaligus istri dan sahabat untukku. Karena aku tlah berjanji dalam hatiku bagiku kau satu selama hidupku di dunia ini”/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam pertama kami begitu indah, Furqan selalu berwudhu terlebih dahulu sebelum mendekatiku. Berbisik membacakan doa di ubun-ubun kepalaku sebelum memberikanku kecupan yang lembut. Janji Furqan di malam itu begitu nyata dalam hidupku. Begitu damai terasa hingga di usia pernikahan kami yang ke 18 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqan sering pulang hampir tengah malam untuk mengisi beberapa pengajian di beberapa tempat. Terkadang dia menggendongku ke kamar karena aku ketiduran menunggunya pulang. Furqan sungguh suami yang romantis, sangat pengertian. Di tengah malam dia sering membangunkanku untuk tahajjud. Terkadang tak sungkan dia sudah menyiapkan sarapan buat kami saat aku merasa kelelahan. Pernah suatu saat dia membelai tanganku yang penuh luka karena alergi dengan zat kimia yang terdapat dalam deterjen, lalu keesokan harinya dia memberikanku hadiah mesin cuci. Terlalu banyak hal yang membuatku begitu bangga pada sosok suamiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu Juma’t sore seperti biasa aku mengisi pengajian di pengajian mingguan komplek. &lt;br /&gt;Dalam pengajian itu sudah berkumpul banyak sekali perempuan-perempuan yang masih remaja, dewasa bahkan sudah nenek-nenek. Aku hanya bisa mengingat wajah dan nama mereka yang agak familiar di mataku dan selalu rutin datang di pengajian. Selebihnya aku tak begitu ingat karena sering terlihat absen di pengajian. Setelah pengajian usai dan mulai sepi, kulihat salah seorang dari ibu-ibu pengajian menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Ustadzah Furqan, boleh kita berbicara empat mata untuk sesuatu hal yang saya rasa agak penting untuk ustadz Furqan”/ wajah wanita itu begitu serius menatapku. Wanita itu adalah Ummi Syathira, dia istri dari Ustadz Ridwan yang juga bersahabat dengan suamiku Furqan. Penuh tanya hatiku ingin mengetahui apa sebenarnya yang ingin dibicarakan Ummi Syathira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”saya baru tahu dari suami saya yang ikut mengisi pengajian dengan ustadz Furqan tempo hari di depok. Katanya ini sudah berlangsung beberapa bulan terakhir ini, hingga salah seorang ibu dari anggota jama’ah pengajian menyampaikan hal ini kepada suami saya”/ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi Syathira begitu hati-hati menjelaskan seluk beluk cerita yang akan dia sampaikan kepadaku, malah terkesan jangan sampai ada yang ketinggalan, dikurangi dan dilebih-lebihkan. Ummi Syathira faham benar bagaimana ajaran agama islam mengajarkan ketika menyampaikan amanah sebaiknya tidak mengurangi dan tidak melebihkan isi dari amanah orang lain. Sehingga tidak ada hal-hal yang dapat merusak sebuah amanah. Aku diam sejenak dan memperhatikan arah pembicaraan Ummi Syathira yang belum aku fahami sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Maafkan saya Ustadzah,..saya tidak tahu apakah seharusnya menyampaikan hal ini pada ustadzah, karena beberapa orang jama’ah pengajian yang di depok juga sudah mengetahui tentang hal ini, saya khawatir jika sekiranya sampai ke telinga ustadzah akan banyak suara-suara yang kurang baik nantinya”/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”katakanlah Ummi,..Insya Allah saya siap mendengarkan berita apapun dari Jama’ah di depok”/ ucapku dengan penuh ketenangan walaupun wajahku tak mampu menyembunyikan gurat penuh tanya di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku benar-benar tak bisa tenang setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Ummi Syathira sore tadi, aku mulai bingung harus seperti apa menghadapi situasi seperti ini. Baru kali ini hatiku begitu gundah memikirkan suamiku Furqan, baru kali ini aku begitu resah menghadapi permasalahan hidupku. Dan masalah itu berhubungan dengan Furqan. Kata-kata ummi Syathira kembali terngiang-ngiang di telingaku, seperti kalimat yang terus menghantuiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadzah,..wanita itu salah satu Jama’ah rutinnya ustadz Furqan, sudah hampir 1 tahun dia ikut pengajiannya ustadz Furqan di depok, sebagian besar jama’ah rutin depok melihat sudah banyak perubahan yang terjadi dalam diri wanita itu semenjak ikut pengajian dengan Ustadz, dia telah menggunakan kerudung dan menutup auratnya dengan baik, bukan hanya itu sikapnya dan cara berfikirnya juga jauh dari kata glamour. Sungguh perubahan yang sangat luar biasa. Menurut cerita dari pimpinan pengajian di sana, awalnya dia hanya mengagumi saja kewibawaan ustadz Furqan, Hingga sesuatu hal yang memprihatinkankan terjadi, beberapa bulan yang lalu wanita itu baru menyadari bahwa dia benar-benar telah jatuh cinta pada ustadz Furqan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di situ hatiku tiba-tiba berdegup kencang, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tak mampu menampik pesona yang dimiliki seorang Furqan. Furqan memang tipe laki-laki shaleh yang sangat Nice Guy  sekaligus juga Womanizer, wajar saja banyak wanita bahkan ibu-ibu begitu menyukainya. Begitu juga dengan kasus wanita muda ini, Tentu saja mungkin aku tak perlu banyak memikirkan tentangnya jika dia hanya sekedar menaruh simpati dan jatuh cinta pada suamiku. Namun kata-kata Ummi Syathira selanjutnya begitu menyayat hatiku sebagai seorang wanita yang dinikahi oleh Furqan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Ustadzah,..wanita itu sudah hampir 1 bulan ini sakit berat, semenjak terakhir kali bertemu ustadz Furqan di pengajian bulanan kemaren. Ternyata cinta telah sangat menyiksa dirinya, dia berusaha menahan perasaan cintanya karena dia tahu perasaannya salah dan tidak halal karena jatuh hati pada seorang pria yang sudah beristri, ternyata bukan hanya itu saja yang menyebabkan sakitnya semakin menjadi, pengharapannya terlalu besar untuk dapat menikah dengan ustadz Furqan. Tapi dia sangat kecewa ketika mengetahui bahwa ustadz Furqan tidak bersedia berpoligami, karena begitulah janji ustadz Furqan pada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa wanita itu hancur seketika, jantungnya menjadi lemah dan tak berdaya untuk bekerja. Paru-parunya tersendat-sendat memberikan pasokan oksigen untuk tubuhnya. Pikirannya dipenuhi tentang ustadz Furqan, beberapa minggu yang lalu sebelum sakitnya semakin parah, ibunya menemukan beberapa amplop berwarna peach yang ditujukan kepada ustadz Furqan. Ternyata dia ingin sekali menyampaikan kata hatinya selama ini. Surat itu akhirnya tak pernah ia sampaikan, dia hanya menyimpan harapan, semoga suatu saat nanti Allah memberikan kesempatan padanya untuk berdampingan hidup di samping ustadz Furqan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/“Ya Allah yang Maha Pengasih, apa yang harus aku lakukan. Aku tak ingin menyakiti orang lain, namun aku juga tak ingin kehilangan Furqan suamiku, apalagi jika harus berbagi cinta dengan wanita lain. Wahai Rabbi, hatiku begitu resah, ketakutanku semakin menjadi, pikiranku penuh kegalauan. Tolong tunjuki hamba jalan menuju pintu kebijaksanaan itu ya Rabb...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari hatiku terus gundah gulana, kusimpan semua galau itu dipundakku. Tak ingin kuberi cemas di hati Furqan akan kegalauanku ini. Apalagi Furqan tak pernah berbicara apapun prihal seorang wanita yang jatuh hati padanya itu. Menurut ummi syathira, Furqan memang tidak mengetahui tentang kejadian yang ikut membawa namanya itu. Berulang kali aku menengadahkan tangan memohon petunjukNya, Aku ingin tenang dan setenang mungkin menghadapi kondisi sulit seperti ini. Entah mengapa aku memutuskan mengambil langkah ini semoga menjadi awal yang baik bagiku dan Furqan. Ku dial nomer  telpon rumah Ummi Syathira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Assalamua’laikum ummi,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Wa’alaikumsalam ustadzah,..ada yang bisa saya bantu??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/“Ummi, tolong antarkan saya untuk melihat kondisi wanita itu. Saya pikir saya perlu bertemu dengannya untuk melihat keadaannya”/ ucapku lemah kepada ummi Syathira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Baiklah,Insya Allah  nanti sore saya jemput ustadzah, kita sama-sama melihat keadaan wanita itu”/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memberitahukan Furqan untuk melihat teman pengajian yang sakit di depok. Aku menuju ke rumah wanita itu ditemani ummi syathira. Bersama pengurus pengajian di depok kami langsung melihat keadaan wanita itu. Sepanjang jalan aku hanya diam, sesekali ummi syathira mengajakku bercakap-cakap tentang Fiqh Wanita. Pengurus pengajian  menceritakan kepada ummi syathira bagaimana wanita itu bisa sakit hingga sedemikian beratnya dengan panjang lebar, andai dia tahu bahwa yang datang bersama ummi syathira adalah istri dari ustadz Furqan mungkin dia akan memilih untuk diam saja demi menjaga perasaanku sebagai seorang istri Furqan. Tapi kupikir lebih baik begini, jadi aku bisa mendapatkan informasi yang objektif dan tanpa ada yang ditutup-tutupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap wajah wanita itu, Masya Allah wajah wanita itu sungguh sangat menawan hati. &lt;br /&gt;Kulitnya putih bersih, kornea matanya berwarna coklat, begitu dalam namun terlihat pilu, lingkaran hitam di kantung matanya terlihat sangat jelas, hidungnya tidak terlalu mancung namun serasi dengan bibirnya yang penuh. Tubuhnya mulai mengurus dan terlihat ringkih. Bibirnya begitu kering, dehidrasi akut  menimpanya. Wanita itu hanya diam tak bergerak sedikitpun, hanya matanya yang sesekali berkedip lalu mengalir tetes demi tetes airmata di pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita paruh baya duduk di sampingnya, wanita itu segera menyambut kedatangan kami. Tangannya gemetar saat menggenggam tanganku, dingin seperti es. Matanya menatapku penuh cemas. Perlahan dengan setengah berbisik dia mengucapkan salam dan memperkenalkan dirinya pada kami. Ternyata dia adalah ibunda dari wanita muda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/“ini anak saya Maria Ulfa”/ namanya Maria Ulfa, umurnya baru 28 tahun, berbeda sangat jauh denganku kira-kira hampir 12 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”mengapa bisa seperti ini”/ Ummi syathira memulai pembicaraan dengan keluarga Ulfa. &lt;br /&gt;Aku tak pernah mengerti mengapa ada cinta yang mampu membuat jiwa menjadi begitu menderita. Begitu hebatkah kekuatan cinta sehingga membuat seseorang merana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya aku hanya membaca dan mendengarnya dalam kisah cinta yang tragis dalam Qais dan Laila, Romeo dan Juliet, atau kisah historis tentang bertekuk lututnya seorang si jenius Julius Cesar pada Cleopatra. Namun hari ini tepat di hadapanku, aku menjumpai keadaan yang tak mampu dipikirkan oleh akal sehatku. Tak mampu dianalisis oleh persamaan matematika apapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar jika bicara cinta maka yang ada hanya hati dan perasaan yang berkata, segala macam analisis otak kiri tak mampu memberikan rumusan untuk jawaban penyakit cinta. Cinta mampu menguatkan yang lemah dan melemahkan yang kuat. Dan cinta yang dirasakan Ulfa sungguh perasaan yang telah membuat pikirannya tak mampu memikirkan hal yang lain lagi kecuali cintanya pada suamiku Furqan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulfa memendam perasaan kepada suamiku sudah berbulan-bulan. Segala hal tentang suamiku selalu membuatnya ingin tahu. Kegelisahannya semakin parah saat mengetahui bahwa Furqan telah memiliki anak dan istri. Dan lebih menyakitkan lagi baginya karena Furqan tak ingin berpoligami. Betapa malangnya gadis muda ini, ia tak pernah meminta untuk jatuh cinta pada suamiku.  Namun hatinya sungguh tak berdaya melawan perasaan yang semakin dilawan semakin mencoba memberontak sehingga menghancurkan tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hal yang amat menyakitkan jika cinta kita bertepuk sebelah tangan, namun lebih menyakitkan lagi saat kita tak mampu mengungkapkan perasaan cinta yang kita rasakan kepada orang yang kita cintai (Kahlil Gibran) mungkin itulah yang terjadi pada Ulfa. Hingga dia jatuh tak berdaya dalam penderitaan yang dalam. Sungguh suatu kondisi yang sangat menyiksa bagi orang yang pernah merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa dokterpun tak mampu menjawab segala teka teki derita Ulfa. Dia masih sangat muda untuk menderita, entah mengapa rasa iba itu tiba-tiba muncul dari dalam hatiku namun sisi hatiku yang lain bertanya mengapa dia membiarkan hatinya terluka dan tubuhnya menderita karena cinta, mengapa dia tak mencoba untuk tegar, mengapa harus aku yang harus memikirkan semua kondisi ini. Oh, ini sungguh tidak adil bagi hatiku.&lt;br /&gt;Cintaku pada Furqan juga segalanya dalam hidupku, Bergejolak  dan semakin dalam setiap harinya. Tak kuasa ku menahan pergolakan batin yang begitu menyiksaku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak sanggup melawan sisi hatiku yang lain, aku tak mampu pula menafikan hati seorang Ulfa. Aku tak ingin menjadi orang yang tak mampu melakukan apapun, tak mampu memberikan pertolongan apapun, sementara di hadapanku telah berbaring tubuh yang setengah mati memohon pertolonganku. Aku tak mungkin diam saja, Walaupun hatiku sangat sadar, bahwa sebenarnya akulah yang paling menderita saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airmataku tak sanggup terbendung lagi. Entah kekuatan darimana tiba-tiba merasukiku, ku beranikan memperkenalkan diri setelah menguatkan hati berulang kali. Ku lihat wajah ummi Syathira yang mulai mengkhawatirkanku. Kembali ku kuatkan hatiku untuk katakan bahwa aku kuat dan mampu menghadapi ini semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Perkenalkan Bunda, saya Alifa istrinya ustadz Furqan”/ mimik wajah ibu Ulfa mendadak tegang terlihat jelas bahwa dia sangat terkejut dengan ucapanku barusan, semua orang yang ada di ruangan itu juga terkejut dengan pernyataanku, lalu mereka diam menunggu kata-kata apa yang akan aku sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”saya minta maaf tidak sedari tadi memperkenalkan diri bahwa saya istri ustadz Furqan, saya memang sengaja memilih diam, saya ingin lebih mengetahui bagaimana keadaan yang sebenarnya. Saya ingin mengetahui bagaimana keadaan wanita yang menderita karena cintanya kepada suami saya yang telah membuatnya seperti setengah mati”/ ku dekati tubuh Ulfa, ku genggam lembut jari jemarinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Ulfa, saya datang kemari sama sekali bukan untuk menghakimimu, atau membuat dirimu semakin tersiksa. Saya kemari ingin melihat kamu kembali sehat dan tersenyum seperti sebelum kamu bertemu dengan suami saya dan jatuh cinta padanya. Saya ingin kamu kembali ceria seperti sebelumnya, namun Saya hanya meminta, tolong berikan saya dan anak-anak saya waktu untuk lebih siap menerima keadaan ini”/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunda Ulfa memandangku heran ia terlihat bingung dengan pernyataanku, semua yang ada di dalam ruangan itu termasuk ummi Syathira juga tak kalah bingung dengan kata-kata yang aku ucapkan barusan. Setengah berbisik mereka mendengar aku melafazkan kalimat bismillahirrahmaa nirrahhiiimm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”saya akan meminta suami saya untuk menikahimu Ulfa”/berat sekali kalimat itu terucap dari bibirku, lidahku terasa begitu kaku, airmataku tak mampu menetes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu tenggorokanku terasa tercekat tak mampu berkata yang lain. Kutarik nafas dalam dalam menenangkan dan mengontrol diriku. Ku perhatikan jari jemari Ulfa bergerak- gerak perlahan, airmatanya menetes perlahan. Namun dia masih tetap diam tak bicara sepatah katapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunda Ulfa bergegas menghampiriku. tiba-tiba ia sujud di kedua kakiku diiringi tangisannya yang tumpah di sela-sela gamis hijau yang kupakai saat ini. Wanita paruh baya itu tak bergeser sedikitpun dari kakiku, memeluk erat kakiku seperti seseorang yang sedang memohon pengampunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”jangan menyakiti hati anda sendiri ustadzah, anak sayalah yang salah telah membiarkan hatinya dipenuhi oleh cinta dan rindu kepada ustadz Furqan, saya dan anak sayalah yang seharusnya tahu diri karena telah menyakiti perasaan anda dan menyakiti diri kami sendiri. Maafkanlah anak saya yang telah lancang menyimpan cinta kepada suami anda, sungguh saya tak berkuasa melakukan apapun agar perasaan cinta Ulfa kepada suami anda hilang, sungguh saya tiada berdaya membantu Ulfa. Tolong maafkanlah kami ustadzah”/ Ibunda Ulfa samasekali tak melepaskan kakiku dari rangkulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku semakin pilu berada dalam situasi seperti ini, apalagi mendengar permohonan maaf dari mulut wanita paruh baya itu. Airmataku terus berjatuhan tak mampu ku menahan kesedihan yang luar biasa menghantam ketegaranku selama ini. Hatiku sungguh sakit berada dalam kondisi yang sangat membutuhkan kedewasaan dan kebijaksanaan dalam berfikir. Hatiku sakit karena aku harus bertaruh dengan hatiku sendiri. Aku tak tahu apakah moment ini menjadi jalan untukku belajar lebih dalam tentang makna keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sebaik-baik istri adalah jika kamu memandangnya membuat hatimu senang, jika kamu perintah dia menaatimu, dan jika kamu tinggal maka dia akan menjaga untukmu harta dan dirinya. (HR. ibnu Jabir)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari Depok ke rumah terasa begitu lama. Mataku masih terlihat sembab saat kami berpamitan pulang. Oh, betapa aku merindukan wajah Furqan, betapa aku galau ingin bertemu dengannya. Betapa besar pengharapan dan cinta yang kami pupuk selama ini. Namun harus diuji oleh seonggok hati Ulfa yang merana. Ya Allah Engkau yang menumbuhkan cinta antara kami, Engkau pula yang menghadirkan cinta di hati Ulfa. Hamba yakin hanya engkau pula tempat hamba memohon petunjuk untuk semua ketentuanmu ini ya Rabb….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa mengatakan tidak, walaupun berulang kali aku coba untuk katakan tidak namun tetap saja sisi kemanusiaanku yang lain mengatakan bantulah Ulfa dan bagilah cinta ini dengannya. Kenyamanan percintaan yang aku rasakan selama ini bersama Furqan telah membuat aku tak sanggup memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan menguji cinta kami. Oh begitu berat perjalanan ini kurasa,…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqan duduk di sampingku yang menangis tersedu, tangan lembutnya menghapus airmataku yang berjatuhan, perlahan dia mencium keningku dan memelukku erat sekali. Menenangkan hatiku yang sedang gundah gulana, sejenak kemudian dia melepaskan pelukannya lalu menggenggam tanganku erat-erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Cinta,..katakanlah apa yang sedang mengganggu hatimu hingga tersenyum pun terlihat sulit bagimu sayang”/ Furqan membelai jari jemariku lembut sambil tersenyum menunggu jawabanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Sayang,…apa kamu sudah tahu tentang keadaan Maria Ulfa?? Aku menatap sedih wajah Furqan dalam keadaan sesenggukan. Kulihat Furqan mengangguk perlahan, ternyata dia telah mengetahui tentang kisah cinta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”lalu Apakah kau mau menikahinya??”/ Furqan mendadak kaget lalu melepaskan genggaman tangannya dariku. Wajahnya berubah pucat pasi dan tegang. Tapi hanya sejenak ku lihat perubahan di wajahnya, dia kembali tersenyum dan memandangku dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Cinta,.. apa kau ingat, apa yang aku katakan di malam pertama kita dulu?? Aku tak akan memiliki yang lain lagi selama aku hidup di dunia ini, cukup hanya dirimu saja yang memenuhi seluruh relung jiwaku. Aku mohon biarkanlah aku hanya menikah sekali dan itu hanya denganmu cintaku”/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisku semakin menjadi mendengarkan jawaban Furqan. Wajah Ulfa yang sedang sekarat kembali terlintas di kepalaku. Bagaimana mungkin aku begitu egois membiarkan seseorang begitu menderita karena aku dan suamiku?? Aku tak ingin menyesal membiarkan Ulfa pergi karena penderitaan bathin yang begitu hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Sayang,…ku mohon, nikahilah ia untukku. Aku tak sanggup melihat tubuhnya yang mulai sekarat karena menanggung rindunya yang belum halal untukmu, Nikahilah ia untukku,..aku tak ingin menyiksa seseorang karena keegoisanku. Ku mohon sayangku,…”/&lt;br /&gt;Furqan terlihat berkaca-kaca mendengarkan permohonanku padanya. Tak pernah ku lihat ia begitu muram di depan mataku, tapi kali ini cintaku menjadi galau karena permintaanku yang sebenarnya tak pernah sanggup ia penuhi. Permintaan yang sungguh bertentangan dengan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”cinta,…aku memilihmu karena begitu mulianya hatimu, tapi jujur ini hal yang sangat berat bagiku. Membagi hatiku kepada wanita yang lain, aku sungguh tak ingin menyakitimu…aku tak yakin akan mampu bersikap adil padamu dan padanya. Bukankah jika aku tak mampu adil maka sama halnya aku telah menganiaya dirimu dan dia?? Sungguh lemah hatiku menerima permintaanmu yang begitu berat untuk ku lakukan”/. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”sayang,…apa kau tak melihat perubahan pada dirinya semenjak mengikuti pengajian denganmu. Dia berubah menjadi gadis muda yang shaleh, baik pula akhlaknya. Aku sangat yakin dia masih sangat membutuhkan bimbingan darimu. Percayalah sayangku, dia wanita yang baik, dia juga akan melayanimu dengan baik pula. Aku yakin kau mampu berbuat adil, karena ilmu agama yang baik telah kau miliki suamiku, waktu kita tidak banyak cinta, ku mohon lakukanlah ini untukku”/ berulang kali ku mantapkan hati Furqan, termasuk menguatkan hatiku sendiri. Ku lihat Furqan diam sejenak, mungkin mencerna maksud dari kata-kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Baiklah sayang,..aku akan menikahinya lillahi taa’la”/ sebuah senyuman mengembang di bibir Furqan walaupun aku bisa menangkap sorot mata yang gundah menghantui pikiran Furqan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqan menyudahi pembicaraan antara kami, entah mengapa aku masih tetap menangis ketika berada di belakang Furqan sebagai makmum shalat isya malam ini. Aku tidak yakin akan banyak waktu untuk bisa menghabiskannya bersama Furqan di saat dia hanya menjadi milikku seorang. Sudut hati kecil ku terus bertanya setelah ini apa aku akan ikhlas, seikhlas-ikhlasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Furqan duduk bersisian, di depan kami telah berkumpul anak-anak kami tercinta. Mereka adalah bagian terpenting dalam hidup kami. Mungkin kami harus memilih kata-kata yang tepat untuk membicarakan tentang hal ini pada mereka. Nayla anak pertamaku yang berusia 15 tahun tentu sudah mulai faham tentang arah pembicaraan kami. Nayla gadis yang sangat bijaksana dan ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”tentu kita bahagia dengan memiliki ummi yang baru, bukankah membuat orang lain bahagia adalah hal yang disukai Allah, apalagi hal itu juga merupakan kebahagiaan buat kita semua anak-anak abi dan ummi”/ aku menatap mata Nayla, aku  merasakan sesuatu hal yang berbeda darinya. Nayla mencoba memahami perasaan kami sebagai orangtuanya, dan Nayla mencoba berada di posisi seorang anak sulung yang menjadi panutan buat adik-adiknya. Memberikan ketenangan bukan kegusaran atas keputusan orangtuanya. Betapa beruntungnya aku memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Furqan akan menikah, tadi pagi aku menyiapkan baju gamis dan kopiah terbaiknya, diberi haruman bunga Jasmine yang lembut. Furqan terlihat gagah saat mengenakan pakaian itu, ia rapi dan wangi. Kalung mas yang telah kubelikan dua hari yang lalu sebagai mas kawin untuk Ulfa juga tak lupa kupersiapkan bersama beberapa perlengkapan shalat dan pakaian muslimah yang sudah dibungkus rapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/“Cinta,..aku sangat mencintaimu”/Furqan memelukku erat, perasaan sedih yang luar biasa tiba-tiba merayapiku. Aku masih memeluk pujaan hatiku. Rasanya sulit sekali untuk ku lepaskan. Namun mendengar keadaan Ulfa yang berangsur-angsur menjadi lebih baik saat mendengar Furqan melamarnya dan akan menikahinya segera, telah memberikanku kekuatan untuk lebih tenang daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”pergilah,..aku menunggumu di sini, semoga berbahagia”/ berat sekali kata-kata itu terucap dari bibirku. Berat sekali kubendung airmata yang sedari tadi ku tahan. Berat sekali ku ikuti langkah hatiku untuk siap dan tegar, ikhlas menerima keputusan yang telah ku buat sendiri. Bagaimanapun aku tetap seorang wanita yang juga memiliki rasa cemburu ketika suamiku akan menikah lagi walaupun itu atas permintaanku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melepaskan kepergian Furqan di depan pintu, Furqan berangkat bersama rombongan yang berjumlah 10 orang untuk ikut menemani acara akad nikah dan merayakan Walimatul ‘Urs. Tak seorangpun dari rombongan itu berkata-kata atau menegurku, semua terlihat muram dan berduka. Aku tahu semenjak mereka mengetahui rencana pernikahan Furqan dan Ulfa atas permintaanku dua hari yang lalu, mereka terlihat sangat perhatian padaku, beberapa kali aku mendapati mereka membicarakan tentangku dan Furqan di pengajian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima jam sudah berlalu, tentu akad nikah dan walimatul ‘urs berjalan sukses. Sementara aku menghabiskan waktuku dengan membaca Quran dan berzikir sambil menunggu pergantian jam shalat. Sementara waktu anak-anak ku titipkan di rumah adikku. Entah mengapa aku hanya ingin sendiri saat ini, mengadu pada sang penitip cinta di hati, sesenggukan mengharapkan diberi ketegaran dan keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari aku tak melihat mata teduh Furqan, aku sangat merindukannya. Terkadang malam ku habiskan di atas sajadah hingga lutut ku terasa kaku dan bengkak. Terkadang malam rasa cemburuku datang membayangkan Furqan bersama wanita yang lain. Aku sedang memahami dan belajar tentang proses mengikhlaskan hati. Bahwa apa yang aku lakukan bukan karena mengharapkan pujian dari oranglain yang menganggapku tegar, atau mengharapkan penghormatan dari keluarga Ulfa dan Ulfa sendiri karena telah menolong derita jiwanya, namun ini semua kulakukan semata-mata karena inginkan Ridha Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Furqan pulang, dia pulang bersama rombongan yang juga ikut pengajian di depok. Aku telah siap menunggunya di depan pintu. Hari ini aku ingin sekali terlihat cantik di depan Furqan. Ku pakai gamis biru muda yang bermotif polkadot putih, di ujung lengan baju dan ujung gamis diberi renda warna senada, dilengkapi pula kerudung biru muda. Aku tak lupa memakai wewangian khusus untuk Furqan. Bibirku disapu lipstik merah muda yang lembut. Aku merasa begitu cantik hari ini bertemu Furqan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”apa kabar sayang, aku sangat merindukanmu”/ tubuh Furqan ku peluk erat, masih di depan rombongan pengajian. Furqan juga memelukku erat seolah tak ingin berpisah denganku lagi. /”Aku juga sangat merindukanmu cintaku”/. Aku tahu rombongan pengajian terus menatap pertemuan kami yang sangat mengharukan ini. Ku lihat sebagian mereka mengusap airmata dengan sapu tangan, sebagian yang lain melangkah agak menjauh dari tempat aku dan Furqan berdiri. Namun mata mereka masih tetap menatapi kami tanpa sepatah katapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dekapan Furqan perlahan kulafalkan ayat 10 dari surah Al-hasyr lalu di sambung dengan ayat 159 dari surah ali imran. Ayat-ayat itu begitu ajaib memenuhi relung hatiku. Membuang segala benci dan amarah yang terkadang datang saat cemburu itu datang menggodaku. Mulai hari ini dan selanjutnya aku akan terus belajar ikhlas. Ikhlas dengan keputusan yang telah kubuat sendiri. Ya Rabb,..teruslah bimbing hambaMu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To be continued&lt;br /&gt;Buat wanita yang perkasa,..&lt;br /&gt;Hatiku tak sekuat hatimu,..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-4449900778302198858?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/4449900778302198858/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/kuijinkan-kau-menikahinya.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/4449900778302198858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/4449900778302198858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/kuijinkan-kau-menikahinya.html' title='Kuijinkan Kau menikahinya'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S4NNZfB4JYI/AAAAAAAAAB8/ahqmR6WtXjw/s72-c/muslimah1a1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-3143369655790287288</id><published>2010-02-20T02:58:00.000-08:00</published><updated>2010-02-20T03:06:02.604-08:00</updated><title type='text'>Mereka Bilang Aku Gila</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3_CCcc1qGI/AAAAAAAAAB0/ELdRZ1JN6CA/s1600-h/14930369_thumb.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3_CCcc1qGI/AAAAAAAAAB0/ELdRZ1JN6CA/s320/14930369_thumb.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5440280222139525218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sejak saat itu dia hanya diam,...&lt;br /&gt;Terkadang menangis sesenggukan&lt;br /&gt;Namun tak pernah terlihat tertawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu pula,..&lt;br /&gt;Mereka bilang dia telah Gila,..&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk berhadapan dengan sebuah keluarga kecil yang harmonis, seorang ibu muda yang cantik, bertubuh tinggi langsing dan bersih, dari wajahnya terus saja mengembang senyuman manis untukku, walaupun sesekali sorot matanya terlihat sedih saat berbicara dengan ibuku, terkadang jari jemarinya mengusap-usap punggungku yang terasa gatal. Di sampingnya ada seorang pria gagah, tubuhnya sangat atletis, parasnya sungguh menawan. aku tak henti-hentinya menatap pria itu karena dia mirip actor kenamaan Bollywood kesukaanku. Pria itu memangku seorang gadis kecil yang lucu, sedari tadi gadis kecil itu terlihat begitu was-was dan tidak nyaman saat melirik ke arahku. Sesekali dia menarik tangan pria gagah itu yang dipanggilnya papa lalu  berlari ke teras rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku bilang bahwa wanita cantik itu adik sepupuku yang datang dari Jakarta. Sementara pria gagah dan gadis kecil yang lucu itu adalah suami dan anaknya, mereka datang untuk bersilaturrahmi dan melihat kondisiku. “Ah,..entahlah, aku bingung akhir-akhir ini banyak orang yang mulai rajin berkunjung ke rumahku, mungkin 7 tahun terakhir ini. Mereka sering menatap iba kepadaku dan ibuku. Tapi aku tak merasakan perubahan apapun kecuali keberadaan suamiku yang entah dimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bilang aku gila, padahal aku merasa baik-baik saja, aku sering mendengar mereka setengah berbisik membicarakan tentang diriku. Mereka bilang aku telah gila dalam tujuh tahun terakhir ini karena terkena kutukan roh jahat. Bagiku tetanggaku dan warga sekampungku masih seperti dulu, senang mengada-ada dan membicarakan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sudah sangat jelas sekali itu perbuatan yang penuh dengan dosa, Namun kebiasaan itu sepertinya sudah mendarah daging di lingkungan kampungku. Terkadang aku terlihat sombong karena sebagai seorang bunga desa aku sudah sangat terbiasa dengan berbagai gosip murahan mereka, selama ini merekalah yang menderita bukan aku. Aku masih baik-baik saja, bahkan sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi ibu menarikku paksa dari sungai di depan rumah kami hanya karena aku tidak memakai basahan saat mandi.&lt;br /&gt; /”apa kau tak malu auratmu terlihat oleh semua orang yang lewat di sini??” kau bukan anak kecil lagi Karmila…// ibu tak hentinya-hentinya mengumpat, sambil menutupi sekujur tubuhku dengan kain sarung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku geram saat melihat gadis-gadis kecil yang mandi tanpa basahan bersamaku. Mereka masih asik bercengkrama bersama dan tak ada satupun dari ibu mereka yang menjemput bahkan menutupi tubuh mereka seperti yang dilakukan oleh ibuku padaku. Aku geram dan hanya bisa mengumpat dan berteriak saat gadis-gadis kecil itu menertawakanku. /”Huh,..lain kali aku akan menghajar kalian karena berani menertawakanku”/ umpatku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu menarikku paksa ke rumah tanpa memperdulikan teriakan kesalku, aku bersungut dalam hati hah hari ini aku gagal lagi berendam dan bermain di sungai. Sungai itu dekat sekali dengan rumah kami, jaraknya hanya beberapa puluh meter saja, sungai itu merupakan sistem perairan sawah di kampung kami, jadi wajar saja banyak orang yang berseliweran melewati sungai untuk menuju ke sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;//”Apa kau tidak bisa berendam di sumur saja??ibu masih sanggup mengangkat air untukmu, ibu tidak mau kalau kau harus dipasung lagi oleh kakak-kakakmu”/ ungkap ibuku sedih. Memang hanya ada dua orang yang selalu bersamaku belakangan ini yaitu ibuku yang tak pernah bosan berada di sampingku, walaupun aku merasa bahwa akhir-akhir ini dia semakin sering mengomeliku bahkan terlalu mengawatirkanku. Satu lagi anak laki-laki berusia delapan tahun yang memanggilku ibu, dia anak laki-lakiku yang juga sering mengomeliku saat aku diam-diam mengikutinya menangkap mina padi di sawah. Terkadang aku sedih saat dia mengomeliku, Namun aku tak pernah kapok diomeli oleh anak sekecil itu, karena esoknya aku akan diam-diam mengikutinya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyebutnya pasungan, benda itu begitu menyeramkan. Coba kamu bayangkan kaki dan tanganku diikat pada sebuah kayu besar yang tak mampu diangkat oleh tiga orang dewasa. Benda itu begitu menyiksaku, terutama saat nafsu ingin menggarukku kumat ketika kepalaku terasa amat gatal, atau saat ada nyamuk yang mulai menghisap manisnya darahku padahal aku ingin sekali memukul nyamuk dan lalat yang hinggap di tubuhku. Itu sungguh menyiksa dan menyakitkanku, belum lagi saat benda itu dilepaskan, kaki dan tanganku serasa hilang kendali dan fungsinya. Ini suatu hal yang sangat kejam yang pernah aku alami dari apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku takut jika dipasung lagi, aku tidak bisa mandi di sungai atau ikut anak laki-lakiku menangkap ikan di pematang sawah, padahal dua hal itu merupakan hal yang paling menyenangkan dalam keseharianku. Belum lagi jika kakak-kakakku membawaku paksa ke rumah dukun hitam legam dan berbau busuk itu. Dukun gila itu tak henti-hentinya menyemburkan ludahnya yang bau busuk ke muka dan tubuhku. Padahal sebelum menyemburku dia sudah mengunyah beberapa lembar daun sirih lengkap dengan tetek bengeknya, sehingga air liurnya kelihatan merah. Melihatnya saja aku serasa ingin muntah apalagi jika kena semburan ludah yang Maha bau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika si dukun hitam legam dan berbau busuk itu beraksi, mulutnya tak berhenti komat kamit, entah apa yang dia bicarakan, samasekali sulit dicerna oleh kosa kata yang ku punya. Kalau sudah seperti itu, aku akan berteriak-teriak minta tolong, karena aku tak sudi disembur dengan ludahnya yang kotor dan berbau busuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sangat mengherankan setiap kali aku berteriak minta tolong, justru si dukun semakin kalap katanya roh jahat itu sedang bertarung melawannya dengan hebat dan dia sedang membantuku melumpuhkan roh jahat itu dari tubuhku. Ah,..tubuhku langsung lunglai mencium semburan ludah yang beraroma busuk dari si dukun, tapi lagi-lagi menurut si dukun dia telah berhasil mengusir roh jahat itu dari tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ibuku yang selalu menangis dan memohon agar aku dirawat di rumah saja tidak perlu dibawa ke dukun lagi, ibuku memang ibu yang luar biasa dan bisa merasakan apa yang aku rasakan. Sering kali aku melihatnya menangis dalam doa malam setelah sujud panjangnya. Ibu yang selalu bermohon pada saudara-saudaraku bahwa aku cukup dirawat di rumah saja, karena tindakan itu telah memasuki dunia kemusyrikan, bukannya kesembuhan namun ketauhidan dan keimanan kita malah semakin memudar untuk melihat kebesaran Allah begitu ungkap ibuku suatu hari di depan saudara-saudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali aku mengalami penderitaan bertemu si dukun itu. Akhirnya si dukun menyerah karena tak sanggup menangani roh jahat di tubuhku. Entahlah aku tidak mengerti, bagaimana mungkin ada roh jahat yang masuk ke tubuhku kecuali syaitan yang sering merayu manusia untuk berbuat dosa. Apapun alasan si dukun itu yang pasti hatiku bersorak sorai telah terbebas dari penderitaan yang menyedihkan tiap kali bertemu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adik sepupuku yang cantik itu datang lagi, tapi kali ini dia datang seorang diri tanpa aktor Bollywood dan gadis kecil itu. Dia berbicara dengan ibuku lama sekali. Aku mendengar semua apa yang mereka bicarakan. Menurut sepupuku aku tidak gila, namun aku mengalami depresi berat, mungkin karena kesedihan yang telah menumpuk dan lama, tanpa ada tempat mencurahkan kegelisahan, terlahir dengan kekuatan mental yang lemah dan ditambah dengan kurangnya pendekatan agama dan ilmu pengetahuan membuat aku depresi berat dan terlihat seperti orang gila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku justru terlihat seperti anak-anak, karena dengan menjadi seperti anak-anak aku bisa melupakan kesedihan jiwaku, dalam dunia anak-anak mereka mengisi harinya dengan bermain dan canda tawa. Tanpa ada beban yang berat seperti yang aku alami. Begitulah kira-kira analisis dari adik sepupuku tentang diriku. Mungkin itu berdasarkan pengamatannya dan sedikit ilmu tentang kejiwaan yang ia miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik sepupuku menatapku iba dan haru atas perjuangan hidupku, dia masih tetap berbicara dengan ibu. Sambil mengusap lembut helai demi helai rambutku Ibu pun mulai bercerita panjang lebar tentang kisahku pada sepupuku yang baik itu. Sepupuku mendengarkannya dengan seksama, sambil sesekali matanya menatap ke luar rumah, seperti sedang memikirkan sesuatu. Matanya juga berkaca-kaca terkadang terjatuh satu dua buliran bening dari kedua mata indahnya. Menurutnya kondisi yang aku alami ini adalah salah satu tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang hebat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menikah di usia belia, saat itu umurku baru menginjak 16 tahun. Di desaku jarang sekali wanita diijinkan untuk sekolah hingga ke perguruan tinggi. Aku pasrah tak berkutik dengan adat istiadat yang membelenggu kami terutama kaum hawa yang sering menjadi golongan kedua di sub ordinasi dan dianggap tidak pelu memberikan pendapat bahkan untuk kebutuhan dirinya sendiri. Sungguh kondisi yang teramat memilukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku saat itu sedang mekar-mekarnya sebagai seorang gadis desa yang cantik dan menjadi pujaan kaum adam di desa ku. Kebanyakan orang menyebutnya jaman Siti Nurbaya, karena aku dijodohkan dengan pria pilihan ayahku, pria itu 7 tahun lebih tua dariku dan aku samasekali tidak mengenalinya. Aku sungguh tak mampu menolak permintaan ayahku, karena bagi ayahku itu adalah sebuah pembangkangan dan tindakan yang berdosa. Mungkin saat itu ayah belum membaca hadistnya bahwa seorang anak perempuan yang sudah siap untuk menikah berhak menentukan pilihannya sendiri dan berhak memberikan pendapat untuk menerima atau menolak tanpa harus  ada paksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin disinilah awal kepedihan hatiku, karena aku tak berani menentukan sikap dan pilihan untuk diriku sendiri. Itu merupakan suatu hal yang sangat aku sesali sepanjang umurku. Ditambah pula menikah dengan laki-laki gila yang penuh dengan kecurigaan dan tanpa kelembutan. Setiap hari yang aku lalui bersamanya adalah saat penuh dengan introgasi dan kata-kata kasar yang selalu menuduh dan membuat emosiku memuncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”dari mana saja kau, ke pasar saja lama sekali, jangan-jangan kau bertemu diam-diam dengan mantan kekasihmu itu”/ kata- kata seperti ini sering sekali ku dengar, membuat hatiku geram dan telingaku merah. Rasa lelah dari pasar belum juga hilang karena berkeliling mencoba mencari harga termurah agar menghemat pengeluaran, tapi justru aku disambut dengan tuduhan dan cercaan. Salam yang sering kuucapkan tiap kali masuk rumah dibalas dengan umpatan kasar dan menuduh dari seorang suami yang katanya mencintai istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah untuk kesekian kalinya aku menahan diri untuk tak membalas amarahnya. Kepribadianku yang tertutup semakin memperparah kejiwaanku karena tak seorangpun tempat aku mencurahkan kesedihanku bahkan pada ibuku karena aku takut beban hidupku akan menjadi beban pula bagi ibu. Hanya dalam tangis dan doa yang terkadang aku ucapkan dalam shalatku. Hatiku sangat sakit, telah berusaha mencintainya dan melayaninya dengan baik sebagai seorang istri, namun yang kudapat dari seorang laki-laki ini hanya kecurigaan dan kemarahan, jangankan mengharapkan kata-kata yang lembut, yang ku dengar justru makian dan kata-kata kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencurigaiku, bahkan menuduhku tidak setia. Setiap gerak langkahku diikutinya. Kemanapun dan dengan siapapun. Adik sepupuku menyebutnya Posesif Kompulsif  yakni rasa kepemilikan yang sangat berlebihan dan bahkan mampu membunuh dan menyakiti orang yang dicintainya. Jika melihat aku menangis, dia segera memelukku mengatakan bahwa dia mencintaiku, namun  ketika dia marah dia selalu mengucapkan kata-kata kesukaannya ”Bahwa jika aku tak mendapatkanmu seutuhnya, maka orang lain pun tidak, lebih baik kau hancur sekalian”, aku tak begitu faham apa maksud ucapannya itu, tapi tiap kali aku mendengar kata-kata itu, hatiku diliputi ketakutan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun saat anak pertama kami lahir, tak memberi perubahan apapun. Dia justru semakin parah, menuduh aku telah selingkuh karena kurang memperhatikannya. Seandainya dia mau membuka matanya dan hatinya sejenak untuk melihat dan mengerti betapa repotnya aku mengurusi anak dan rumah tangga seorang diri tanpa bantuan siapapun bahkan bantuannya sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”katakan padaku, laki-laki mana yang menjadi ayah dari anakmu ini???”// kata-katanya menghujam ulu hatiku, aku hampir pingsan dan tanpa air mata. Aku benar-benar sadar bahwa suamiku berpenyakit. Penyakit itu teramat parah dan telah bersarang lama dalam dirinya, dan sekarang perlahan-lahan dia ikut membakar diriku sampai tiada berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika rumahtanggaku serasa dalam badai, ayahku pun sakit keras dan sekarat, di akhir hayatnya ayah berpesan agar menjaga pernikahanku sampai mati. Sungguh lemah jiwaku dan semakin parah lagi hatiku dalam ketidakberdayaanku. Seharusnya aku bisa berbuat banyak, namun kembali aku hanya menjadi seperti tubuh mati yang diam tak mampu bereaksi walaupun diterjang dari segala penjuru, tetap diam dan menyimpannya dalam hatiku yang ku tahu kapasitasnya sangat terbatas untuk menampung segala kepedihan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu magrib menjelang malam, aku lupa memasak air untuk termos karena disibukkan dengan anakku yang sedang demam tinggi. Dia pulang dengan muka marah dan kurang menyenangkan di mataku. Aku tidak tahu apa yang terjadi di luar sana sehingga mukanya begitu kusut dan semakin menyeramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”buatkan kopi untukku,..katanya ketus, aku hanya memandanginya dan tak berani mengatakan bahwa aku belum memasak air untuk termos. Dia berlalu dariku dan menuju ke dapur, aku mengikutinya dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”aku belum memasak air panas, tunggulah sebentar atau apa kau mau membantuku memasaknya sebentar karena aku sedang mengompresi tubuh si kecil biar panasnya cepat turun. Aku berharap dia mengerti dengan permintaanku, bahkan aku sudah mengatakannya dengan sangat lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia mengambil termos lalu menuangkan semua air termos yang masih agak hangat itu ke kepalaku dan membanting termos itu sehingga terpental beberapa meter dari meja makan. Matanya memerah menatap ke arahku yang telah basah kuyup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Puas kau sekarang,..mereka mengejekku malam ini di pos ronda karena kekasih lamamu berniat membawamu pergi jauh dariku. Apa yang sedang kau rencanakan dengannya”// suamiku mulai kalap. Dia semakin gila dengan semua ejekan orang-orang di kampung ini, cemburu yang membabi butanya padaku telah menghilangkan akal sehatnya dan rasa kepercayaannya yang hampir tak pernah ada untukku semenjak pernikahan kami dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mengucapkan sepatah kata apapun, aku berlari dari hadapannya. Hatiku berulang kali tersakiti, namun kali ini puncak segala kesakitanku yang tak mampu kubendung lagi. Aku terus berlari melewati kebun, melewati jalan yang penuh batu dan kerikil tajam, melewati pematang sawah melewati sunga-sungai dangkal. Aku terus berlari membawa jauh hatiku yang telah hancur, hingga aku akhirnya lelah tersungkur di tanah dengan tubuh penuh lumpur  dan kaki yang penuh luka terkena duri dan kerikil tajam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkulai lemah di depan rumah ibuku, tanpa kata, tanpa isakan, tanpa jeritan hanya air mata yang terus mengalir perlahan di pipiku. Anehnya aku tak merasakan perihnya luka di sekujur tubuhku. Tiba-tiba aku merasa hampa. Hampa yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”apa yang terjadi dengan dirimu Karmila???Mengapa tubuhmu kotor dan penuh luka begini”// ibu memapahku ke dalam rumah, airmatanya terus mengalir deras melihat kondisiku yang tak karuan. Beliau mengganti bajuku, membersihkan tubuhku dan membasuh luka di sekujur tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak saat itu Karmila hanya diam, tak pernah mengucapkan sepatah kata apapun. Tiap kali bibi bertanya ada apa dengannya, dia hanya diam dan menangis. Bibi bisa merasakan sakitnya yang teramat dalam yang tak mampu ia ungkapkan. Ibu masih bercerita tentang diriku dengan uraian airmata. Makanya bibi yakin kalau Karmila sebenarnya tidak gila karena roh jahat seperti yang dihembus-hembuskan oleh mantan suaminya itu pada semua penduduk desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu telah pergi dari kehidupan Karmila setelah bibi memintanya secara paksa untuk menceraikan Karmila, keputusan itu bibi ambil karena dia sama sekali tidak menunjukkan sikap yang bertanggung jawab atas kondisi Karmila, bahkan sampai saat ini dia tak pernah mengirimi anaknya uang dan segala kebutuhan untuk sekolahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu memang telah pergi, namun laki-laki itu meninggalkan luka yang sangat dalam di hatinya sehingga sulit sekali dia bangkit kembali dari kesedihannya itu diakibatkan ketakberdayaan dirinya sendiri untuk bangkit. Saat ini bibi hanya ingin menyenangkan hatinya, membiarkan dia bermain seperti anak-anak, karena hanya saat seperti itu Karmila bisa tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik sepupuku mengusap tanganku, seperti memberikan sebuah kasihsayang yang tulus dan memberikan semangat untuk aku dan ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/’Kakak ikutlah denganku, kita akan bertemu orang hebat untuk selalu membuat kakak tersenyum bahagia”/ dia tersenyum penuh rayuan padaku saat mengajakku ikut bersamanya ke Jakarta. Aku sempat mendengar percakapan ibu dengannya bahwa orang hebat yang dimaksud sepupuku itu adalah dokter jiwa dan phsyciater therapy untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku tersenyum bahagia, saat aku mengangguk perlahan bahwa kami akan ke Jakarta. Mendengar kata Jakarta saja sepertinya sungguh menyenangkan, apalagi aku akan dibawa untuk menemui orang hebat yang bisa membuat hidupku kembali ceria dan bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada seorangpun ingin berada dalam kedukaan, namun tak jarang orang merasa putus asa melawan nasib buruk yang menimpanya. Kekerasan dalam rumah tangga tak dapat ditolerir dalam bentuk apapun, penindasan fisik dan mental terhadap kaum perempuan telah ditentang habis-habisan di jaman Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka beranilah melawannya dan buktikan pada diri kita sendiri bahwa dengan kegigihan dan tak mudah menyerah maka kita mampu menyelesaikannya, dan jangan lupa berdoa bahwa segala sesuatunya Atas kehendak Allah, namun manusia hanya berusaha untuk tetap gigih dan tawakkal. Adik sepupuku memberikan semangat yang sangat menyejukkan hati ibuku. Dia memeluk aku dan ibuku erat sekali memberikan makna bahwa aku dan ibu juga patut bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turut prihatin dengan korban kasus KDRT,..Be strong, never give up,..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-3143369655790287288?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/3143369655790287288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/mereka-bilang-aku-gila.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/3143369655790287288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/3143369655790287288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/mereka-bilang-aku-gila.html' title='Mereka Bilang Aku Gila'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3_CCcc1qGI/AAAAAAAAAB0/ELdRZ1JN6CA/s72-c/14930369_thumb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-8681564293142205555</id><published>2010-02-17T17:46:00.000-08:00</published><updated>2010-02-17T17:58:31.804-08:00</updated><title type='text'>Suamiku Bukan Untukku</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3yeukuXVLI/AAAAAAAAABI/DBUOTlTdOpA/s1600-h/hijab02.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 211px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3yeukuXVLI/AAAAAAAAABI/DBUOTlTdOpA/s320/hijab02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439396972926031026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Meski jauh kulangkahkan hati,..&lt;br /&gt;Namun ku telah menyerahkan hatiku padamu&lt;br /&gt;Hingga ku lupa bagaimana fajar datang menyergap&lt;br /&gt;(the last concubine)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa menyalahkan persepsi orang lain tentang diriku. Tapi bukan berarti pula aku senang diberi label demikian. Jika bisa memilih tentu aku tak ingin memiliki masalalu yang demikian memalukan. Bukan suatu kebanggaan, bukan pula suatu hal yang harus disesali seumur hidupku. Cukuplah hikmah yang kutemukan di balik ini semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang perlu aku banggakan dengan pernikahanku. Aku menikah dengan laki-laki yang sudah memiliki istri dan dua orang anak. Banyak yang menyebutku wanita penggoda, wanita yang mengambil suami orang. Sebenarnya hatiku sangat perih mendapatkan julukan itu, tapi aku tak boleh marah itu semua keputusan yang pernah ku ambil dulu di masa laluku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah seorang yang terpelajar harusnya berlaku bijak?? Lihat dirimu apa yang telah kau lakukan pada hidupmu gadis muda??” Ayah meradang meledak-ledak di hadapanku. Aku hanya diam dan diam bersama air mata yang menetes di pipiku. Jika itu bukan ayahku mungkin ingin sekali aku mengajukan kata-kata pembelaan. Tapi aku tak punya cukup keberanian untuk mengungkapkannya, jangankan mengeluarkan sepatah kata menatap matanya saja aku gentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimanapun wanita yang dekat dengan laki-laki yang sudah beristri selalu dianggap negatif nak” ibuku turut menimpali pula. Mungkin kau hanya bersikap biasa saja, tapi laki-laki terkadang salah menafsirkan sikap ramah tamah seorang wanita. Ibu minta menjauhlah dari laki-laki itu. Ibu menatapku dengan kabut di matanya. Hatiku semakin renyuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak menyelesaikan pendidikanku di sekolah kejuruan tata boga, aku memutuskan pulang ke rumah orangtuaku. Pulang ke kampung halamanku di sebuah kota kecil di ujung pulau Sumatra. Berbekal ilmu tentang tata boga aku diterima bekerja di sebuah hotel keluarga tapi itu hanya bertahan beberapa bulan saja. Namun penyakit bosanku kumat dengan banyaknya aturan, atau mungkin aku bukan type senguin suka dengan keteraturan. Akhirnya aku memilih mendirikan rumah makan kecil-kecilan sebagai pekerjaan tetapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah makan kecilku itulah tempatku bertemu banyak orang yang menjadi langgananku. &lt;br /&gt;Sebagai seorang pemilik rumah makan, rasanya wajar saja jika aku bersikap ramah dan memberikan pelayanan yang prima untuk pencinta makananku. Walaupun ku akui dalam bisnis makanan yang utama adalah cita rasa selanjutnya harga baru kemudian pelayanan. Aku memang melayani pelangganku dengan baik tanpa terselip niat ingin menggoda ataupun ingin digoda, perlakuanku sama tidak pernah berbeda laki-laki ataupun perempuan, tua atau muda semua bagiku sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hai,..udah lama buka rumah makan di sini??kayaknya bakal banyak saingan neh? Laki-laki itu melirikku dengan ekor matanya, terselip sebuah senyuman di bibirnya. Sekilas kulihat lesung pipi menghiasi pipi kirinya sangat nyata ketika dia tersenyum, mungkin juga dia tahu bahwa itu salah satu sex appeal yang dimilikinya. Aku hanya mengernyitkan kedua alisku sembari mengulum senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Hadi, tetanggaku masih satu RT di komplek perumahan kami. Akhir-akhir ini dia sering bahkan hampir setiap hari mengunjungi rumah makanku, terkadang hanya untuk bertegur sapa dan sesekali makan. Terkadang terselip juga tanya dengan sikapnya yang terang-terangan menunjukkan perhatian. Saking seringnya dia mengunjungiku sempat membuat aku sedikit risih dengan statusnya sebagai seorang suami dan ayah dari dua orang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang dia datang padaku dengan muka kusut, lalu duduk dan memesan minuman. &lt;br /&gt;Sesekali kutangkap matanya yang mencuri-curi sebuah lirikan ke arahku. Sebagai wanita aku merasa bahwa kondisi ini tidak wajar. Tapi tetap saja kuacuhkan sikapnya dan kembali bersikap sewajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“heh,..jangan kau pikir karena kau berpendidikan tinggi di desa kita ini, lalu bisa seenaknya saja merayu suamiku supaya sering mengunjungimu, apa kau tak tahu mencari laki-laki lain yang masih bujangan atau memang kamu doyannya ama yang udah jadi milik orang” wanita itu mengeluarkan sumpah serapah, caci makiannya kepadaku tepat di saat rumah makanku penuh pengunjung. Pada awalnya aku hanya diam memperhatikan tiap kata yang diucapkan wanita yang mengaku istrinya Hadi. Dia bukan hanya sudah menghinaku tapi sudah menganggu pekerjaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apapun masalah anda dengan suami, jangan bawa-bawa kemari, apalagi sampai menuduh saya menggoda suami anda. Silahkan pergi, saya bisa saja mengusir anda dengan paksa jika anda masih tetap bersikeras dengan pendapat anda”. Kata-kataku sangat datar namun tegas, aku tak ingin nama baik rumah makanku menjadi kacau karena ulah wanita yang sedang bermasalah dengan suaminya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kali pertama wanita itu memuntahkan seluruh kosa kata yang kurang baik untukku. &lt;br /&gt;Tak sampai dua hari wanita itu datang lagi dan melakukan hal yang sama. Tapi di sisi yang lain pula Hadi tetap rajin mengunjungi rumah makanku ataupun juga maksudnya mengunjungi aku walaupun kobaran api amarah istrinya masih meluap-meluap terdengar di ujung jalan sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah sekalipun menjawab makian istrinya Hadi. Aku pikir tak ada gunanya bicara dengan orang yang sedang penuh amarah hingga dia bisa mengendalikan amarahnya kembali. Sekalipun aku akan berkoar-koar mengatakan bahwa tak ada apapun terjadi antara aku dan Hadi, tetap saja sang istri sudah terlanjur membuat persepsi tentang diriku “wanita penggoda”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang marah dengan penghinaan ini tapi aku tak pernah menangis, aku tak pernah merasa dalam posisi yang disalahkan. Hingga hari itu tiba juga, seperti sebuah skenario besar yang telah merubah sudut kehidupanku menjadi 180 derajat berbalik arah. Aku tak pernah meminta tapi aku sulit mengontrolnya, akhirnya semua terjadi juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia datang dengan segenap galau memenuhi hatinya. Biasanya hadi datang dengan segudang canda walaupun aku hampir tak pernah menggubrisnya. Namun kali ini dia datang dengan gundah yang membuncah-buncah dari dadanya. Sejenak ku tatap mata hampanya, mungkin laki-laki ini terlalu penat dengan warna warni dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“apa yang tidak aku lakukan untuk dia dan anakku, bahkan kepala nyaris kugantikan posisinya dengan kaki. Tapi tak sedikitpun dia berterimakasih, selalu dan selalu hanya kekuranganku yang ada di pikirannya. Harga diriku sebagai laki-laki sering kali tak berharga di matanya. Jangankan tersenyum mendapati suaminya pulang, malah disambut makian dan segala macam kecurigaan”. Kata demi kata yang keluar dari bibir Hadi begitu membuat aku miris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan berkata apapun Annisa, aku hanya perlu bercerita melepaskan sejenak beban hatiku walaupun setelah ini aku akan menyandangnya lagi. Cukup dengarkan saja, itu lebih baik bagiku. Bukan berarti aku tak butuh saran darimu, terlalu banyak saran sudah memenuhi kepalaku, bahkan aku semakin takut menghadapi sikapnya yang sangat dominan terhadap diriku”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam mendengar permintaan Hadi, entah apa pula maksudnya menceritakan hal ini padaku setelah apa yang telah dilakukan istrinya padaku. Mengherankan bukannya berusaha menjauhiku, bahkan dia semakin mendekat padaku, semakin sering mengunjungiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan sikap istriku padamu, aku malu atas sikapnya yang berlebihan itu. Yang ku harap dia berbenah diri atas sikapnya padaku, namun sebaliknya dia merasa yang paling benar di atas semua ini. Aku rasa semua orang akan menganggap sebuah kesalahan saat seorang pria beristri dekat dengan seorang perawan. Tapi aku juga yakin semua orang juga akan menganggap salah jika seorang istri tak pernah menghormati suaminya. Hadi menutup matanya sejenak, mungkin sedang meresapi makna sakit yang dipendamnya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“entah apa pula yang ada di pikiranmu saat ini, saat kubagi elegi yang usang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur semakin dia sering memakimu, semakin dia sering melabrakmu, aku semakin menghormatimu atas kebesaran jiwamu. Maafkan aku telah banyak menyusahkanmu selama ini”. Sekarang hadi menatapku, matanya seakan bicara padaku mengirimkan pesan terimakasih yang sebesar-besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam saat Hadi berlalu dari hadapanku. Suami istri ini telah banyak menyita waktu-waktu potensialku untuk bekerja. Bahkan aku menyempatkan waktu khusus untuk bisa berbicara dari hati ke hati pada istrinya, sulit sekali bekerjasama dengan wanita satu ini akhirnya usahaku tanpa hasil apa-apa. Kali ini Hadi kembali mengusik waktuku, namun entah mengapa ku akui ada secercah kesedihan ikut menyelinap di hatiku saat ceritanya bergulir begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah setahun berlalu suami istri ini terus mewarnai hari-hariku. &lt;br /&gt;Telingaku mulai kebal dengan segala bentuk kecaman dari istri Hadi. Di sisi yang lain pula telingaku mulai peka dengan semua keluh kesah Hadi saat melepaskan kesedihan yang terpendam untuk dibagi di sudut hatiku pula. Tak jarang aku menerima warning dari keluargaku untuk menjauhi Hadi tapi entah mengapa pula hatiku berani mengacuhkan peringatan dari keluargaku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuni istri Hadi datang lagi, kali ini dengan nada yang sangat keras dan terdengar aneh. Jantungku sempat bekerja dengan sangat berat saat kata-kata wanita itu menghujam jantungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengar wanita penggoda, aku ingin mempertaruhkan tanganku kali ini untukmu. Kau tak akan pernah mendapatkan suamiku, karena dia tak akan pernah meninggalkanku. Tapi jika suamiku meninggalkanku untukmu, aku bertaruh jari kelingkingku akan hilang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap heran padanya, bukankah kata-kata ini sangat aneh kedengarannya. Apa gerangan dia harus mempertaruhkan jarinya untuk sesuatu hal yang tak ia inginkan. Jika aku mengangguk mengatakan ya, itu sama saja aku telah melakukan kesepakatan dalam perjudian untuk mendapatkan laki-laki yang bernama Hadi. Aku hanya menangkap sesuatu yang buruk mungkin saja baru terjadi dalam rumah tangga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuusap dadaku yang terasa sakit, entah mengapa kali ini aku terpancing untuk marah. &lt;br /&gt;Entah mengapa pula aku begitu kesal dengan ucapan Yuni. Dia bukan hanya menghinaku dengan sebutan yang dilekatkan di dadaku, tapi juga telah sangat meremehkan aku sebagai wanita yang tak pernah berniat apapun pada suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Yuni begitu membuat kesabaranku diuji dalam taraf tingkat tinggi. Mengapa dia membebankan semua masalahnya di pundakku. Bukankah rumah tangga mereka tak pernah harmonis bahkan sebelum Hadi sering mengunjungiku.  Tapi seolah-olah akulah yang harus bertanggung jawab atas semua ini, oh ini sungguh terlalu. Wanita itu telah menorehkan luka yang perih di hatiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya pada Tuhan, apakah yang sedang bergejolak dalam hatiku?? Apakah Tuhan sedang merencanakan sesuatu dalam hidupku. Setiap kali aku menolak dengan rasa itu, setiap kali itu pula aku semakin merasakan sesuatu yang tidak biasanya. Berulang kali aku hilang kendali atas perasaan yang hadir dari hari ke hari, mungkin telah di pupuk dengan sangat telaten dengan penuh kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku merasakan getar-getar itu juga, getaran yang terkadang membuat mata tak mampu terpejam, getaran yang membuat semangat berkobar menjadi kendor atau pun sebaliknya. Getaran yang tak mampu dilukiskan oleh kata-kata. Ternyata aku mulai menyukai Hadi karena sering bersama. Aku sempat merasakan bahagia itu, tapi logikaku berontak apa kata keluargaku, apa yang akan dilakukan oleh keluarga Yuni padaku. Aku yakin mereka semua tak akan tinggal diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadi menghampiriku lagi sore ini. Dengan wajah yang sangat ceria dari biasanya. Aku tak ingin menebak, aku juga tak mau mengungkapkan semua rasa yang baru hadir di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku telah menceraikannya, ucap Hadi sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yuni yang memaksaku lanjutnya lagi, dia menantangku untuk menikahimu. menurutnya aku tak akan mungkin menikahimu, menurutnya kau tak pernah menyukaiku. Ku pikir dia tak pantas lagi terus-terusan menghinaku sebagai suaminya”. Hadi bercerita dalam amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini aku telah bebas dari wanita itu, walaupun kau tak menyukaiku tak mengapa, aku tak perlu membuktikan apapun padanya. Aku hanya merasa lega atas keputusan ini.&lt;br /&gt;Setelah kata-kata Hadi yang terakhir selesai, entah mengapa aku semakin takut akan hal ini. Takut jika perasaanku akan semakin berkembang setelah Hadi menjadi duda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membeku, ku telan ludah yang menggantung di mulutku, aku tercekat antara merasakan bahagia jatuh cinta dan akibat yang akan datang selanjutnya dalam hidupku jika ku tak mampu menahan perasaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sudah perceraian Hadi dan Yuni, Hadi jarang terlihat lagi mungkin dia sibuk mengurusi surat perceraiannya. Selama seminggu itu pula setiap hari aku mendengar orang-orang di desa menggunjingkan aku. Terkadang mereka tertawa, terkadang pula menghujatku karena sebagian besar menganggap bahwa perceraian hadi dan Yuni murni tanggungjawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada apapun yang bisa aku ucapkan. Bahkan pada keluargaku, mereka sudah terlanjur menjudge bahwa akulah yang bersalah, bukan karena akumulasi masalah rumah tangga hadi dan Yuni yang sudah terpendam tanpa solusi selama bertahun-tahun. Aku menarik nafas dalam-dalam mencari kejernihan pikiran dan hatiku dalam kebisingan di sekitarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku akan melamarmu” hadi berbisik di hadapanku sesaat setelah dia memesan makanannya. Tubuhku kaku, tanganku mendingin membeku. Bagaimana dia begitu yakin aku menyukainya. Aku tak berani menatapnya sedikitpun. Entah perasaan apa yang menjelma di hatiku saat ini, ku akui aku bahagia tapi di sisi lain bagiku ini terlalu cepat, berarti semakin cepat pula gunjingan setiap orang itu terbukti bahwa akulah penyebab semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hadi, aku pikir kita harus bicara. Aku mendatangi mejanya, tapi Hadi tetap terlihat tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“duduklah di depanku, biar aku bisa melihat ekpresi wajahmu” hadi kembali tersenyum membuat semua kata-kataku menjadi buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kenapa kau harus bersembunyi selama ini, kenapa kau pura-pura tak acuh padaku. Hadi masih tetap menatapku, aku yakin wajahku putih membeku seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kau tak bisa berbohong lagi, kau juga mencintaiku kan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki ini sepertinya begitu faham bagaimana menaklukkan hati wanita, tapi mengapa tidak pada Yuni istrinya. Oh Tuhan,..perasaan ini mengapa kau titipkan pada hamba?? Aku bertanya dalam hati diantara beratnya menjawab pertanyaan Hadi. Aku tak punya pilihan lain selain menganggukkan kepala bahwa aku memang telah jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hening, tak ada yang berbicara. Bahkan aku tak mampu melangkahkan kakiku keluar kamar untuk menemui Hadi yang tiba-tiba berkunjung ke rumahku untuk menemui Ayah dan Ibuku. Seketika aku ingin sekali waktu dipercepat saja, atau berhenti sejenak karena aku takut melalui fase yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kemari untuk melamar Annisa, saya mohon ijinkan saya menikahinya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Hadi tanpa basa basi seperti kebanyakan oranglain, dia masih menunggu jawaban dari ayah dan ibuku. Aku bisa membayangkan bagaimana wajah ayah dan ibu mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Hadi. Ku harap mereka tidak murka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“nak Hadi, kami tidak mengerti maksud nak Hadi. Bukankah nak Hadi baru saja bercerai sekarang hendak melamar anak kami pula. Bukannya kami tidak mau menerima lamaran ini, tapi alangkah baiknya difikirkan dengan seksama tanpa memperturutkan hawa nafsu. Ayah diam sejenak lalu melanjutkan kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kami sudah memperingatkan annisa agar tidak berhubungan denganmu, ternyata dia bukan anak manis yang penurut lagi. Sekarang akibatnya seperti ini, walaupun kami menyadari perselisihan antara nak Hadi dan Yuni sudah berlangsung lama, tapi kehadiran annisa menjadi gong perceraian kalian. Ibu mendehem beberapa kali saat ayah mengakhiri kalimatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya berjanji akan membahagiakannya Pak, bu…saya tak akan menyia-nyiakan putri bapak dan ibu. Hadi memang termasuk orang yang persisten, dia akan berusaha untuk mendapatkan restu dari kelurgaku bagaimanapun caranya, sesulit apapun langkah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah dan ibu diam, aku tahu mereka tak punya pilihan selain memintaku yang memutuskan. Aku masih diam di dudukkan dihadapan semua keluarga. Kakak-kakak iparku dan dua orang abangku sudah duduk pula menunggu jawaban yang akan ku berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk minta ijin untuk dinikahkan. Aku yakin berpasang-pasang mata sedang memelototiku. Ayah dan ibu tercinta maafkan aku desahku dalam diam. Sungguh ini diluar kemampuanku untuk mengontrol perasaanku yang telah lama kutahan, ah,..apa peduli mereka jika ku berbicara atas nama cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini kalian akan kami nikahkan, besok segera urus surat-surat pernikahan. Setelah itu pergilah jauh dari desa ini. Karena pernikahan kalian akan menjadi masalah besar untuk beberapa keluarga di desa kita ini. Kamu tahu kan Nisa,..keluarga Yuni sangat arogan dalam hal ini, mereka tak akan tinggal diam melihat kalian menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Hadi kaget dengan pernyataan dari abang pertamaku. Aku merasa seperti dikucilkan, tapi aku tahu makna tersirat di balik kata-kata tegas seorang abang, bahwa sebenarnya mereka ingin aku bahagia tapi mereka juga khawatir dengan akibat yang terjadi dengan pernikahanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami menikah disaksikan keluarga inti dan seorang penghulu yang didatangkan dengan diam-diam agar tidak menjadi berita di desa. Aku melihat ibu yang tak henti-hentinya menangis, aku menatap ayah yang sedari tadi diam. Sungguh ini bukan pernikahan yang aku harapkan, aku ingin menikah dengan dihadiri sahabat, didoakan banyak orang dan menjadi kebahagiaan keluarga. Namun apa yang mau dikata &lt;br /&gt;semua telah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pergi keluar kota tepat empat hari setelah pernikahan. Ternyata berita pernikahan kami cepat tersebar di desa. Aku hanya mendengar sayup-sayup cerita bahwa keluargaku diteror oleh keluarga Yuni. Mereka bahkan mengecam akan menyengsarakanku karena telah berani membuat Hadi menceraikan Yuni. Hatiku miris, airmataku tiada henti selama di perjalanan. Hadi terus saja memelukku, menguatkan aku atas keputusan yang kami ambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“percayalah sayang, aku akan selalu menjagamu. Hadi berbisik di telingaku, menumbuhkan damai sejenak di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun hidup di kota yang berbeda membuat aku sering merindukan keluargaku. Entah &lt;br /&gt;bagaimana kabar ayahku yang sudah mulai sakit-sakitan, atau ibu yang sering menangis mengingat putri satu-satunya berulah hingga harus jauh darinya. Betapa rindunya aku pada mereka, ingin sekali aku memperkenalkan gadis kecil kami pada kedua kakek dan neneknya. Oh,..betapa rindu ini semakin membumbung tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sayang…mungkin sudah saatnya kita pulang, aku ingin melihat ayah dan ibu, tak &lt;br /&gt;sekalipun selama dua tahun ini kita bertemu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersabarlah,..kalau kondisi di desa sudah kondusif, pasti kita akan pulang sayang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menarik nafas panjang menyadari kemungkinan itu kecil terjadi, hampir setiap minggu aku bertanya apakah kondisinya sudah kondusif untuk kami pulang. Hingga akhirnya di suatu sore dengan lagit berwarna jingga, berita dari abangku sangat menyejukkan hatiku bahwa kami sudah boleh melangkahkan kaki kembali di desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah dan ibu dalam pelukanku, tak kuasa ku menahan air mata yang terus saja mengalir dengan tenang, sungai-sungai kecil itu memenuhi pipiku. Betapa rindunya aku pada mereka. Betapa indahnya pertemuan  yang syahdu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah ibu aku tak akan pergi lagi, aku tak akan menyakiti hati kalian lagi karena ulahku”…dalam tangisan terisak-isak aku mengucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Yuni memang tak bergeming, bahkan mereka nyaris diam seolah-olah tak terjadi apapun dengan kedatangan kami. Aku dan Hadi kembali membuka usaha rumah makan yang sempat aku tinggalkan begitu saja dulu. Ternyata di balik sikap yang tak reaktif itu tersembunyi maksud yang lain. Aku masih ingat kata-kata itu bahwa mereka akan membuat hidupku sengsara. Aku pikir itu hanya ucapan ketika marah, namun memang itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah dari mana mulanya aku menangkap sikap yang aneh dari Hadi. Sudah tahun ke empat pernikahan kami, dia masih bersikap setia dan manis padaku. Di tahun kelima ketika putri kedua kami lahir, hadi mulai menunjukkan gejala yang tidak biasanya. Dia sering menghilang tiba-tiba, bahkan jarang membantuku di rumah makan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ingat, kami tak akan pernah diam. Kami hanya menunggu waktu yang tepat” laki-laki itu berlalu dariku, aku akhirnya menyadari bahwa laki-laki itu pamannya Yuni mantan istri Hadi. Oh Tuhan, apa yang mereka rencanakan untuk hidupku, aku yakin jika Allah belum berkehendak semua juga tak akan terjadi seperti yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nisa,…apa kau tak lihat kemaren Hadi bertemu Yuni di terminal bis, aku yakin semua orang bisa melihat mereka, rasanya janggal bertemu di terminal yang justru semua orang bisa melihatnya”. Sepupuku berbisik prihal kedekatan Hadi dengan Yuni di luar sepengetahuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku bisu, apalagi bibirku tak berucap apapun. Mengapa Hadi berubah di saat aku sangat membutuhkannya. Anak-anak yang butuh seorang figur ayah yang shaleh. Mengapa hadi harus menyakitiku lagi demikian dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai merasakan gelagat itu. Hadi bahkan berani berkata hal yang bisa membuat emosiku memuncak. Entah apa yang terjadi padanya. Apakah begitu mudah laki-laki jatuh cinta semudah dia menghempaskannya pula hingga hancur berkeping-keping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini yang dirasakan Yuni dulu, begitu sakitkah dikhianati. Orang-orang di desa mengatakan bahwa Hadi kena santetnya keluarga Yuni. Tapi aku tidak percaya tentang hal itu, menurutku Hadi memang masih mencintainya. Hadi menunggu hingga Yuni berubah menjadi lebih baik. Lalu aku,..dianggap apakah aku ini oleh Hadi dan Yuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhembuskan perlahan napasku yang terasa berat. Detak jantungku terasa terdengar jelas di tengah malam yang gulita. Aku masih menunggu Hadi pulang, tak sedikitpun rasa kantuk merayapiku. Ini semua harus selesai, apapun yang terjadi aku sudah siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kalau kau masih mencintainya mengapa tidak jujur saja padaku, katakan saja jangan bertemu dia di belakangku, aku malu pada semua orang yang mengetahui tingkah polah kau dan Yuni. Aku cukup sabar jika kau menceraikanku dengan baik-baik tapi tidak menyelingkuhiku apalagi wanita itu Yuni, mantan istrimu”.&lt;br /&gt;Hadi menatapku. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Dia menggaruk kepalanya yang kurasa sama sekali tidak gatal. Dia berjalan maju mundur di depanku, sehingga membuatku geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ada apa denganmu, aku tak percaya telah menikah dengan laki-laki sepertimu, aku minta kau kembali berubah, atau ceraikan saja aku. Kedua-duanya akan baik untuk kita dan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gigiku bergemeretak menahan amarah, tidak pernah aku begitu menyesali dengan hidupku kecuali saat ini.  Menyesal karena aku tak berfikir panjang dulu, menyesal karena belum dewasa mengambil sikap. Menyesal juga akhirnya tak memberi solusi apapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;….Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah nafkah mereka hingga mereka bersalin. Kemudian jika mereka menyusukan anak-anakmu untukmu maka berikanlah kepada mereka biayanya, dan musyawarahkanlah diantara kamu segala sesuatu dengan baik…..(Ath-thalaaq : 06).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku tatap dua pasang mata dua gadis kecilku, mereka tanpa ayah sekarang. Hanya aku ibunya seorang yang akan mencintai mereka seumur hidup. Melangkah seorang diri sungguh terasa berat, apalagi membawa beban yang terasa berat di pundak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak genap sebulan perceraian kami, Hadi kembali rujuk dengan Yuni. Semenjak itu hadi seperti tak mengenaliku lagi, bahkan dia mangkir dari kewajibannya untuk membiayai sekolah dan kebutuhan anak-anaknya. Biarlah, mungkin dia telah melupakan bahwa ada memory tentang aku dalam pikiran dan hatinya. Aku tak ingin berurusan lagi dengan suami istri yang sempat mengacaukan hidupku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, sesuatu yang sangat sulit untuk kita gapai bahkan tak mungkin semakin membuat kita tergila-gila untuk meraihnya. Tak akan pernah setara saat kita telah  mendapatkannya. Sama halnya yang terjadi antar aku dan Hadi. Begitu menggebu-gebunya dia dulu meyakinkanku, namun ketika semua telah didapat dariku, lalu dia pergi meninggalkan luka yang menganga di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belajar banyak hal tentang hal ini, aku belajar menjadi dewasa, aku belajar menjadi tangguh dan aku belajar menjadi orang yang bertanggung jawab atas keputusan yang ku buat, bukan menjadi korban atas keputusan yang telah kubuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To. My lovely aunty&lt;br /&gt;Cinta tak hanya dia,&lt;br /&gt;Beranilah meraih bahagia,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 18 February 2010&lt;br /&gt;Aida.m.affandi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-8681564293142205555?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/8681564293142205555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/suamiku-bukan-untukku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/8681564293142205555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/8681564293142205555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/suamiku-bukan-untukku.html' title='Suamiku Bukan Untukku'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3yeukuXVLI/AAAAAAAAABI/DBUOTlTdOpA/s72-c/hijab02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-6999602832637018112</id><published>2010-02-16T15:53:00.000-08:00</published><updated>2010-02-16T16:10:55.344-08:00</updated><title type='text'>Aku Harus Tetap Hidup</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3sz7r0bu9I/AAAAAAAAABA/-D4yZtRRSaM/s1600-h/senja-di-masjid-raya-baiturrahman.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3sz7r0bu9I/AAAAAAAAABA/-D4yZtRRSaM/s320/senja-di-masjid-raya-baiturrahman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438998075447950290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Di tiap jengkal kehidupan,…. &lt;br /&gt;sang hujan memang harus tercurahkan.&lt;br /&gt;Kadang hari-hari memang harus dilalui&lt;br /&gt;dalam selingkup awan kelabu dan kedukaan.”&lt;br /&gt;Bagaimana Rasanya cinta jika hidup tanpamu,..&lt;br /&gt;Kurasakan waktu tertatih-tatih memapahku,..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih menatap sebidang tanah yang ditumbuhi rumput Manila hijau yang sengaja di tanam di tanah seluas 100 m x 50 m. tanah ini tanpa jajaran nisan hanya plakat kecil ditempatkan di pintu utama yang bertuliskan “Kuburan massal Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Di sini dimakamkan 46.718 jiwa korban tsunami pada tanggal 26 Desember 2004. Semoga arwah mujahid diterima Allah.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsunami itu telah memisahkan banyak hati yang merana. memisahkan ibu dari anaknya, memisahkan istri dari suaminya, memisahkan sanak keluarga, memisahkan sahabat dan teman. Tsunami itu telah banyak menyisakan kenangan dan kisah yang memilukan dalam tiap diri kami yang menjadi saksi hidup di hari itu. Gempa berkekuatan 9,0 skala reacter itu telah menghentakkan bumi rencong, mematahkan lempeng bumi di dasar laut yang ingin memuntahkan material lumpur-lumpur hitam yang dihantarkan bersama gelombang yang maha dahsyat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tiada berkuasanya manusia untuk mengetahui kapan kematian mengambilnya. Begitu pula aku manusia yang ternyata lemah, menjadi setengah gila karena kematian itu memisahkan aku dari orang yang sangat aku cintai. Namun kematian itu telah mengajarkanku tentang makna ketegaran dan mencoba memberikan arti yang nyata dalam hidupku dan anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku coba membetulkan letak kacamata hitamku, berharap tak ada lagi tetesan airmata yang mengalir. Sejenak aku terdiam, memandang gadis kecilku yang terlihat bingung saat kuberitahu bahwa weekend kali ini kita berziarah ke kuburan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Tiara sayang,…di sini papa Tiara dikuburkan, sekarang kita berdoa semoga papa selalu disayang Allah”/ Tiara kecil langsung menengadahkan tangan, walaupun rasa heran  masih jelas terlihat dari sorot mata beningnya yang lucu. Aku menyegerakan ziarahku kali ini, usai menyiramkan air dan membacakan doa buat suamiku dan arwah-arwah korban tsunami yang lainnya. Aku bergegas membawa Tiara, aku tak ingin dia melihat bahwa aku masih amat terpukul dengan kepergian papanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airmataku sungguh tak dapat terbendung, wajah Tiara yang begitu mirip dengan Indra suamiku semakin membuat rindu ini padanya menggebu-gebu hingga ke ubun-ubunku. Sepanjang perjalanan pulang, bibirku tak semenitpun berhenti untuk memberikan jawaban kepada Tiara yang juga tak pernah berhenti bertanya. Kenapa papa dikubur di situ, kenapa papa pergi ninggalin tiara. Tiara masih berusia 4,5 tahun, banyak hal yang ingin dia ketahui, beribu pertanyaan mungkin di kepalanya saat ini, namun aku selalu mencoba memberikan penjelasan sederhana untuk anak seumuran Tiara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat Tiara terdiam sama sekali tidak bertanya lagi, aku melirik ke arahnya. Kecerdasan Tiara semakin jelas terlihat saat dia sedang berfikir tentang sesuatu, dengan mimik wajah yang begitu serius, kedua alisnya terlihat mengkerut dan hampir menyatu, sesekali bola matanya yang cerdas berkedip-kedip lalu dia tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Bunda, Papa Tiara pasti orang baik…makanya Allah cepat-cepat bawa papa Tiara ke Syurga, karena Allah sayang ama orang yang baik kayak papa Tiara…betul kan Bunda??.. kata bu guru kalo orang baik itu  masuk syurga Bunda,..”/ aku tak mampu mendengarkan lagi celoteh gadis kecilku yang semakin membuat perasaan sedih dan rinduku pada Indra berkecamuk. “Sayang,….aku sungguh sangat merindukanmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…………&lt;em&gt;Tiap-tiap ummat mempunyai ajal, apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak pula mendahulukannya (Yunus : 49)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru 3 bulan ini kami memilih membeli sebuah rumah kecil di komplek perumahan Kajhu di kecamatan Baitussalam Aceh Besar, setelah sebelumnya sempat mengontrak rumah di daerah kota. Biasanya untuk mencari lauk yang segar bukanlah hal yang sulit di sini. Pantai hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari perumahan. Sungguh pemandangan yang sangat elok. Selain alasan lebih dekat dengan tempatku bekerja, alasan view juga menjadi pilihan kami memilih komplek perumahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehamilanku saat itu memasuki trimester  ke 3. Syukurnya selama hamil aku tidak pernah mengalami morning sickness seperti ibu hamil pada umumnya. Namun hal itu terjadi pada Indra suamiku. Persis seperti wanita yang sedang hamil, pagi-pagi serasa mual dan ingin muntah, belum lagi selalu kepingin ngerujak. Terkadang aku tersenyum jika melihat tingkah indra saat menyantap pedas asemnya rujak, matanya akan terpejam dalam hitungan detik, bibirnya akan mengerut saat mengecap rasa asam, bahkan sampai-sampai membuat air liurnya menetes. Aku pasti akan tertawa geli jika mengingat saat indah dan aneh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama hamil aku memang rajin memakan seafood, sudah menjadi rahasia umum kadar omega 3 yang terkandung pada ikan begitu baik untuk janin, sepertinya tiada hari tanpa melahap segala jenis masakan ikan dan kepiting. Syukurnya Indra salah satu dari sekian banyak suami yang cukup punya andil dalam perkembangan calon bayinya. Indra juga rajin membelikan ikan bakar atau sop ikan untukku, terkadang dia sering memasakkannya untukku. Dalam hal yang satu ini aku selalu mengacunginya dua jempol karena bangganya aku memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan kebiasaannya setiap weekend, pagi-pagi sekali setelah menikmati kopi dan sepotong roti bakar sebagai sarapan pagi, indra berkemas-kemas untuk mulai menjelajahi boat-boat kecil yang baru pulang melaut. Biasanya aku juga ikut serta, namun kali ini pinggangku begitu nyeri. Rasanya tak betah duduk berlama-lama di sepeda motor. Aku memilih beristirahat di rumah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Kamu yakin ga mau ikut sayang??,..baiklah kamu istirahat saja ya, aku tak akan lama”/indra berjanji tak akan pulang terlalu siang, karena aku sendirian di rumah. Kami memang sudah membuat kesepakatan baru akan mengambil pembantu jika anak kami telah lahir. Untuk sementara ini aku dan indra saling bekerjasama menghandle semua pekerjaan rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”anak papa,..jaga bunda ya, papa pergi sebentar. Hari ini kita makan kepiting yang lezaattt sekali”/ seperti biasa Indra selalu berbisik di perut buncitku, berkomunikasi dengan bayi kami yang tak lama lagi akan lahir. Indra menciumku lembut sambil mengucapkan kata I love u sebelum lepas dari pandanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas indra pergi, rasa nyeri di pinggangku tiba-tiba berangsur hilang. Lima menit lagi menunjukkan pukul 8 pagi. Perasaanku tiba-tiba dikerubuti kegundahan. Indra baru saja pergi sekitar 15 menit yang lalu. Aku merasa aneh dengan gerakan bayiku yang lebih aktif dari biasanya di pagi ini. Apakah sesuatu yang akan terjadi pikirku dalam hati. Kegundahan itu semakin menjadi tatkala bumi yang kupijak bergerak-gerak perlahan mengguncangkan tubuhku. Bunyi derit pintu dan jendela semakin membuat pikiranku kacau untuk berfikir tenang dalam kesendirianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Astaghfirullahal adzhimmm,… bibirku tak berhenti melafazkan kalimat istiighfar itu. Mataku berkunang-kunang, kepalaku mulai pusing. Rasa mual menggerogotiku. Aku merangkak perlahan-lahan ke luar rumah, berusaha menghindari pintu dan jendela. Ternyata di luar sebagian besar penghuni rumah di komplek juga sudah berhamburan keluar dengan wajah panik kami duduk meringkuk sambil berpegangan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat matahari yang masih bersinar terang dan mulai menyengat tubuh. Tidak ada yang berbeda masih terlihat dari arah Timur. Kulihat ke sekelilingku semua orang masih menyebut Asma Allah. Oh, ternyata ini bukan pertanda akan kiamat bisikku dalam hati. Aku ingat bahwa salah satu tanda kiamat adalah tatkala matahari terbit dari Barat dan orang-orang tak punya kemampuan lagi menyebut nama Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku pegangi tanah yang penuh rumput tempat aku terkulai terduduk. Aku khawatir jika tanah ini mulai retak karena gempa yang sangat kuat ini belum juga berakhir. Kepalaku semakin berat, aku betul-betul lemah serasa semua isi perutku ingin keluar. Seolah-olah aku berada di tengah lautan yang didera badai topan, sementara aku sendirian dalam biduk kecil terhuyung-huyung kesana kemari, mencoba mencari pegangan namun tetap merasakan goncangan yang justru semakin hebat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa mulai reda setelah 10 menit kami terombang ambing ke sana kemari bahkan berdiri saja bisa langsung jatuh. Kupegangi perutku yang bergerak-gerak karena tendangan bayi kecilku. Mungkin dia juga merasakan kepanikan yang aku rasakan.  Ku tarik nafas untuk menenangkan diriku. Ya Allah,..Indra dimana?? Hatiku sungguh diserang gundah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang belum sempat aku rapikan tadi, sekarang semakin amburadul. Pecahan gelas yang jatuh bertebaran di lantai dapur. Aliran listrik yang mati seketika begitu juga dengan jaringan telpon selular. Entah mengapa kondisi ini membuat aku merasa berada di tempat yang asing dan jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Ya Allah,…dimana Indra, bagaimana keadaannya. Aku tak bisa menghubungi nomer telponnya sama sekali, aku semakin kalut. Tiba-tiba aku sangat menyesal tidak membalas ucapan I love u yang diucapkan indra sebelum pergi tadi. Perasaanku semakin tidak tenang, aku juga tak bisa menghubungi keluargaku di Meulaboh (Aceh Barat), Oh Tuhan,..aku benar-benar berada di posisi yang sangat tersiksa dengan kekhawatiran ini, namun aku juga yakin Indra pasti sangat mengawatirkanku”/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurapikan kerudung hitamku lalu kumasukkan dompet dan handphoneku ke kantong celana panjang. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada Indra. Dadaku masih berdegup kencang bahkan serasa hampir copot saat sebuah suara dentuman yang begitu dahsyat menggelegar di telingaku. Agak tergesa-gesa aku keluar dari rumah saat mendengar semua orang berteriak dan kegaduhan dimana-mana. Kepanikan semua orang semakin membuat hatiku kalut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”&lt;em&gt;Ie laot pasang,..Ie laot pasang&lt;/em&gt;. Air laut pasang, air laut pasang, semua orang berteriak, dengan  teriakan yang sama memberikan kabar pada yang lain agar segera menyelamatkan diri. Aku sungguh tidak mengerti mengapa air laut pasang hingga sampai ke perumahan?? Seberapa besar pasang itu datang. Tapi aku tak sempat menjawab semua pertanyaan di kepalaku saat itu. Kata-kata tentang tsunami belum begitu familiar di telingaku. Aku hanya mengira-ngira bahwa ini pasang gelombang yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak sanggup berlari, dalam desakan beribu manusia yang mengambil jalur yang sama, seperti berada pada garis start perlombaan lari maraton setiap orang berusaha berada paling depan , berlarian ke sana kemari, bukan hanya dengan sekumpulan manusia namun juga bersama sekumpulan hewan-hewan ternak yang memiliki feeling tentang marabahaya alam. Sandalku pun putus terinjak-injak motor yang berkali-kali menabrak kakiku, telingaku berdenging-denging mendengar suara mobil yang berkali-kali membunyikan klakson mereka, seolah-olah tak mau kalah bahkan semakin bersahut-sahutan agar kami yang berlari tanpa kendaraan memberi mereka jalan. Ternyata benar ketika saat situasi kalut kebanyakan orang hanya memikirkan keselamatan dirinya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakiku terasa perih, terluka kena goresan kerikil-kerikil tajam karena jalan yang kami tempuh bukan lagi pada jalur yang semestinya, jalan itu secara spontan saja dilewati yang penting sejauh mungkin menjauh dari arah laut. Aku tak sanggup berlari lagi, dadaku susah untuk bernafas, sebagian orang sudah mulai memanjat pepohonan. Lalu bagaimana dengan aku?? Belum sampai aku menaiki atap rumah yang agak tinggi tiba-tiba suara gemuruh air itu semakin dekat di telingaku, persis di belakangku, mengejarku dan air itu menyapu kami yang merangkak naik ke atas atap rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peganganku yang kuat mampu terlepas oleh satu hentakan gelombang yang datang menghantam tubuh dan pemukiman kami. Aku terhuyung-huyung antara sadar dan tidak. Hanya suara badai angin disertai air yang masih bergemuruh ke arahku dan beberapa orang yang juga berpegangan pada kusen plafon rumah yang berlantai 3. Kecepatan air tsunami pada pusat gempa saat itu mencapai 700 km/jam namun menjalar ke pemukiman bisa mencapai 60 - 80 km/ jam sama dengan kecepatan saat Indra memboncengiku dengan motor bebeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melawan sekuat tenagaku. Bencana besar ini datang kepada kami. Menyapu tubuh kami seketika. Memisahkan kami dari keluarga-keluarga kami. Menghancurkan semua kesombongan kami. Aku masih meraba kusen jendela rumah yang telah hancur seketika itu. Beberapa orang lelaki yang berada lebih dulu di atas membantuku untuk naik ke atap rumah. Aku duduk bersama dua orang wanita muda, satu anak-anak dan dua orang lagi laki-laki yang menyelamatkanku tadi. Aku khawatir dengan kehamilanku, tubuhku kedinginan basah kuyup. Air itu begitu hitam bercampur lumpur dan berbau. Bahkan sempat masuk ke dalam tubuhku karena terminum saat tenggelam tadi. Aku seperti berada di salah satu adegan film the end of day, coba kamu bayangkan dadaku bisa berpacu sepuluh kali lebih kencang daripada saat aku mengikuti adegan di film itu.&lt;br /&gt;Hening seketika saat itu. Gemuruh suara dan kepanikan tadi hilang tanpa suara. Semua diam, gelombang besar itu diam tak bergejolak lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang itu kembali surut memenuhi dasar-dasar laut membawa semua yang dilewatinya. Aku menghela nafas panjang. Aku hanya diam di atap rumah yang mulai ringkih ini, ingin rasanya aku mencoba menolong yang lain tapi aku tak punya kekuatan sama sekali. Ku perhatikan sekelilingku rumah-rumah yang telah hilang ditelan air, bahkan atap rumahku pun tak kelihatan lagi. Pepohonan yang ambruk terbawa kesana kemari seiring komplek perumahan kami yang telah menjadi lautan air dan sisa-sisa hancuran bangunan hanya dalam hitungan menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak hanya sampai di situ. Gempa susulan itu masih terus terasa, semakin kencang, aku hanya pasrah bersama linangan airmata yang terus mengalir di pipiku. Suara gemuruh itu terdengar lagi persis di hadapanku gemuruh air yang hitam mengejar keberadaan kami lagi, gelombang itu datang lagi. Aku tak sanggup melihat gerakan air yang kencang dengan posisi vertikal  tingginya mencapai 10 meter melebihi tinggi sebuah pohon kelapa itu mengejar kami. Seperti hantu yang begitu besar  berlari dengan cepat dan menakuti siapapun yang ada di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lagi wanita paruh baya meminta tolong pada kami agar di bantu naik ke atap, aku sungguh tak sanggup melihatnya. Ku tutup mataku rapat-rapat saat tangan wanita paruh baya itu terlepas dari genggaman seorang laki-laki yang berniat membantunya. Sungguh malang wanita itu bukan hanya terseret gelombang tapi kepalanya juga ikut terpisah dari tubuhnya karena terkena sayatan atap rumah yang terbuat dari seng. Pemandangan yang sangat mengenaskan terjadi di depan mataku. Airmataku seolah-olah tak mengering, aku terus menangis bukan karena kesendirianku saja tapi karena aku merasa begitu kerdil dibandingkan dengan setitik bencana dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang itu kembali menghantam kami, kami saling berpegangan tangan saling menguatkan saling membantu. Mungkin karena sama-sama mengalami musibah, sehingga membangkitkan rasa kepedulian kami berlima yang selamat di atas atap rumah ini. Tak satupun dari kami yang tidak menangis, menangis karena merasa begitu kerdil di hadapan Allah. Menangis karena tak mampu menyelamatkan yang lain. Menangis karena merasa dalam ketiadaan dan kehilangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”Ayo,..kita mencari pertolongan ke tempat lain, mungkin ke daerah yang jauh dari daerah pantai akan lebih aman ”/kata salah seorang laki-laki di antara kami. Namun perasaanku masih ingin tetap di sini mencari tahu keadaan Indra. Berat sekali aku menuruni atap rumah ini, dengan tubuh dalam keadaan basah kuyup  dua orang laki-laki itu membantu kami turun satu persatu. Akhirnya gelombang itu pun mulai surut. Laut kembali terlihat tenang setelah melepaskan amarahnya dalam waktu kurang dari 60 menit saja. Hanya kami yang selamat masih terus menangis tanpa henti melihat kekuasaan Allah yang telah terjadi di depan mata kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan orang yang selamat dari ribuan orang yang memukimi daerah ini terlihat bergerak menjauh dari tempat ini. Banyak yang terluka, tubuh penuh sayatan sangat perih pastinya saat bersentuhan dengan air laut yang asin. Anak-anak yang menangis terpisah dari ibu bapaknya. Sebagian terlihat tanpa pakaian mungkin terbawa arus yang kencang, sebagian lagi terlihat compang camping. Tapi aku bersyukur bahkan kerudungkupun tidak terlepas dari kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku tak mau berhenti memikirkan Indra, selamatkah ia ayah dari anakku itu??,..sepanjang jalan menuju ke tempat yang lebih aman aku tak henti-hentinya membolak balik tubuh-tubuh yang telah menjadi mayat. Setiap kali itu pula aku menangis karena usahaku sia-sia menemukan Indra. Feelingku sebagai seorang istri mengatakan bahwa Indra ada di sekitarku mungkin dalam keadaan sekarat membutuhkan pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/”kalian pergilah lebih dulu, aku masih ingin mencari suamiku ucapku pada teman-temanku yang selamat satu atap denganku tadi. Mereka terlihat khawatir dengan keadaanku yang tengah hamil besar dan sendirian. Namun ku yakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja. Mereka juga butuh mencari sanak keluarga mereka yang lain, ku pikir aku tak mungkin menggantungkan diri pada orang yang juga sedang dalam kesusahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir 4 jam, aku tak lelah bersusah payah membolak balik tiap tubuh yang kujumpai di jalan, di atas atap rumah, yang tersangkut di cabang pohon, di sela-sela runtuhan bangunan. Namun tetap nihil, aku kelelahan karena pemukiman itu masih penuh dengan genangan air, seperti sungai kecil dadakan tercipta. Aku sama sekali tak menemukan indra bahkan jasadnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan ke tempat pengungsian semua orang yang kujumpai dalam keadaan menangis, melakukan hal yang sama denganku membolak balikkan tubuh-tubuh yang telah kaku tanpa nyawa, ada yang mengangkat mayat anaknya sambil tak henti-hentinya meraung. Anak-anak kecil yang menangis mencari ibunya. Akhirnya aku terdiam tak mampu menangis lagi, melangkah gontai berharap indra mencariku di pengungsian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa-gempa susulan yang terus datang bertubi-tubi tak menyurutkan niat kebanyakan orang untuk mencari sanak keluarganya. Saat itu sudah lewat pukul 12 siang, kucoba cek kembali signal handphone ku, malangnya handphoneku terendam air sehingga tidak bisa dihidupkan sama sekali, mungkin saja sudah tak bisa dipakai lagi karena terendam air asin yang bercampur dengan material lumpur hitam dari dasar laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Andai hidup puncak perpisahan,&lt;br /&gt;biarlah mati menyambungnya semula.&lt;br /&gt;Namun seandainya mati puncak perpisahan,&lt;br /&gt;biarlah hidup ini membawa arti yang nyata&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk tanpa suara di tangga masjid kampus syiah kuala, masjid ini menjadi salah satu tempat pengungsian terdekat dan relatif lebih aman dari tempat tinggalku. Ratusan orang yang selamat berkumpul di sini. Aku mulai memperhatikan tiap mayat yang digotong beramai-ramai, lalu di letakkan di samping masjid. Sudah hampir satu jam aku duduk di sini, beberapa orang kenalan yang kujumpai tetap tidak tahu menahu atau melihat dimana keberadaan indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hopeless,..mungkin itu yang aku rasakan. Hari semakin senja, sebentar lagi malam tiba. Tapi indra tak juga kutemukan. Ku kuatkan hatiku, mungkin dia belum tertolong atau mungkin dia mengungsi di tempat yang lain, beribu kemungkinan untuk menguatkan hatiku sendiri. Walaupun ku tahu cemas itu semakin menyiksaku. Menyiksa tubuh, hati dan janin yang sedang ku kandung saat ini. Sejuta harap pula ku junjung setinggi harapan jiwaku yang sangat membutuhkan kehadiran indra untukku dan calon bayi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih duduk diantara jejeran mayat yang ditemukan hari ini. Mataku tak lelah memperhatikan tiap lekuk tubuh, bentuk wajah tubuh-tubuh yang tak bernyawa itu. Wajah mereka mulai sulit untuk diidentifikasi, bentuk wajahnya sudah tidak jelas lagi karena tertutupi oleh lumpur hitam dan sisa-sisa kotoran yang menempel di sekujur tubuh, selain itu juga karena lama terendam di dalam air sehingga sebagian besar tubuh dan wajah mereka menjadi bengkak dan menggelembung. Aku berharap tak menemukan mayat indra, aku tak kuat jika pada kenyataannya indra telah tiada, mungkin juga aku akan gila jika benar harus menghadapi kenyataan seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sampingku duduk seorang wanita muda, entah berapa lama ia telah duduk di depan dua mayat balita kembar yang tak lain adalah anaknya. Wanita itu hanya diam, aku hanya melihat tetes demi tetes airmata yang berjatuhan di pipinya. Di sela-sela tangisnya aku sedikit mendengar gumamannya yang menyayat hatiku. “pakon jeut meuno,.. mengapa bisa begini, mengapa tangan ibu tak kuat memeluk kalian, mengapa kita harus berpisah dalam keadaan yang menyakitkan, sungguh ibu merasa bersalah atas perpisahan ini. Aku sesenggukan mendengar jerit bathin wanita yang telah ditinggal pergi dua balitanya sekaligus ini. Mungkin aku tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun jika berada di posisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan orang hilir mudik di hadapanku, aku tahu dalam hati tiap mereka yang kujumpai hari ini menyimpan berbagai macam perasaan. Beragam pula cara mereka menata hati masing-masing. Namun bagiku musibah ini menjadi sebuah refleksi diri, tak ada satupun yang mengetahui hikmah di balik semua ini. Rahmat sering datang kepada kita dalam bentuk kesakitan, kehilangan dan kekecewaan; tetapi kalau kita sabar, kita segera akan melihat bentuk aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tiga hari aku terlunta-lunta di sini bersama puluhan orang yang juga bernasib serupa. Tidur tanpa alas, makanan yang tidak tersedia, pakaian satu-satunya yang melekat di badan saja. Uang menjadi tidak berharga karena tak ada makanan yang bisa dibeli. Belum lagi harus tidur di antara aroma mayat yang belum dikubur karena menunggu keluarga si mayat yang mungkin datang untuk menguburkannya. Indra tak kunjung datang memelukku, jangankan berharap menemukannya berjalan menghampiriku, tubuh tanpa nyawanya saja tak kutemukan. Berulang kali aku melongok tiap mobil ambulance yang mengangkat mayat untuk dimakamkan atau korban tsunami yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit. Namun hasilnya tetap nihil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dimanakah kau cintaku,…aku bersama gelisah menantimu untuk menatap mata coklatmu yang teduh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah kau pujaanku,..aku bersama gundah mengharapkan uluran jemari hangatmu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah kau belahan jiwaku,..apa kau tak melihat siang dan malam aku terpekur &lt;br /&gt;dalam bayangan kasihmu,…menggantungkan rinduku dalam derit cabang pohon yang ditiup angin malam,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah kau pahlawanku,…dalam robohan tonggak kujelajahi resahku, dalam bisunya puing-puing tsunami kurapatkan tiap jengkal kekuatanku,.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah engkau separuh jiwaku yang lain,…aku akan tetap menantimu dalam setiap saat ketika mimpi indah menghampiriku,..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang seminggu di tempat pengungsian, sebagian pengungsi mulai sakit. Anak-anak yang kena diare, ispa, gatal-gatal di sekujur tubuh karena kekurangan air bersih sepertinya menjadi penyakit langganan di tempat pengungsian. Begitu juga dengan tubuhku semakin lemah tanpa bantuan makanan yang cukup untuk kebutuhan giziku sebagai wanita hamil. Tiada kabar dari Indra telah membuatku pasrah, namun tiada kabar dari keluargaku di Meulaboh juga semakin membuat hatiku perih. Kabar yang simpang siur di tempat pengungsian terkadang membuat hati harus lebih kuat berkali lipat daripada biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu pengungsi di shelter kampus Syiah Kuala berkurang jumlahnya. Sebagian besar mereka yang berasal dari daerah utara dan timur aceh telah pulang ke kampung halaman mereka. Banyak adik-adik mahasiswa yang dijemput oleh keluarga mereka untuk pulang. Namun yang masih bertahan di shelter hanya orang-orang yang berasal dari daerah pantai barat selatan aceh, termasuk aku yang berasal dari Aceh Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tak sanggup menunggu lama lagi di sini, aku juga tak mungkin diam saja. Aku harus tahu bagaimana keadaan keluargaku di Meulaboh. Telah seminggu ini ku belajar mengikhlaskan kepergian Indra. Hingga di suatu pagi di hari ke tujuh aku berada di pengungsian, dengan sedikit terbata-bata seorang laki-laki bertubuh ceking dan berkulit hitam menghampiriku. sekitar pelipisnya masih terlihat luka yang dalam terkena goresan benda tajam. Kakinya sedikit pincang saat berjalan. Dia memandangku dengan cemas, memperhatikan tubuhku yang mulai lemah dengan perut yang membesar.&lt;br /&gt;/”kak,..saya sempat berlari bersama bang Indra saat kejadian itu, tapi kami terpisah saat gelombang kedua menerjang kami lagi. Lalu bang Indra hilang tak terlihat lagi. Saya sudah berusaha membantunya tapi tangan kami terlepas karena tubuh saya pun lemah setelah berulang kali tenggelam. Saya khawatir mayatnya sudah terbawa arus di tengah lautan, jadi kemungkinan besar mayatnya tak bisa ditemukan lagi, maafkan saya baru bisa mengatakannya sekarang, sudah tiga hari saya mencari-cari kakak tapi baru sekarang saya bisa bertemu kakak setelah membaca di papan informasi daftar nama-nama pengungsi di sini,..maafkan saya, yang sabar ya kak,…”/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hampir terjatuh dari sikap berdiriku, kabar itu sungguh menyayat hatiku. Tiba-tiba aku membayangkan anakku yang akan lahir tanpa ayahnya. Kakiku begitu lemah, tanganku gemetaran namun aku tetap bertahan dalam ambang kesadaranku. Mungkin tubuhku lemah, air mataku juga tak henti-hentinya mengalir. Tapi hatiku telah belajar banyak tentang kesabaran, hampir seminggu aku melihat wajah-wajah yang murung menanggung sedih, hampir seminggu aku terpekur dalam doa panjangku agar diberikan kekuatan berlebih untuk menerima guncangan jiwa yang hebat ini. Hampir seminggu pula aku hampir hilang pegangan untuk menggenggam hati lemahku, tapi aku yakin Allah Maha Tahu yang terbaik buat aku dan calon bayiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutarik nafas sejenak, laki-laki itu masih memandangku dengan sangat prihatin. /”terimakasih, sudah memberi kabar tentang Indra kepada saya,..”/ saya berencana pulang ke meulaboh, saya juga khawatir dengan kondisi keluarga di sana, karena kabarnya Meulaboh juga tak luput dari tsunami. Saya pulang bersama teman-teman yang juga akan pulang ke daerah Medan dan Aceh selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ahris nafsaka Aniitadbir&lt;/em&gt;, ringankanlah dirimu apa yang sudah menjadi kehendakNya. Berulang kali aku tertegun mengingat kalimat itu. Aku harus kuat, lebih kuat dari yang terlintas di pikiranku atau lebih kuat dari stereotype kebanyakan orang tentang kelemahan seorang wanita. Mungkin wanita terlihat begitu rapuh seperti barang fragile yang mudah hancur, namun aku yakin wanita jauh lebih tangguh dari yang terlihat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku berteriak dalam diam, bahwa aku mampu bertahan. Seperti Cut Nyak Dhien yang tetap menjadi pejuang tangguh dan tegar mesti Teuku Umar telah tewas, aku harus tetap kuat seperti Laksamana Keumalahayati yang tak pernah gentar mengarungi selat Malaka dalam pertempurannya melawan pasukan portugis. Aku harus tetap kuat, demi cintaku pada Indra dan demi bayinya yang berada dalam kandunganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk di sudut bus yang ukurannya lebih kecil dari bus yang selalu melintasi jalur timur Sumatra menuju Jakarta. Aku diam tak berbicara sepatah katapun setelah membayar ongkos bus seharga 100 ribu rupiah. Padahal sebelumnya hanya cukup membayar 70 ribu saja untuk sampai di Medan. Harga yang cukup melambung di saat kondisi genting seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali aku menatap tajam ke arah orang-orang yang memanfaatkan situasi sulit ini, bagaimana mungkin begitu entengnya mereka meraup untung sebesar-besarnya di saat semua orang menderita?? Apa mereka sudah tak punya hati?? berulang kali aku bertanya dalam hati. Apa semua rasa kasih sayang sebagai seorang manusia itu telah musnah oleh nominal rupiah?? Yah, itulah fenomena yang kutemukan di saat masa-masa emergency  di aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ini terasa begitu lama, bayangkan saja kami harus mengambil jalur Medan baru ke Meulaboh, ke Medan saja sudah menghabiskan waktu 10 jam ditambah perjalanan Medan ke meulaboh bisa menghabiskan waktu 16 jam. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Bahkan sebagian orang untuk ke Meulaboh harus berjalan kaki karena tak memiliki uang sama sekali, merintis jalanan yang baru. Mendaki gunung, karena jalur Banda Aceh- Calang – Meulaboh sebagian besar telah menjadi lautan. Aku memang sengaja tak memilih rute perjalanan yang membutuhkan waktu berhari-hari itu. Aku yakin rute yang demikian jauh itu lebih melelahkan dan membutuhkan kekuatan fisik yang besar.  Ditambah lagi saat itu kondisi iklim politik Aceh tidak kondusif karena masih dalam status darurat Militer karena perseteruan GAM dan RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah menghadapi suasana yang begitu hening seperti saat ini. Semua mulut terdiam tak berucap kata, setiap kepala memikirkan bagaimana kondisi keluarga mereka masing-masing. Termasuk aku, kepalaku dipenuhi tentang ibu, ayah dan adik-adikku. Bagaimana keadaan mereka, aku tak ingin semakin terpuruk setelah kehilangan Indra, lalu harus menerima kenyataan bahwa keluargaku juga telah tiada. Oh Rabbi, dunia ini serasa kiamat di mataku jika hal itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakiku terasa bengkak dan kaku karena terlalu lama duduk di dalam bus, pinggangku semakin terasa nyeri. Namun semangat untuk menemukan sanak keluargaku tak berangsur pudar meski tubuh lelah dan kesedihan luar biasa masih menerpaku. Aku harus menemukan mereka, tapi jika kenyataannya berbeda, aku akan ikhlaskan segalanya pada Yang Kuasa, bukankah dengan demikian hatiku akan menemukan titik ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mataku bercucuran kembali, mataku tak henti-hentinya menatap pantai depan rumahku yang telah menjadi lautan, sesekali terlihat tonggak-tonggak rumah yang timbul tenggelam dalam gelombang yang pasang surut di depanku. Rumah itu telah hilang disapu ombak, semua kenangan masa kecilku di rumah itu hanya tinggal dalam pikiranku saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku menangis,…mengenang Indra yang telah tiada, mengenang keluargaku tercinta. Aku tak sanggup menahan air mataku yang berulang kali kuseka namun kembali terjatuh lagi. Ku tak sanggup menatap di sekelilingku, dunia ini serasa gelap. Namun ku tetap kuatkan hatiku untuk tetap berada pada ambang kesadaranku. Aku rindu sapaan lembut ayah ibuku, aku rindu lelucon kecil adik semata wayangku, aku rindu mata elang indra memandangku penuh cinta. Ternyata aku sangat merindukan mereka semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk meratapi puing-puing rumah yang telah hancur, aku terdiam menangisi kesepianku. Aku menangis karena tidak sempat meminta maaf pada Indra dan keluargaku. Aku menangis karena merasa terlalu cepat kebahagiaan itu terengkuh dari sisiku. Aku menangis karena belum banyak berbuat untuk membahagiakan Indra dan keluargaku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekarang aku tak sanggup menangis lagi. Sudah kucukupkan derita ini merambati hatiku, telah kucukupkan kesedihan ini menyiksa tubuh dan pikiranku. Semua harus dimulai kembali dengan kisah yang baru. Aku yakin Allah tak akan memberikan ujian di luar kemampuan hambaNya. Bagaimanapun keadaannya aku harus tetap hidup demi anakku dan cintaku pada Indra dan keluargaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kullu Nafsin zaaikatul maut, Wa innama tuwaffuuna ujuurakum yaumal kiamah&lt;br /&gt;Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Faman zuhzikha ‘aninnarri wa udkhilul jannata faqad faa za. Wa mal hayatu ddunnyaa illa ma taa’ull ghururrri,…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam Syurga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Ali-‘Imran 185)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih menekuri gundukan tanah yang masih basah, Ujoeng kareung tempat bersemayamnya ratusan mujahid tsunami di Meulaboh. Dalam diam dan isakan tangis yang keluar dari bibirku, ku titipkan beribu doa tulusku. Aku benar-benar ikhlas dengan perpisahan ini. Semoga orang-orang yang kucintai bersanding di syurga dalam kebahagiaan abadi. Amiennn…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang 5 tahun Tsunami di Aceh&lt;br /&gt;26 Desember 2004 yang lalu,…&lt;br /&gt;Kisah pilu itu masih membekas di hatiku,..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-6999602832637018112?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/6999602832637018112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/aku-harus-tetap-hidup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/6999602832637018112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/6999602832637018112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/aku-harus-tetap-hidup.html' title='Aku Harus Tetap Hidup'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3sz7r0bu9I/AAAAAAAAABA/-D4yZtRRSaM/s72-c/senja-di-masjid-raya-baiturrahman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-5838647121465755365</id><published>2010-02-13T14:30:00.000-08:00</published><updated>2010-02-13T14:35:35.986-08:00</updated><title type='text'>Cinta Wanita Biasa</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3co7NIMFrI/AAAAAAAAAA4/90HppERFmeY/s1600-h/capture6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 243px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3co7NIMFrI/AAAAAAAAAA4/90HppERFmeY/s320/capture6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437860072674563762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada keindahan dalam setiap masalah. Itu adalah salah satu cara kita belajar kecantikan bukan di wajah, melainkan cahaya yang keluar dari dalam hati (Kahlil Gibran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap mata wanita di hadapanku saat ini. Dia salah seorang teman bermain dan mengajiku di masa kecil. Bola matanya bergerak liar ke kiri dan ke kanan seperti mencari sesuatu alasan yang tepat untuk diungkapkan. Berkali-kali ia membuang muka dariku bahkan terdengar tarikan nafasnya yang begitu dalam. Aku melihat kebimbangan dari raut wajahnya juga terkadang tertutup kabut di kedua matanya, namun dia tak pernah berhenti tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bahagia, kata wanita itu. Aku sangat bahagia dengan pernikahanku kata wanita itu lagi seperti sedang mensugesti dirinya sendiri. Semua yang diimpikan setiap istri pada seorang suami ada pada suamiku. Jadi, tak ada yang salah dengan pernikahan dan kehidupan rumah tanggaku. Wanita itu tersenyum padaku setelah mengakhiri kalimat terakhirnya tentang pujiannya pada sang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan fisik hanyalah sekilas dari apa yang sebenarnya terlihat (Anaxagoras)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku mengungkapkan ini sesuai dengan kesepakatan kita bersama bahwa Luna Maya dikategorikan wanita berwajah cantik atau wajah seperti Omas bisa dikatakan tidak cantik. Bukan maksudku untuk membandingkannya, aku hanya mencari gambaran wajah wanita yang duduk di hadapanku tadi. Sungguh, wanita itu tidak cantik. Dia hanya wanita biasa, namun satu hal yang mungkin jarang dimiliki oleh wanita yang lain bahwa wanita ini memiliki kesabaran yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku tidak cantik katanya, aku tak pernah menarik di hadapan laki-laki. Siapa pula yang sudi menatap wajahku yang tak jelas bentuknya ini. Kau lihat Nadia, mukaku lebar rasa-rasanya semua wajahku hanya dipenuhi oleh pipiku yang tembem, sama sekali tidak manis. Mataku juga kecil, apalagi hidungku mancung ke dalam seperti ini, wanita itu terus saja menyesali bentuk wajah yang menurutnya sama sekali tidak cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak Nadia, jangan katakan apapun untuk membuat aku merasa cantik. Wanita itu dengan cepat memotong begitu melihat aku ingin mengatakan sesuatu. Kau ingin mengatakan bahwa cantik itu dari hati ada di sini kan Nadia, sambil memegang dadanya, aku melihat sorot kekecewaan dari matanya. Aku hanya diam tak berkata sepatah pun. Aku tak punya kata-kata lain untuk menghibur hati wanita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak sepertimu Nadia, tidak juga seperti sahabat-sahabat kita yang lain. Aku tidak cantik, aku tidak pintar. Aku hanya wanita biasa bahkan sangat biasa. Wanita itu semakin terpekur dalam setiap kata yang diucapkannya beberapa bulan yang lalu padaku. Berulang kali aku mencoba menumbuhkan rasa percaya dirinya, tapi kembali aku kehilangan kata-kata dengan anggapan yang telah dia buat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“laki-laki itu cendrung makhluk visual kan Nadia, setiap laki-laki pasti akan menikmati cantiknya wajah Anne Hatway, atau menikmati kemolekan tubuh Jennifer Lopez. Aku tak yakin ada laki-laki yang sudi melihat tubuhku yang gendut dengan lemak penuh menutupinya. Aku tak yakin jika suatu saat ada lelaki yang sudi menatapku dengan cinta atau mengatakan cinta padaku lalu menghabiskan separuh hidupnya bersamaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, aku pikir itu hanya cerita di dongeng tentang kisah si buruk rupa atau sebuah telenovela latin yang agak berlebihan menurutku. Berulang kali wanita itu merapalkan kalimat bahwa dia tidak cantik, tidak menarik. Bahkan aku tak diberi kesempatan untuk mengatakan bahwa masih banyak laki-laki yang mencintai bukan atas dasar kondisi fisik saja, setiap orang ingin mencintai dengan kedamaian dan itu hanya bisa dilakukan oleh hati yang cantik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah cinta, ketika ia terurai menjadi perbuatan. Ukuran integritas adalah ketika ia bersemi di dalam hati, terkembang dalam kata, terurai dalam perbuatan.&lt;br /&gt;Seminggu yang lalu aku bertemu wanita itu lagi dengan wajah sumringah dia bercerita panjang lebar kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nadia, aku akan menikah” matanya berkaca-kaca menahan keharuan. Aku sedikit kaget dengan berita ini. Bukan karena tidak mungkin ada laki-laki yang akan menikahi sahabatku ini, tapi justru aku kaget rencana ini terlalu cepat. Tapi aku berusaha setenang mungkin, aku tahu wanita ini sangat bahagia dengan rencana pernikahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kamu sudah cukup kenal baik dengan calonmu Yu tanyaku sedikit curiga, sebenarnya tidak masalah mungkin jika dia tak mengatakan bahwa dia berkenalan dengan laki-laki itu lewat telpon selular yang salah sambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“awalnya cuma salah sambung Nad, tapi terus jadi beneran. Sampe akhirnya dia memutuskan bertemu denganku lalu berencana untuk menikah. Asalnya dari pulau seberang, sekarang dia rela datang dan sudah 2 hari menginap di kos-kosan dekat rumahku. Betapa mengharukan Nad, dia mau berkorban untukku. Wanita itu terus saja bercerita panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku ini terdengar janggal, tapi aku tetap bertahan tanpa bertanya banyak. Aku takut kegembiraannya yang sedemekian besar ini sedikit rusak karena pertanyaanku. Ku simpan rapat-rapat pertanyaanku walau ingin sekali aku bertanya bagaimana keluarga laki-laki itu karena alangkah aneh menikah tapi tak kenal calon mertua jangankan kenal tahu namanya saja tidak, dimana alamat jelasnya karena sesekali wanita itu mengatakan bahwa calonnya pernah tinggal di sini dan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti Nad, dialah pangeranku aku pasti bahagia ucap wanita itu lagi. Seperti tak memberi kesempatan padaku untuk memberikan dia keyakinan agar berfikir dua kali. Bukan tidak boleh menikah, tapi alangkah baiknya jika seorang wanita mengetahui dengan baik bagaimana si laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong Nad, doakan aku semoga pernikahanku sukses. Aku tak pernah menemui laki-laki dengan mata berkaca-kaca agar aku mau menerima lamarannya. Belum pernah Nad, bahkan bermimpi ditaksir laki-laki saja belum pernah sama sekali. Kata-kata terakhir dari bibir wanita itu membuat aku semakin diam tak berucap hanya senyum di ujung bibirku. Aku tak tahu apakah kali ini aku benar menjadi sahabat sejati yang seperti telinga yang mau mendengarkan, seperti hati yang mau memahami dan seperti tangan yang mau menolong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa ku pungkiri terkadang jodoh datang dengan beraneka ragam caranya. Kemantapan hati bisa datang dengan cepat atau secara perlahan-lahan. Mudah-mudahan apa yang di alami wanita ini memang merupakan ketetapan hati dari istikharah atas bisikan dari sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ALLAH memberikan kebijaksanaan pada wanita untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah sakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta pernikahanpun digelar dengan meriah. Aku terus menatap wajah pasangan pengantin baru yang tak henti-hentinya tersenyum di pelaminan. Terkadang mereka tertawa kepada beberapa sahabat yang  datang memberikan ucapan selamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dia ganteng kan Nad,..wanita itu berbisik di telingaku saat kuberikan ucapan selamat padanya. Entahlah aku hanya ingin kebahagiaan untuknya, ku anggukkan kepalaku sembari tersenyum. Aku turut bahagia melihat pernikahannya yang berlangsung meriah dan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan setelah pernikahannya. Aku mendapat telpon dari adik wanita itu. Aku sangat kaget dengan berita yang baru saja kudengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dari awal keluarga emang ga setuju dengan rencana pernikahan Mba ayu dengan laki-laki yang baru dia kenal itu. Bukan karena terlalu cepat, tapi laki-laki itu terlihat aneh. Jangankan membawa perwakilan dari keluarganya memberitahu siapa nama keluarganya saja tidak pernah. Adik wanita itu menangis sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asal mba tahu aja, itu laki-laki ga ngasih apapun waktu nikah, bahkan mahar pernikahan saja yang menyediakannya mba ayu, semua biaya pernikahan sampe uang sewa kos-kosan sebelum menikah, makan minum semua ditanggung mba ayu. Semua tabungan mba ayu dikuras habis, malah sekarang laki-laki tak bertanggung jawab itu berani meminta segala macam kebutuhannya kepada mba ayu. Selama ini yang kerja banting tulang mba ayu, sementara laki-laki yang jadi suaminya itu hanya duduk anteng menunggu uang hasil keringat mba ayu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong mba, tolong ajak ngomong mba ayu. Keluarga sangat khawatir dengan keadaannya. Bahkan dia sangat tertutup dan kesannya menjauh dari kami tiap kali pembicaraan tentang suaminya yang aneh itu. Kami khawatir kalo sesuatu yang lebih parah terjadi pada mba Ayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam, seketika tubuhku bergetar merasakan amarah atas perlakuan suami yang tidak bertanggung jawab pada wanita itu. Bukankah mencintai juga berarti berbagi kebahagiaan demi kebahagiaan orang yang kita cintai, atau sang suami memang tak pernah mencintai wanita itu. Wanita yang malang gumamku dalam hati, aku ingin menjadi sahabat yang menemaninya saat menangis. Tapi bagaimana aku harus memberi support sementara wanita itu sangat enggan berbagi kesedihannya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat dua hari setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, aku bertemu lagi dengan wanita itu. Matanya sembab, wajahnya lesu. Aku memandang iba padanya, tapi apa yang aku temui berbeda sekali dengan informasi dari adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nadia, aku agak susah tidur neh. Kemungkinan aku hamil, suamiku memang hebat kalau malam aku ga bisa tidur, pasti deh dengan setia dia nemenin aku. Pokoknya dia suami super perhatian di dunia. Wanita itu tak henti-hentinya mensyukuri hidupnya karena telah diberikan seorang suami yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin sekali aku mempercayai ucapannya, namun sembab di matanya menunjukkan kesedihan yang teramat dalam di hatinya. Ingin sekali aku memeluknya sekedar memberikan dukungan yang hanya bisa dirasakan oleh hatinya. Tapi tak sedikitpun kekecewaan dan kesedihan keluar dari bibirnya, walaupun terkadang mendung memenuhi wajahnya juga kabut mulai menutupi matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah wanita itu terbuat dari bambu yang mampu melengkung mengikuti angin?? Ataukah terbuat dari kayu yang mudah sekali patah??,…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keheranan yang luar biasa merayapiku, kekuatan dari mana sehingga wanita itu bisa bertahan sampai dengan saat ini. Bahkan tak sedikitpun dia ingin berbagi seperti dulu. Terkadang aku berfikir di belakangku wanita itu menangisi keadaannya, sungguh aku tak bisa menanggung kehidupan seperti itu. Aku teringat ucapan Edgar alnsel Mowrer “hidup manusia penuh dengan bahaya, tetapi disitulah letak daya tariknya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdiam aku, tak ada yang bisa aku lakukan selain mendoakannya. Setiap kali bertemu dengannya, aku tak sanggup menahan airmataku. Tapi lagi-lagi, dia tak pernah menceritakan tentang keburukan suaminya, yang ada hanya menunjukkan wajah bahagia, bangga dan senyuman yang khas dari bibirnya. Walau ku tahu senyum itu bermakna kesedihan yang teramat dalam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jakarta, 09 february 2010&lt;br /&gt;Aida Affandi&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-5838647121465755365?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/5838647121465755365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/cinta-wanita-biasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/5838647121465755365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/5838647121465755365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/cinta-wanita-biasa.html' title='Cinta Wanita Biasa'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3co7NIMFrI/AAAAAAAAAA4/90HppERFmeY/s72-c/capture6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-526018084094967884.post-5231480415516812333</id><published>2010-02-11T23:18:00.000-08:00</published><updated>2010-02-13T14:43:55.234-08:00</updated><title type='text'>Dan Aisyah Pun Cemburu</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3UBQDWBTWI/AAAAAAAAAAw/w1jhGOo63d8/s1600-h/wanita%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 312px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3UBQDWBTWI/AAAAAAAAAAw/w1jhGOo63d8/s320/wanita%5B1%5D.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437253500406943074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau mau kuterima kau kembali&lt;br /&gt;Dengan sepenuh hati&lt;br /&gt;Aku masih tetap sendiri&lt;br /&gt;Kutahu kau bukan yang dulu lagi&lt;br /&gt;Bak kembang sari sudah terbagi&lt;br /&gt;Jangan tunduk!tentang aku dengan berani&lt;br /&gt;Kalau kau mau kuterima kembali&lt;br /&gt;Untukku sendiri tapi&lt;br /&gt;Sedang dengan cermin aku enggan berbagi&lt;br /&gt;(Chairil Anwar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wanita itu memang rentan dengan bagian vitalnya ya bu, kanker servikslah, kanker rahimlah, kanker payudaralah, saya mah ngeri denger banyak penyakit kayak begituan. Makanya teh adit harus pinter-pinter melayani suami jangan hanya karena ga bisa ngasih keturunan, lalu bisa seenaknya saja ninggalin teh adit” tante Neni melirik ke arahku yang baru menyediakan minuman untuknya. Komentar tante Neni teman arisan ibuku begitu menusuk hatiku, entah apa yang dia fikirkan saat begitu lancar mengeluarkan kata-kata yang begitu tajam melukai hati hingga jantungku. Pantas saja jantungku tiba-tiba berdetak kencang setelah dihujani dengan sederetan kata-kata tajamnya tante neni. Oh Tuhan berapa banyak lagi manusia yang akan berbicara seperti ini kepadaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergegas meninggalkan halaman rumahku. Ibu menatapku tanpa kata, ibu sangat tahu bagaimana perasaanku saat berada dalam tema “perempuan mandul” itu tema yang sangat ku benci. Aku yakin saat aku tak berkata sepatah katapun dan berlalu, empat mata itu memunggungiku dengan penuh tanya. Aku yakin tak akan ada jawaban yang tepat untuk orang yang belum mampu memahami perasaan oranglain.&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika ALLAH menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. ALLAH membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia, namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mematung di kamarku, selalu seperti ini. Terkadang aku lelah dengan sikap orang-orang di sekitarku yang selalu ingin tahu namun tak pernah mengerti apa perasaanku yang sebenarnya. Bagaimana mungkin mereka menilaiku seolah-olah aku terdakwa yang senantiasa menerima segala bentuk kecaman. Namun apa pula hak ku untuk meminta mereka mengerti, ini tentang perasaanku dan itulah menurut mereka lagi-lagi hanya apa yang mereka pikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa bilang dia mandul” dokter saja tak pernah memberikan vonis seperti itu pada anakku. Ibu mendadak berang tiba-tiba tepat di wajah Aby, laki-laki yang telah dua tahun ini menikahiku. Aku pikir sikap ibu sangat wajar memerdekakan tuduhan yang ditujukan pada anak perempuannya. Jangan-jangan itu hanya sebuah alasan untuk memperoleh legalitas tujuan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bagaimana mungkin nak Aby bisa berlaku tidak adil pada Aditha, yang ibu tahu selama ini hanya nak Aby yang sangat dia hormati dan dicintai atau apa karena cintanya aditha yang terlalu dalam malah membuat nak Aby meminta permohonan seperti ini hingga kiranya tak akan ada penolakan dari aditha. Menurut ibu ini sungguh terlalu, cinta aditha lebih mahal dari permohonan nak Aby. Tolong nak,..kalau memang nak Aby masih mencintai aditha jangan hancurkan hatinya dan membiarkan dia menanggung ketakmampuan cinta yang telah terlalu dalam buat nak Aby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap ku ingat hari penuh dengan buraian amarah dan air mata itu, tiap kali itu pula aku diam seribu kata menguatkan hatiku yang berulang kali didera resah tanpa cinta, tiap kali itu pula merasa hampa dengan status baruku yang berjudul “janda” setelah 2 tahun lebih menjalani cinta bersama laki-laki bernama Aby. Terkadang aku memendam dalam heningnya kamarku, terkadang aku duduk di barisan terdepan menonton seorang diri di bioskop. Hari- hari itu sungguh menyita perasaan dan waktuku.&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;“ALLAH memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh”&lt;br /&gt;Kataku hidup itu indah, tapi tiada yang sanggup merubah apapun kecuali yang Maha memiliki hidup. Walaupun hanya berjalan 2 tahun lebih namun aku pernah merasakan kobaran cinta itu. Walaupun pada akhirnya aku tak tahu perbedaan antara benci dan cinta itu lagi karena benci dan cinta sama-sama memberikan kobaran-kobaran dalam hal yang kecil sekalipun apalagi dalam hal yang besar pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ku katakan Aby berubah mungkin aku salah. Tak ada yang berubah dari diri Aby, tak ada bahkan perhatiannya masih sama saat pertama kali mengucapkan permohonannya. Jika ku jauh darinya dia tetap menelponku dengan kata-kata cintanya. Sungguh tak ada sedikitpun yang berubah dari suamiku yang tampan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dua kali aku dinyatakan hamil oleh dokter, namun dua kalinya pula aku mengalami kehilangan lagi. Aby tak pernah marah dengan kehilangan calon bayi kami, Aby juga tak pernah membiarkan aku berlarut-larut dalam kesedihanku. “semua telah diatur oleh Yang Maha Pencipta, bersabarlah,… mungkin belum saat ini, mungkin waktunya belum tepat.  Allah selalu punya skenario yang lain mungkin jauh lebih baik ketika doa kita belum juga diijabahNya. Itu kata-kata Aby saat aku merasakan kekecewaan yang tiada tara, kata-kata itu seperti oase di tengah padang tandus. Sungguh sangat menyejukkan yang mendengarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa aku salah bila tak memenuhi permohonan Aby??,…berminggu-minggu ku minta izin menjauh darinya, memikirkan sendiri keputusan apa yang harus aku berikan pada laki-laki yang sangat mendamaikan duniaku ini. Dia tak pernah memaksa, namun dia telah meminta dengan mata beningnya, dengan belaian tangannya. Aku tak mampu berkata apapun menatap sinar permohonan dari balik mata yang penuh cinta itu.&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;“ALLAH memberikan kebijaksanaan pada wanita untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah sakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup itu ibarat sepatu yang harus dipakai berjalan setiap waktu, bukankah ini hal yang menyedihkan yang dialami seorang wanita. Sudah menjadi korban dari ketakberpihakan waktu untuk menunjukkan bahwa aku seorang wanita normal, bahwa aku juga mampu melahirkan. Namun malahan menjadi bahan gunjingan mulut-mulut yang tak bertanggung jawab. Oh, alangkah naifnya menilai seseorang dari pandangan pertama saja, padahal pandangan pertama tak selamanya menunjukkan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aditha,..aku mohon pertimbangkan permintaanku ini, aku bahkan berani meminta bukan melakukannya di belakangmu, aku bahkan memohon tanpa melakukan pemaksaan padamu, tolong fikirkanlah dengan sematang-matangnya”, Aby mengucapkan kata-kata ini lagi untuk kedua kalinya. Sehingga membuat aku merasa bahwa hatinya telah berubah padaku. Apa seorang wanita harus luluh dengan kalimat seperti ini?? Aby, lagi-lagi bukan orang yang pantas untuk menyakiti hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini dia telah melakukannya, bahkan sangat dalam. Aku sedang membayangkan bagaimana perasaan wanita-wanita yang diam-diam telah diduakan suaminya, atau bagaimana perasaan para istri ketika suami tercinta telah menyelingkuhinya. Oh, aku juga tak mampu membayangkan bagaimana perasaan ibu Fatmawati selepas melahirkan Guntur Soekarno Putra, dalam keadaan masih nifas, bung Karno telah meminta untuk menikah lagi. Tak ada hakku untuk membandingkan diriku yang tak layak dibandingkan dengan wanita-wanita hebat itu, namun aku hanya yakin di balik permintaan polygami selalu ada airmata yang mengalir deras, selalu ada kekecewaan. Walaupun tidak semua hal itu terjadi. Aku hanya mencari kesamaan sisi yang mirip dengan kisahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kondisiku tak seperti ini, aku tak tahu apakah akan terjadi hal ini. Kami baru menikah 2 tahun yang lalu dan dalam dua tahun itu pula aku pernah merasakan detak jantung janin dalam rahimku, memang tak bertahan lebih dari lima bulan, lagi-lagi aku tanpa anak. Apa keadaan ini semua permintaanku?? Aku tak pernah meminta mempunyai rahim yang lemah, sungguh aku tak pernah meminta. Bukankah seharusnya ini menjadi bahasan bersama sepasang suami istri. Tapi apa yang terjadi, aku justru seorang yang menanggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah membenci polygami karena Allah punya ayat untuk itu. Aku tak pernah menghujat polygami atau mengagung-agungkannya di tengah pro dan kontra tentang hal yang satu ini. Aku selalu berfikir bahwa tak mungkin ayat itu turun jika tak ada laki-laki yang tak mampu melakukannya. Pasti ada walaupun hanya 1 dari sejuta orang laki-laki. Tapi lagi-lagi kupikir hal ini sebuah tugas yang sangat berat, jika sedetik saja salah melangkah apa jadinya ganjaran dari Allah yang maha pedih didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak yakin jika kondisi yang aku dan aby alami kali ini merupakan situasi diperbolehkan untuk izin dan memberikan izin untuk menikah lagi menurut aturan agama ataupun undang-undang tentang perkawinan sekalipun. Aku lebih melihat bahwa Aby telah jatuh hati lagi pada wanita yang lain, entah siapa wanita yang membuat Aby berani meminta hal ini padaku. Mendengarkannya saja berasa bergidik apalagi meluluskan permintaan Aby. Aku pikir kondisiku yang belum juga memberikannya keturunan hanya sebagai alasan saja yang dipaksakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau masih mencintai aku by?? Mataku mulai berkaca-kaca juga..”Aku pikir cinta kita lebih besar dari hal apapun, tak sepantasnya kau berucap cinta tapi justru melakukan hal yang menyakitkan aku sebagai istrimu. Apa tak ada alasan yang lain mengapa kamu memilih untuk menikah lagi by??” sekiranya kamu rela mengatakan bahwa hatimu telah tertaut pada wanita yang lain. Mungkin aku lebih tidak menyesali keadaan diriku saat ini. Aku sesenggukan menahan tangisku yang meledak tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kau tak berfikir label baru yang akan disematkan di dadaku jika kau menikah lagi?? Bukannya sebuah penghargaan, tapi justru sebaliknya. Setiap orang akan berbisik-bisik mengatakan bahwa itulah si Aditha istri tuanya Aby, dia membiarkan suaminya mengambil madu lagi untuknya. Istilah apa lagi ini, istri tua, istri muda. Labelisasi yang dibentuk sedemikian rupa oleh masyarakat kita. Aku pernah mendengar istilah itu dalam beberapa pertemuan di kantor dan acara-acara lainnya. Apa kau tak kasihan padaku dengan label baruku nanti. Itu menyakitkan buatku Aby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aby tak bergeming, jangan kan membalas semua pernyataanku, menatapku saja tak berani seperti berhadapan dalam persidangan sebagai terdakwa yang divonis bersalah menunggu dibacakan hukumannya. Hilang semua rayuannya yang mendayu-dayu itu, hilang semua kata-kata untuk membuatku yakin. Sebelum beranjak dariku dia masih sempat mengucapkan kata-kata yang sangat mengejutkan hati wanitaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kalau kau merasa berat membiarkanku menikah lagi, apa bercerai juga akan terasa berat?” mendadak semua bukit-bukit pengharapanku hancur dihadapanku seketika. Bisa jadi polygami dihalalkan Allah tapi banyak wanita yang kurang berkenan berbagi hati dengan wanita lain. Begitu juga dengan perceraian merupakan hal yang aku takutkan dalam sebuah pernikahan, walaupun Allah telah menghalalkannya tapi juga merupakan hal yang sangat dibenciNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum siap harus berbagi hati pada wanita yang lain, apalagi ku temui sekarang cinta Aby yang telah menggebu-gebu pada wanita lain itu. Aku hanya wanita biasa bukan Ummul mukminin Aisyah r.a istri Rasulullah,  betapa cintanya Rasulullah padanya, tapi Aisyah pun cemburu pada istri-istri Rasul yang lainnya. Lalu bagaimana dengan aku, sungguh aku tak ingin setengah mati jika setiap harinya menanggung cemburu mengharap cinta aby yang telah berkurang padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan macam apa ini? Tapi permintaan aby kali ini telah menunjukkan kejelasan dalam hatiku, ternyata hatinya memang telah terpaut pada wanita yang lain itu. Jika ditimbang timbanganku kalah berat dengan wanita yang lain itu. Betapa malangnya kondisiku kali ini, berulang kali aku menangisi keadaanku yang telah dihancurkan oleh suami yang sangat kucintai dan kuhormati selama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa aku telah berdosa tak memenuhi permintaan Aby sebagai suami?? Pernikahan kami masih seumur jagung dan aku masih sehat, masih mampu melayani Aby, jika diberi kesempatan mungkin aku akan diberikan anugrah seorang anak atau lebih. Tapi cinta Aby pada wanita yang lain itu tak pernah memberikanku izin untuk mendampingi Aby sampai saat itu tiba. Sehingga tercetus juga keinginannya untuk mengambil istri lagi walaupun itu sangat jelas menyakitiku. Biarlah kuraih syurga dengan jalan yang berbeda, jika kupaksakan mengatakan iya dengan penuh amarah yang membara hanya mendatangkan dosa yang berlipat pula padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kata-kata itu keluar dari mulut Aby, aku tahu bahwa semua akan berubah seketika dan secepat itu pula. Tak perlu menyesali diri pikirku, mungkin hidupku akan lebih hancur pula ketika ku pertahankan pernikahan yang telah sepihak tanpa cinta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------&lt;br /&gt;Allah yang Maha mendengarkan,…&lt;br /&gt;Kuatkan aku lebih dari yang mereka fikirkan,…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palu pak Hakim telah diketuk keras, menyentakkan kesadaranku akan status baru yang kusandang mulai hari ini. Seperti memikul tas ransel yang berisi batu-batuan kekecewaan dan malu. Apa mau dikata aku harus menyandangnya juga. Tak ada pilihan untuk meletakkannya sejenak saja rasanya tak mungkin, kuharap aku akan melewatinya karena terbiasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sakit harus kuterima, aku tahu seminggu ke depan Aby akan menikah lagi. Mungkin ia menertawakan aku yang menyepi dalam ketakberdayaanku. Namun ada satu yang semakin kuat bercokol di hatiku bahwa aku bahagia karena mampu mengambil keputusan untuk hatiku sendiri ditengah pro dan kontra tentang polygami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang menangis, karena Allah telah menciptakan itu untuk wanita sebagai cara untuk mencurahkan perasaannya. Aku memang menangis tapi bukan berarti aku akan lemah menatap kehidupanku. Pasti, semua akan berlalu berganti hari yang lebih cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 28 January 2010&lt;br /&gt;Aida_affandi&lt;br /&gt;******&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/526018084094967884-5231480415516812333?l=warnawarnisisihati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/feeds/5231480415516812333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/kalau-kau-mau-kuterima-kau-kembali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/5231480415516812333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/526018084094967884/posts/default/5231480415516812333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnisisihati.blogspot.com/2010/02/kalau-kau-mau-kuterima-kau-kembali.html' title='Dan Aisyah Pun Cemburu'/><author><name>aida forever</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15425891941415617335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/TPBIkediBJI/AAAAAAAAAGI/hyW5qmqcNRQ/S220/26112010754.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QQImQ0z6SBc/S3UBQDWBTWI/AAAAAAAAAAw/w1jhGOo63d8/s72-c/wanita%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
