Laman

Minggu, 16 Januari 2011

Sampai Di Sini,..

Kakiku menapaki bekas rumput yang bermandikan hujan semalam. Buliran titik hujan melindapkan rindu yang teramat panjang di kota ini. Ternyata ku tlah sampai di sini ,….

Menara putih berdiri tegak di hadapanku, menatapku menantangku, seolah dia bertanya “mau apa aku kemari lagi???”

Aku telah sampai di sini, di sudut kotamu membawa aliran rinduku yang panjang sepanjang nakdong-gang yang mengalir tenang.

Angka delapan, sebuah angka yang besar untuk sebuah perpisahan. Di sungnyemun ku dapati dirimu sedingin salju menatapku tanpa rasa.

Pergilah katamu,….rindumu padaku seperti someiyoshino di tanganku yang cepat me-layu secepat keinginannya untuk merekah,…..

Seketika ku ingin rindumu padaku seperti Tiger Lily, yang selalu dengan senang hati menunggu sang mentari datang, senantiasa menghadap kea rah mentari dan mekar meskipun tak seorangpun sedang menyaksikannya.

Ribuan gemintang di langit gelap tak pernah mampu mewakili rasa rinduku padamu, kini satu persatu rindu itu berjatuhan menghujam bumi hatiku yang menanah rindu.

Kini ku diam sediam tugu yang dibasahi rinai hujan,….masih aku di sini, mendengarkan hatimu telah sampai di sini.

Nakdong-gang = sungai terpanjang di korea selatan
Sungnyemun = pintu gerbang bersejarah di jantung kota seoul
Someiyoshino = jenis sakura yang bunganya lebih dahulu mekar sebelum daun-daunnya mulai keluar hanya bertahan hingga 7 hari.

Jumat, 26 November 2010

Hujan di Mentawai


Hujan,….jiko hujan hati den ibo
(hujan, jika hujan turun hatiku lara)
Takana maso, kisah nan lamo
(mengingat suatu masa, kisah yang telah lama)
Maso sapayuang kito baduo
(masa dimana kita sepayung berdua)

alah lah jo (sudahlah bang),.. ajo indak perlu mengayuh sampan mencari ikan kalo hanya ingin lari dari masalah kita. Amak memang selalu bersikap seperti itu saat ada bujang hendak menyunting anak padusi satu-satunya ini. Bukannya amak indak setuju, hanya saja amak butuh bukti kalo ajo serius hendak memperistri anaknya.

Iyolah (iya) ,..ajo Zainal hanya menjawab singkat sebelum kemudian mendorong sampannya ke dalam air lalu menggayuhnya menjauh dariku berlalu tak perduli dengan penjelasanku.

Semenjak amak menunjukkan sikap tak suka padanya, ajo Zainal menjadi lebih sensitive dari biasanya. Sementara aku yang berada di tengah diantara amak dan ajo justru lebih tersiksa. Tak mungkin aku melawan keinginan amak, tak mungkin pula aku menghilangkan rasa cintaku pada ajo zainal. Satu-satunya hal yang ku tunggu adalah waktu, untuk menenangkan hati amak menerima ajo.

Langkahku gontai kembali ke rumah, langit penuh jingga begitu indah untuk dipandang. Gerombolan burung pulang berduyun-duyun. Sebentar lagi magrib, aku harus segera tiba di rumah untuk shalat dan murathal Qur’an. Membaca Qur’an saat perubahan kondisi terang ke gelap (ashar-magrib) atau gelap ke terang (ba’da shubuh) sangat baik untuk meningkatkan ketajaman ingatan.

################

Baru pulang ka-u Ifa??,…amak menegurku di beranda depan. Aku diam tak menjawabnya, hanya berlalu menunduk tak berani menatap mata amak.

Ba’da murathal aku mengurung diri di dalam. Terngiang semua ucapan amak tentang ajo zainal pagi tadi yang membuat sebuah pertengkaran pula antara aku dan ajo zainal.
Amak indak satuju (ibu tidak setuju), kalo ka-u mantang bahubungan samo si zainal itu (kalo kamu masih berhubungan dengan zainal), nada amak keras menentangku.
Manga Amak indak satuju (mengapa ibu tidak setuju)?? Aku mencoba mendengarkan alasan amak dalam hal ini.

Dalam pernikahan itu ado istilah “sekufu”, inyo tu kan tamat SMA (dia itu hanya tamat SMA), samantara ka-u sakolah bidan (sementara kamu seorang bidan), indak nyambung kalo kalian manikah.

Aku menarik nafas dalam. Memang sekufu (setara) dalam pernikahan islam cukup diperhatikan agar tidak terjadi kesenjangan yang terlalu menonjol dalam pernikahan. Istilahnya kalo yang tak terlalu banyak perbedaan saja, bisa jadi cekcok, apalagi jika perbedaannya terlalu jauh.

Malam mulai larut 21.40 menit. Aku akhirnya keluar dari kamarku. Terlihat sepi di tengah rumah, pintu kamar amak tertutup rapat, mungkin amak sudah tidur pikirku. Sebenarnya tak enak hatiku mendiamkan amak dengan cara kurang dewasa seperti ini.
Aku baru hendak melihat amak di kamarnya, ketika kudengar deritan pintu dan jendela yang berderak-derak membuatku terhuyung-huyung menjangkau pintu kamar amak.

Amak,…amak,….gampo amak(gempa bu),..bangkiek mak (bangun bu),…

Aku panik bukan kepalang, ku kejar amak yang baru terbangun dari tidurnya. Ku papah amak keluar, aku takut jika saja rumah tua kami ambruk suatu waktu karena gempa yang cukup keras ini. Amak shock dengan apa yang terjadi, dengan sekuat tenaga kugendong amak keluar. Wajahnya pucat dan lemas. Kupeluk amak erat, aku takut kehilangan amak.

Tak sampai 20 menit dari redanya gempa, kudengar gemuruh ombak seperti suara ribuan pasukan berkuda menuju ke satu titik yaitu menyerang kami. Sekarang aku lebih panik dari sebelumnya. Angin dingin menusuk tulang-tulangku, suasana mencekam menyertainya. Suara gemuruh itu semakin mendekat, seperti membuntuti kami yang sebagian masih terlena menata kembali barang-barang yang hancur di dalam rumah.
Amak,..capek amak( ibu, cepat), bia ambo gendong amak sajo (biar saya gendong saja ibu),….

Aku berlari bersama puluhan orang yang mulai menyadari sebuah bahaya besar sedang menguntit kami. Ombak raksasa yang berjalan vertical dengan kecepatan 80 km/jam itu menghalau kami tanpa memilih-milih sasarannya.

Amak diam dalam gendonganku, entah berapa kali aku terjatuh lalu sekuat tenaga bangkit lalu kembali berlari, hingga akhirnya aku seperti buih tergulung-gulung dalam lumpur ombak setinggi 3 meter itu, beberapa kali terminum olehku air asin yang mencekat leherku, beberapa kali pula aku tak mampu bernafas sejenak, hingga aku sadari amak terlepas dari gendonganku.

Aku terjepit diantara dua pohon pinus yang setengah batangnya tenggelam. Berulang kali aku membuka mataku mencari sosok amak yang hilang dari pandanganku. Aku bertahan di pohon itu membeku kedinginan bersama air mataku yang tak mampu berhenti sama sekali.

Amak, dima amak??jangan bia ambo sandiri amak,…ya Allah, dima Amak.
Aku berteriak-teriak ditengah gempa susulan dan ombak yang menggulung-gulung di hadapanku. Akhirnya aku diam, memasrahkan keselamatan amak pada Yang Kuasa.

Dua jam kemudian murka lautan itupun mereda air lautpun mulai menyusut, walaupun sesekali gempa susulan masih terasa. Kupaksakan mencari amak dengan sisa kekuatan tubuhku. Dalam tumpukan sisa bangunan yang hancur, pohon-pohon yang patah, aku mencari amak.

Mulutku tak henti mengucapkan kata amak,..ya Allah, selamatkan amak,..selamatkan amak,..selamatkan amak. Sudah hampir pagi aku mencari amak, semburat cahaya mentari sama sekali tak indah pagi ini di pagai utara, Mentawai. Wajah-wajah pucat dan kaku bergelimpangan di sekitarku.
Orang-orang tak henti mencari keluarganya. Aku hampir putus asa, hingga akhirnya kutemukan secarik sobekan baju amak di balik atap rumah yang telah hancur.

Amaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkk,…..aku berteriak histeris.

Tubuh amak telah dingin dan kaku, tangan dan kakinya membeku pucat. Berulang kali aku meraba setiap letak nadinya memastikan amak masih hidup. Aku telah menggila, ketika tak satupun nadinya yang berdenyut, tak sedikitpun kurasa hangat nafas dari hidungnya. Aku berteriak lagi, kepalaku terasa berat, mataku semakin berkunang-kunang. Tidak, aku harus kuat, aku harus kuat sugestiku pada diriku sendiri.

Amaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkk,….manga amak tingga kan ambo
(ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu, mengapa ibu tinggalkan aku)

Tubuh kaku amak diangkat ke tempat pengungsian, jejeran mayat yang puluhan jumlahnya juga sebagian ditangisi oleh anggota keluarganya. Walaupun tubuhku mampu bergerak, namun pikiranku sungguh sangat kosong. Hampa kurasakan di hatiku, belum sempat aku mengucapkan maaf pada amak karena perselisihan kami kemarin, belum banyak bahagia kuberikan untuk amak, sungguh perpisahan ini teramat menyayat hatiku.

Hatiku masih tersungkur di sini, aku hanya meninggalkan mayat amak sebentar untuk wudhu dan shalat, sebelum amak dikuburkan aku hanya ingin membacakannya ayat kursi dan yasin berulang kali, setidaknya hanya itu hadiah yang bisa kuberikan saat ini untuk amak.

Aku hendak bangun mengambil wudhu ketika beberapa orang meletakkan sebuah tubuh kaku lagi tepat di samping mayat amak. Aku sempat melirik tangan mayat lelaki yang baru diletakkan itu, mataku diam menatap sebuah cincin di jari manis yang sangat ku kenal. Bagaimana tidak, cincin itu sengaja ku design saat aku ke bukit tinggi beberapa bulan lalu.

Ajo,..indak mungkin, iko ajo zainal,….

Dadaku sesak, terasa sangat sesak. Tubuhku limbung, aku terjatuh dari posisi berdiriku. Aku benar-benar berada di ambang batas kesadaranku. Mayat laki-laki di samping mayat amak adalah ajo zainal. Hah,…Kutepuk keras dadaku, Oh Rabb, terbuat dari apakah hatiku saat ini???

Rinai hujan dibawa angin ditanah mentawai yang berbau hangir, rintik hujan di hatiku juga semakin deras, membawa aliran rinduku yang semakin besar pada amak dan ajo. Hari ini hujan turun di mentawai, begitu juga dengan hatiku.

Catatan
Ajo : abang
Amak : ibu
Indak :tidak
Ka-u :kamu (perempuan)
Padusi :perempuan
Iko : ini
Sekufu :setara, contoh pernikahan syekh puji dan ulfa dibawah umur ditentang karena tidak sekufu

Sabtu, 25 September 2010

Peri Berkerudung Biru


Koridor 017

Hatiku tertinggal di sini, telah lama kuraba mencoba menemukan tiap sudutnya
Koridor 017 warna temaram menghiasi sepanjangnya,…
Begitu redup cahaya di sana,..seredup keinginanmu untukku,…
Peri berkerudung biru dalam senyumannya yang sendu,…

Koridor 017,..ketika kuletakkan harapanku
Mata coklatmu berbicara,..”aku baik-baik saja”
Wahai Peri berkerudung biru,..
Kurasakan cumulonimbus menggelantung pekat di atas kepalaku
Diam,…Mataku panas menahan genangan sumur airmata di hatiku
Lepaskan,..kan ku coba lepaskan
Walaupun lebih berat daripada menahannya,..

Koridor 017 barisan file teratas dari kisahku
Tanpa perlu kubuka isinya,..
Hatiku telah sangat kenal judulnya
Peri berkerudung biru,….aku tak kan memohon
Namun Ijinkan aku tetap membukanya di file hatiku…

----------------

Pertengahan February

Bagaimana mungkin mata coklat itu kini redup
Lebih redup dari cahaya lampu di koridor 017,…
Peri berkerudung biru,..
Ku akui,..aku tlah menjadi pendosa
Ketika dekapanku begitu erat menyanjung malaikat
Namun hatiku tak berani membisu melafalkan kisahmu,…
Seperti dzikir panjang yang tak pernah terputus waktu

Pertengahan February,…tanpa hujan,..tanpa terik
Ketika “seandainya” itu punya makna,…
Mungkin aku akan memilih mencarikan cahaya untukmu
Walaupun bukan cahaya gemintang,..
Kerlipan Kunang-kunang pun akan terasa indah,…

Peri berkerudung biru,…
Meskipun ku tak mungkin mengubah “seandainya”
Setidaknya biar kurangkai senyummu menjadi indah
Biar kuterangi coklatnya matamu hingga berbinar
Walaupun hanya dengan itu aku akan tetap menjadi seorang pendosa
Antara kau peri berkerudung biruku dan bidadari yang erat memeluk tubuhku,..

Peri berkerudung biru,…untuk kesekian kali, ku mohon…Maafkan hatiku….

Kamis, 02 September 2010

Raishah dan Renata


Gadis kecil bernama Raishah


“Raishah,…raishah,…apa kau mendengarkanku??” suara itu berbisik perlahan, tepat di telinga raishah.

“iya,..kamu siapa??”……….raishah membuka matanya.

“aku Renata,..aku telah datang untukmu” renata menatap tajam jauh ke dalam bola mata raishah.

“aku kesakitan,…” ringis raishah

“sssstttttt,….tenanglah, jangan menangis lagi. aku telah sangat mengetahuinya. Tak akan kubiarkan lelaki tua itu menyentuh tubuhmu lagi…diamlah, kan kubasuh lukamu, jika kau mau aku tak akan goyah bersamamu”…..renata mendekap raishah, menenangkan hati kecilnya.

Gadis remaja bernama Raishah


“Renata,…aku kecewa, aku merasa tak punya nilai” raishah terisak sendu.

“karena wanita tua itu??? Masihkah dia bersikap kasar padamu??”

“iya,…angguk raishah dalam…. “apakah dia pernah bersikap baik selaku ibu padaku??”….raishah kembali terisak sesenggukan.

“bersabarlah,..aku selalu setia padamu”…raishah tersenyum dengan manis.

Seorang Mahasiswi bernama raishah


“aku hancur,..aku telah hancur,..aku benar-benar hancur” raishah tak berdaya di sudut gedung utara kampus. Renata menangis di sampingnya,untuk kali pertama.

“bangkitlah raishah, ini hanya mimpi buruk!!!,..seburuk apapun kau bisa memulainya lagi”….renata berhenti menangis, membantu tubuh raishah yang limbung untuk berdiri.

“apa aku harus selalu merasa kesakitan??” raishah berdiri lunglai, meringis merasakan perih diantara selangkangannya, dia tahu, dia telah tersobek-sobek oleh kebejatan nafsu lelaki penghuni jahannam.

“raishah,…bagi sakitmu denganku, kan ku bagi seluruh bahagiaku padamu” renata memapah tubuh raishah yang lemah dan terluka.

Wanita dewasa, bernama raishah


“kini saatnya raishah,…saat kita harus berpisah”….renata menggenggam erat jemari lentik wanita dewasa bernama raishah.

“aku belum siap,..ku mohon, tetaplah di sampingku” raishah berbisik halus.

“berhentilah sampai di sini, suatu saat aku bisa mengganggumu,…entah kapan lagi akan terulang…apa kau ingat, ketika kau tertawa lepas lalu tiba-tiba menangis karena aku mengingatkanmu akan luka itu??,…apa kau ingat ketika kau belajar menjadi lebih beriman namun aku mengajakmu menjadi nakal….walaupun tak selalu begitu raishah,…tapi aku tak ingin kau menciptakan kamuflase dalam dirimu sendiri, aku tak ingin kau menyimpanku lebih jauh dalam jiwamu”…

“aku takut sendiri,..aku telah terbiasa bersamamu” raishah memohon dengan sangat.

“ada beribu kemungkinan di sekelilingmu, ada banyak kesempatan di depanmu, namun hanya ada satu kekuatan di belakangmu yaitu TUHAN,..apa kau harus takut??? Kuncinya hanya satu keikhlasan raishahku sayang,….ikhlaskanlah semua yang telah terjadi dalam hidupmu,…jadilah jiwa yang matang!! aku pergi!...renata kemudian berlari menjauh semakin jauh.

Raishah senyap,..senyap dirasakan separuh jiwanya. Renata memang pergi, tapi suatu saat dia kan kembali menjadi sebagian jiwa raishah yang lain.
“aku tak akan mengucapkan selamat jalan,..karena ku yakin kau hanya berhibernasi, suatu saat kau akan bangun lagi saat kubutuh jiwaku yang lain Renata.

------------
Jakarta, 3 september 2010
Aida m affandi

Senin, 24 Mei 2010

Bukan Wanita Kedua

Mengapa Kamu mendatangi jenis laki-laki diantara kamu (berbuat homoseks)
Dan kamu tinggalkan perempuan yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istrimu?
Kamu benar-benar orang yang telah melampaui batas
(Asy-Syu’ara 165-166)


Aku masih ingat saat ku tatap mata laki-laki yang dijodohkan oleh orang tuaku dua tahun yang lalu. Saat dia datang melamarku bersama keluarganya, sekilas aku melihat tak ada yang aneh dengan laki-laki itu. Bahkan dia terkesan sangat sopan dan bisa dikatakan pria baik-baik pada kesan pertama ku menatapnya.

Mata elangnya yang tajam ditambah segaris alis mata yang sangat tebal menatapku lekat. Aku bergetar untuk pertama kalinya, mungkinkah itu cinta yang datang menyergap tiba-tiba memenuhi relung jiwaku yang selama ini selalu sepi oleh kehadiran hati yang lain.

Entah mengapa setelah beberapa kali gagal membina hubungan cinta dengan beberapa orang pria membuatku pasrah akan jodoh yang ditawarkan oleh kedua orang tuaku. Kurelakan saja ketika laki-laki itu mencoba untuk mengenaliku sebelum menikahiku.

“Masalah cinta mah gampang neng,..ntar bisa tumbuh belakangan, orang-orang dulu juga pada dijodohin, tapi ndak ada tuh yang kawin cerai kayak anak jaman sekarang “kata bibi Baiti, pembantu rumah tangga kami yang telah 15 tahun ikut ibuku bekerja di rumah.


Sejenak ku cerna kata-kata bibi Baiti, apa mungkin cinta bisa datang karena sering bersama, lalu bagaimana kalau cinta itu tidak hadir juga??,..ah, aku tak ingin gambling dalam hal ini. Tapi sebagian kata-kata bibi baiti ada benarnya juga, bahwa pernikahan jaman sekarang rentan oleh kawin cerai, padahal orang-orang sekarang bisa dikatakan lebih maju dan didukung oleh fasilitas untuk membina komunikasi yang baik antara suami istri, mungkin memang begitu pernikahan akhir jaman kata mamaku menimpali.

Langkah pertama tentu aku harus cari tahu siapa laki-laki yang profile dan fotonya di sodorkan padaku beberapa hari yang lalu. Aku hanya tahu laki-laki itu sedang mengambil program pasca sarjananya di bidang filsafat agama. Aku pikir laki-laki itu type laki-laki serius yang agak membosankan. Ah,..cepat-cepat kutepis anggapan sekilasku tentang laki-laki itu. Tapi paling tidak dia lulusan sarjana Agama yang mudah-mudahan bisa membimbing aku dan anak ku kelak agar lebih dekat pada Allah.

Setelah beberapa kali aku melakukan shalat istikharah akhirnya aku menetapkan hati untuk menyambut lamaran dari laki-laki yang bernama Yunus itu. Dia memang pendiam bahkan sangat pendiam, hanya lirikan matanya yang sekali-kali kutangkap sedang mencuri pandang ke arahku, lalu dia kembali diam dan menunduk menekuri meja tamu di rumahku.

----------

Aku tak pernah menyangka akan menikah dengan laki-laki yang sangat mapan dalam segala hal, namun memiliki permasalahan yang sangat rumit. Wajah polosnya yang dingin, tatapan matanya yang tajam, bibirnya yang tak pernah berucap kata membuatku semakin bingung dan sulit memahami laki-laki yang telah menikahiku ini.

Setelah menikah kami mengontrak sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari tempat Yunus bekerja. Pekerjaan Yunus sebagai kepala Kantor Urusan Agama semakin melengkapi tekanan bathinku. Yunus menikahkan orang-orang di satu kecamatan yang dibawahinya , setiap pasangan diberi nasehat pernikahan. Bagaimana pentingnya komunikasi dalam pernikahan dan lain sebagainya. Lalu selalu menjadi pertanyaan besar di kepalaku, bagaimana dengan pernikahan kami sendiri??

Aku terlalu ingin mempertahankan pernikahanku setiap kali menyadari rasa malu yang akan kupanggul seumur hidupku jika perceraian terjadi dalam pernikahan kami. Sudah setahun berlalu pernikahan ini, hampir tak ada kata bahagia yang tersimpan di hatiku semenjak ijab qabul itu terucapkan.

Awalnya aku tak percaya akan hal ini. Setiap kali aku mendekatinya dia selalu menghindariku. Aku pikir dia butuh waktu untuk mendekatiku atau apapun alasannya, mungkin saja dia malu bathinku. Perasaan curiga terus menghantuiku, ada apa dengan suami yang menikahiku hampir setahun ini. Aku istrinya yang seolah-olah paling disayang di depan semua orang, aku seorang pengantin wanita di kala pesta pernikahan kami digelar tapi ternyata aku bukan teman segala hal dalam hidupnya. Bahkan kami memiliki kamar tidur yang terpisah, tentu tak seperti kondisi pernikahan pasangan lain yang menurutku bisa dikatakan normal.

Hatiku berderai air mata saat kusadari ada yang salah dengan sikap Yunus. Seolah-olah dia membenciku. Dia tak pernah bicara apapun jika bukan hal yang sangat penting menurutnya, samasekali diam tiap kali ku bertanya, kapan dia akan menggauliku sebagai seorang istri. Kapan dia akan menikmati masakanku dan membiarkanku mencuci dan menyetrika baju untuknya.

Aku seperti seorang pungguk yang terlalu mengharapkan bulan. Aku seperti bermimpi menunggu kapan mimpiku akan menjadi nyata. Tidak pernah sekalipun dia mencicipi masakanku, tidak pernah sekalipun dia merelakan aku mencuci dan menyiapkan baju untuknya. Tidak pernah sekalipun. Bahkan dia selalu memarahiku jika ku tunaikan kewajibanku sebagai seorang istri untuk melayani sang suami.

Yunus hanya diam, tak berucap kata seolah lupa bagaimana berbicara. Amarahku membeku tiap harinya, semakin hari aku semakin bingung dengan sikapnya yang aneh. Dia terlihat manis saat bertemu keluargaku dan teman-teman kerjanya. Dia selalu mengajakku dalam acara makan malam di tempat sanak saudaranya, tapi hanya sebatas topeng yang dikenakannya untuk menutupi kedok di belakangnya. Begitu sampai di rumah dia akan mendekam kembali di kamarnya dan aku diam sendiri di kamarku.

“astaghfirullahal adziiimmm,…apa kau tidak bisa memakai pakaian dalammu di kamar mandi saja” Yunus membentakku sembari memberikan handuk tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.

“Bang,..aku ini istrimu, aku halal untukmu, mengapa kau harus beristighfar melihat sebagian auratku??,..seharusnya aku yang bertanya ada apa denganmu, selama ini aku hanya diam kau perlakukan aku seperti ini tapi bukan berarti aku tidak memperhatikanmu”...ku ambil handuk dari tangannya untuk menutupi sebagian tubuhku yang masih basah sesudah mandi.

Yunus meninggalkanku bergerak ke kamarnya. Ku kejar dia sebelum tangannya menjangkau gagang pintu. Ku tahan tanganku agar diberi kesempatan untuk mengeluarkan uneg-uneg di kepalaku selama ini.

“Mengapa abang ga pernah menjawab pertanyaanku ini. Seperti inikah pernikahan yang di ajarkan agama kita?? Seperti inikah nasehat pernikahan yang abang hembus-hembuskan pada pasangan suami istri yang akan menikah?? Tidakkah abang malu telah memiliki topeng seperti ini?? Aku malu bang,…bukan hanya malu, tapi hancur hatiku atas perlakuan abang. Kalau memang abang ga mencintaiku, mengapa setuju dengan pernikahan kita???”

Yunus tak bergeming, air mata yang bercucuran di pipiku tak menggerakkan hatinya untuk berbicara tentang masalah antara kami. Dia hanya diam melihatku sesenggukan. Sikapnya semakin membuatku geram dan ingin berteriak.

“Mengapa ada manusia tak punya hati sepertimu ini??....Ya Allah dimana ilmu agama yang kau pelajari selama ini, apakah kau lupa ayat dan hadistnya menggauli istrimu??..pernikahan hanya sebuah kesakitan dalam hidupku. Katakan padaku, apa kau lemah syahwat?? Bisa kah kita mengobatinya bersama-sama,..aku ini istrimu, mana boleh kau biarkan aku penuh tanya seorang diri menjalani pernikahan ini.”

Yunus melirikku sejenak, lalu kembali menekuri layar laptop di depannya. Ingin sekali aku melepaskan geram hatiku, ingin sekali aku melepaskan control amarahku agar reda seluruh resah hatiku. Aku terduduk di depan kamar Yunus dalam keadaan bermandikan air mata. Yunus benar-benar telah menghancurkan sisi kesabaranku, Yunus benar-benar merusak rasa sayangku yang berlimpah padanya menjadi rasa benci yang berlapis-lapis.

--------

Pasca pertengkaran saat itu, aku semakin tahu bahwa Yunus memang tak pernah mencintaiku.
Jika memang dia ingin bersamaku tentu tak sesakit ini perlakuannya padaku. Tentu dengan cepat pula dia memberikan penjelasan keadaannya yang sebenarnya. Yunus semakin menjadi dingin bahkan ku pikir sudah membeku, jangan kan berucap maaf atas pertengkaran kami saat itu, bahkan bertegur sapapun tidak pernah dilakoninya lagi.

Jika tidak memikirkan aib yang akan ditelan oleh Yunus dan keluarga kami, mungkin aku tak akan bertahan sampai dengan saat ini. Aku sungguh masih memikirkan anggapan orang terhadap pekerjaan Yunus sebagai kepala KUA. Bagaimana mungkin dia akan memberi nasehat pernikahan jika pernikahannya saja tak selamat dari perceraian.

Aku mendiamkan masalah yang semakin terbakar antara kami, diluar terlihat tenang tapi di dalam semakin membakar hampir seluruh hatiku. Ibarat api dalam sekam yang terlihat hanya asap yang sesekali mengepul dilewati tiupan angin. Yah,…aku memilih diam dan menahan derita ini hingga semuanya jelas di depan mataku arti kebenaran itu terungkap.

---------

Hari itu begitu terik, panasnya mencapai 40 derajat celcius, aku mendekam dalam kamarku menikmati jus jeruk dan beberapa potong coklat. Di luar ku dengar suara motor Yunus yang berhenti di halaman rumah kami, sekilas ku intip lewat jendela ternyata Yunus pulang bersama Ilham sahabatnya sejak masih kuliah dulu begitu akuannya padaku suatu hari.

Seperti biasa mereka berdua akan masak bersama, lalu makan bersama dan menghabiskan siang di kamar sambil menonton televisi yang selalu diputar dengan volume yang keras. Tak sekalipun aku menegur Yunus jika sedang bersama Ilham. Aku hanya tersenyum jika sempat berpapasan dengan Ilham saat berada di rumah kami.

Tapi entah mengapa siang itu aku sangat penasaran dengan rutinitas mereka. Bagiku agak sedikit aneh laki-laki yang selalu menghabiskan waktu bersama demikian dekatnya bahkan jauh lebih akrab dari istrinya sendiri.

Perlahan ku buka pintu, aroma ikan yang digoreng begitu khas di hidungku. Aku berjalan perlahan mengamati dua laki-laki yang sedang menghabiskan waktu memasak bersama itu. Aku semakin mendekat saat kenyataan itu terkuak di depan mataku atas izin Allah.

Astaghhhfiruulllahhhal adhzimmm,…..ku genggam erat jari jemariku dalam kepalan tanganku. Ingin sekali kuhantamkan pukulan tinjuku ke wajah Yunus dan Ilham.

“Ya Allah,…ternyata Ummat Nabi Luth masih tersisa di rumahku,..ampuni Hamba ya Allah,….” Yunus dan Ilham sontak kaget dengan teriakanku tepat di belakang mereka. Seketika mereka melepaskan pelukan yang begitu mesra dan hangat di depan mataku.

Hatiku hancur tiada tara, air mataku semakin bercucuran mendapatiku Yunus suamiku yang sangat aku banggakan dalam hal agamanya, ternyata seorang homoseksual. Hatiku semakin hancur ketika kenyataan ini kudapatkan di rumahku sendiri di depan mataku sendiri dan mungkin telah terjadi berulang-ulang tanpa kusadari.

Wajah Yunus dan Ilham terlihat berang dengan sikapku yang mengganggu acara romantis mereka persis seperti seorang inteligen yang diam-diam melakukan sesuatu untuk mencari tahu kesalahan mereka. Aku tahu mereka akan marah padaku, bahkan mungkin akan melakukan hal bersifat kekerasan atas sikapku ini.

Aku diam, terduduk lemas menyadari betapa tak berartinya aku di mata Yunus selama ini. Betapa tak menariknya aku selama ini di matanya. Dia bukan seorang yang lemah syahwat tapi dia seorang yang kelainan seksual. Betapa ku tak menyadari selama ini bahwa aku menikahi laki-laki yang masih turunannya ummat Nabi Luth as.

Ilham buru-buru keluar dan mengambil jaketnya lalu pergi, kulihat Yunus mengejarnya lalu berbisik di telinganya dan mengusap-usap pundak Ilham perlahan sebelum mereka berpisah. Yunus duduk membelakangiku, dia hanya diam sambil memainkan jari-jarinya. Persis seperti seorang anak kecil yang telah melakukan sebuah kesalahan besar di depan orangtuanya.

“Mengapa abang ga ngomong dari awal tentang masalah seks yang abang alami kepadaku??...” ku atur sedemikian rupa emosiku agar bisa bersikap lebih bijaksana dan memutuskan sesuatu dengan akal sehat.

“Aku tahu ini aib buat abang, karena status abang sebagai seorang suami juga ditambah pekerjaan abang sebagai seorang penghulu, tapi jika dari awal abang mau berbagi hal ini ke aku mungkin aku tak akan sesakit ini menahan hati” yunus masih tetap diam tak bergeming.

“Abang,..mengapa selalu diam, bahkan sampai dengan saat inipun abang masih menganggap aku orang lain setelah hampir 2 tahun abang menikahiku tanpa memberikanku kebahagiaan apapun, aku mohon sekali ini saja kita saling berbagi. Aku akan menerima abang dengan ikhlas dan kita perbaiki ini sama-sama. Kita bisa ke phisikiater kita bisa ke dokter, asalkan abang mau berbagi ini denganku”

Air mataku semakin tak terbendung, kesedihan luar biasa menyayat hatiku. Aku benar-benar tak berharga di mata suamiku sendiri. Bahkan aku berusaha untuk menerima kenyataaan penyakit seksual suamiku sendiri karena aku ingin tetap mempertahankan pernikahanku ini.

“Seharusnya kau tidak kunikahi dulu” akhirnya Yunus memecahkan kebisuannya dengan melepaskan beberapa kata atas pertanyaan-pertanyaanku padanya.

“Tapi sekarang aku istrimu bang,..kita bisa sama-sama ke dokter, ke ustadz atau kemana saja untuk mengobati ini” aku berusaha meyakinkan Yunus, bahwa aku menerimanya apa adanya.

“Tidak,..aku tahu selama ini aku sudah sangat menyakiti hatimu, aku tak ingin semakin menyakitimu lagi” kata-kata Yunus begitu datar tanpa beban.

“Apa arti dari kata-katamu bang”,…aku mencoba mengartikan hal yang berbeda dari maksud ucapannya.

“Silahkan ajukan permohonan cerai, kau berhak mendapatkan kebahagiaanmu, jangan memaksakan hatimu untuk terus sakit berada di sampingku” yunus bangkit dari duduknya setelah kalimat terakhir diucapkannya.

Hatiku begitu miris, mengapa seorang Yunus yang sangat faham agama masih tetap memilih menjadi pengikut ummat Nabi Luth yang dihancurkan Allah dengan batu-batu dari neraka lalu kemudian kotanya ditenggelamkan menjadi laut mati. Apakah imannya tak tergerak untuk takut akan murka Allah selanjutnya pada kaum Guy yang akhir-akhir ini bukan hanya sebagai kelainan seksual tapi sudah menjadi trend hidup….Na’udzuuubillahi min dzaliik

Aku tak mungkin memaksakan keinginanku pada keputusan Yunus yang lebih memilih bercerai dariku. Hampa kurasakan menyelinap di hatiku, ketika kenyataan ini harus ku telan sebagai pil pahit dalam kehidupanku.

Terkadang aku tak ingin meninggalkan Yunus, aku ingin dia kembali pada fitrahnya menyukai wanita bukan laki-laki. Tapi itu keputusan Yunus dia belum ingin memperbaiki ini semua. Bukankah keinginan berubah itu harus dari hati tanpa paksaan. Semoga dan semoga Yunus tak membiarkan penyakitnya ini semakin menghancurkan imannya. Bagaimanapun memilih mencintai sejenis bahkan memilih jalan tersebut sebagai trend hidup adalah sebuah dosa besar dalam islam.

-----------

Aku terpaku menatap surat akte perceraianku dengan Yunus, sampai sidang ketiga kemarin Yunus tak juga menampakkan batang hidungnya. Aku tahu ini sangat memalukan dan menjatuhkan reputasinya sebagai seorang kepala KUA. Tapi inilah jalan hidup yang ia pilih.

Semenjak bercerai aku tak pernah melihatnya lagi, jabatannya sebagai KUA pun telah dicopot dan digantikan oleh pejabat baru. Yunus menghilang dari kotaku. Ingin sekali aku menemuinya lagi, untuk mengatakan bahwa masih ada waktu untuk berubah dan bertaubat bukankah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat akan menggugurkan dosa-dosa yang telah lalu. Masih banyak psikiater yang bisa membantunya selama ia ingin memperbaiki ini semua. Namun aku juga tak ingin lupa mendoakannya semoga Allah membuka hati Yunus untuk kembali pada fithrahnya…amiiinnn.


Jakarta, 24 Mei 2010
Ummat Nabi Luth telah dibumihanguskan,..
Apa kita ummat akhir jaman menjadi selanjutnya???

Aida M Affandi
www.warnawarnisisihati.blogspot.com
www.scribd.com/aida_affandi
www.infobunda.com/ummi_nazira

Jumat, 07 Mei 2010

Cinta Terlarang


Ku telanjangi wajahku dengan dosa
Saat ku terlena akan sebuah cinta yang semu
Ketika kusadar,…semua itu hanya ujian
Ku kembali padaMu ya Rabb,..


Bolak balik ku cek emailku, sesekali ku lirik handphone selularku. Masih sambil menatap layar komputerku yang memancarkan radiasi sehingga membuat mataku agak berair. Mengapa tak ada satupun balasan darinya gumamku. Apa dia belum membacanya, mengapa pesanku juga belum dibalas. Kemanakah gerangan laki-laki yang merenggut perhatianku kembali dalam beberapa bulan ini.

Kepalaku dipenuhi oleh sejuta tanya. Mengapa tiba-tiba dia menghilang dari hadapanku dengan cara seperti ini??, sejenak aku marah, tiba-tiba rasa posesifku memancar setelah selama ini kupendam karena merasa bersalah pada seorang hati wanita yang telah memperbaiki sikapnya untuk mempertahankan suami yang sangat dicintainya.

Bukan hanya hati seorang wanita yang telah kulukai, tapi aku juga telah menghancurkan kepercayaan suami dan anakku yang selalu mendambakan seorang ibu yang shalehah dari seorang diriku yang selama ini seolah telah mengorbankan kariernya untuk mengabdi pada keluarga kecil yang telah kami bina lima tahun yang lalu.

Tit,..tit,..tit,..you’ve got email, tiba-tiba lamunanku terjaga oleh sebuah pesan yang masuk ke handphoneku. Firasatku mengatakan bahwa pesan ini balasan dari laki-laki yang kutunggu beberapa jam yang lalu.

Dear kekasih hatiku,..

Maafkan aku mengungkapkan kebenaran ini sekarang, karena jujur aku tak sanggup sama sekali kehilanganmu, sampai kuungkapkan kebenaran ini pun aku tetap merasa berat jika harus kehilanganmu.

Aku merasa berdosa telah melakukan semua kesalahan ini. Apapun namanya atas nama cinta sekalipun, komunikasi cinta antara kita selama ini adalah sebuah kesalahan. Dalam tahajjud malamku aku menangis telah menyeretmu dalam kubangan dosa ini.

Aku mohon ikhlaskanlah semua ini berakhir, jika benar Allah membuat Plan B dalam hidup kita semuanya akan terlihat nyata di kemudian hari dengan cara yang halal. Aku tahu hal ini sangat menyiksa kita. Tapi bagaimanapun kita harus bisa mengakhiri semuanya dengan keikhlasan.

Aku doakan hidupmu akan selalu dalam kasih sayang Allah, karena aku menyayangimu. Kau bukan selir di hatiku, tapi kau adalah kekasih hatiku. Aku meminta padaNya agar salah satu bidadari syurga nanti adalah dirimu…amienn

Warm regard
Farhan


Mataku panas menahan genangan air mata yang mengalir perlahan di pipiku. Ku gigit bibir bawahku merasakan perih di sudut hatiku, menahan sesak yang menyusupi sendi-sendi jiwaku. Email dari Farhan yang begitu menusuk-nusuk kesadaranku akan dosa yang telah kami lakukan selama ini. Aku menangis bukan karena kecewa telah kehilangan Farhan, tapi aku menangis mengapa Allah menghadirkan cinta di saat aku dan Farhan masing-masing sedang menjalani cinta bersama pasangan masing-masing dalam ikatan rumah tangga.

--------

“Dunia ini sudah mau kiamat apa ya?” Randi mengumpat persis di depan wajahku. Randi sahabat terbaikku yang bekerja sebagai Hakim muda di pengadilan agama. Beberapa kali dia bercerita panjang lebar padaku tentang pekerjaannya.

“Mau kiamat gimana Ran?? Tanyaku hanya ingin tahu saja.

Sekarang ini perceraian dimana-mana, dan masalahnya kebanyakan karena perselingkuhan. Yang suami godain anak gadis, yang istri godain mantan pacar. Belum lagi selingkuh uang dan lain-lainnya. Dunia benar-benar mau kiamat, iman manusia semakin diujung galah. Randi terus saja berbicara panjang lebar menjelaskan padaku tentang keheranannya.

“Bener kan Fathiya, dunia mau kiamat?” tiba-tiba Randi memberikan pertanyaan itu padaku yang sempat membuatku gelagapan untuk menjawabnya.

“Eh,..iya,..anggukku dalam, tak berani aku berbicara banyak jika permasalahannya adalah perselingkuhan. Aku merasa mukaku sedang ditampar dengan pertanyaan itu. Tengkukku dipaksa melototi lantai, tiba-tiba ingin rasanya kututup rapat-rapat wajahku karena menahan malu akan pertanyaan Randi.

“Jangan suka main api,..ntar bisa jadi debu, jangan suka main hati,..nanti hati bisa beku menerima kebenaran ilahi. Kata Randi sambil berlalu dari hadapanku yang sedari tadi diam membisu memikirkan setiap kata yang diucapkannya.

Aku semakin berada dalam puncak kesalahan, tiap kali aku mengakui bahwa apa yang terjadi antara aku dan Farhan memang sebuah kesalahan besar. Terlalu banyak hati yang kami sakiti hanya untuk meraih cinta berselimut nafsu antara kami.

Bukan logika dan imanku yang membenarkan ini. Malah imanku yang selalu berlawanan dengan nafsuku yang memaksa hal ini terjadi. Terkadang imanku berkata, tinggalkan Farhan kau masih punya hidup yang jauh lebih baik daripada berada diantara jurang dan serangan rubah yang sewaktu-waktu akan membuatmu terjatuh ke jurang atau malah akan menjadi mangsa yang empuk. Dua-duanya akan berakibat buruk padamu.

Lalu hatiku yang lain berkata, apa salahnya dengan rasa ini. Bukankah aku dan Farhan saling mencintai. Cinta kami begitu suci, bahkan terlalu besar untuk dinafikan. Pergolakan bathin yang terus saja terjadi hampir setiap waktu ketika aku benar-benar merasa telah mengkhianati suami dan anakku.

Bukan hanya mengkhianati keluarga kecilku saja. Aku merasa seperti seorang rubah betina yang menerkam mangsanya tanpa terduga-duga. Aku bahkan kenal baik dengan istrinya Farhan, bahkan terlalu sering aku mendengar curhatnya tentang Farhan kepadaku. Seolah-olah aku telah menjadi sahabat terbaiknya, aku mendengarkan dengan seksama, bahkan memberikannya saran semampuku. Sesekali aku merasa sakit dan cemburu, tapi sisi hatiku yang lain mengatakan bertahanlah atas apapun yang kurasakan pada Farhan.

Aku pikir aku dan Farhan telah mengidap kelainan jiwa yang entah apa namanya. Ketika hubungan ini menjadi sebuah dosa, maka disitulah letak kenikmatannya. Bukankah itu sebuah penyakit kejiwaan yang serius. Kelainan jiwa seperti ini bahkan semakin menjalar ke setiap jiwa-jiwa yang lain dalam kehidupan akhir jaman. Buktinya pengadilan agama sibuk dengan kasus perceraian akibat perselingkuhan. Seolah-olah perselingkuhan bukan sebuah aib lagi pada jaman sekarang ini. Na’udzubillahi min dzalikk…

Astaghfirullahaladzimmm,…ku usap wajahku yang sedari tadi mengenang percintaanku dengan Farhan. Kemana sudah kalahnya imanku dibandingkan dengan nafsuku yang semakin merajai logikaku. Apakah manusia akhir jaman semakin tidak malu memamerkan dosanya. Tiba-tiba air mataku jatuh perlahan…

-----

Adakah yang salah dengan pernikahanku???,…jika kamu bertanya ada yang salah, maka akan selalu tampak kesalahan begitulah jawaban Randi yang mengusik alam sadarku ketika suatu kali aku memberi pernyataan bahwa setiap perselingkuhan selalu berawal dari sebab akibat.

Ada sebuah kalimat yang mengatakan hal seperti ini, kau tidak bisa memaksa orang lain untuk melakukan seperti yang kamu mau, tapi kamu bisa memaksa dirimu sendiri untuk melakukan sesuatu yang orang lain inginkan. Dalam pernikahan memang selalu ada perbedaan, jika masing-masing pasangan benar-benar berniat memperbaiki dan melaksanakan inti dari kalimat itu, kemungkinan perselisihan bisa diminimalisir.

Randi memang jagoan dalam hal memberi pencerahan dalam rumah tangga. Terkadang aku iri melihat rumah tangganya yang senantiasa selalu terlihat harmonis, walaupun mungkin perbedaan kerap terjadi dalam kehidupan mereka.

Lalu bagaimana jika kericuhan rumah tangga diakibatkan campur tangan keluarga?? Tanyaku kemudian. Randi tersenyum kemudian menyeruput minuman cappuccino kesukaannya terlihat dia sangat menikmati minumannya.

Itu tergantung dari sikapmu dan suami. Analoginya seperti ini kamu punya kendaraan, suami adalah supir utama, istri dan anak-anak adalah penumpangnya. Arah tujuan dari kendaraanmu ditentukan oleh kebutuhan dan keinginan bersama. selanjutnya supir yang menjadi penunjuk jalan mengarahkan agar kendaraanmu berjalan dengan baik. Lalu tiba-tiba di tengah jalan kendaraanmu mogok. Yang boleh membantu tentu barang-barang seperti dongkrak, pompa angin dan tugas mereka hanya membantu tapi tidak ikut serta dalam menentukan tujuan perjalanan si pemilik kendaraan ini.

Sebenarnya gampang saja ucap Randi tenang, selama kamu tak membiarkan pihak luar mengutak atik isi dari kendaraanmu dan bahkan sampai mengacaukan arah tujuanmu maka tak akan ada satupun yang mampu mengacaukannya. Setiap orang boleh memberikan saran tapi yang berhak mengambil sari kebaikan dari sebuah saran adalah kamu dan keluargamu.

Analogi yang luar biasa dalam pikiran seorang Randi ketika dia mengibaratkan pernikahan adalah sebuah kendaraan. Lagi menurut Randi, mau tidak mau seorang imam keluarga seharusnya dua kali lipat lebih kuat dari orang-orang yang diimaminya, dan seorang istri sebagai pendamping hidup harus memiliki dua kali tingkat kesabaran dalam mengelola kepentingan dalam rumah tangga. Masing-masing tidak menonjolkan diri atau membanggakan apa yang telah dilakukan. Cukuplah kesadaran masing-masing akan kewajiban sebagai suami ataupun istri.

Rentetan kalimat Randi kali ini begitu menggugah jiwaku. Teringat kembali sesosok wajah Farhan yang menemani hari-hariku belakangan ini. Aku bertanya, apa yang kucari dari seorang Farhan memang tak pernah kutemukan dari suamiku. Sehingga membuat aku semakin ingin memiliki Farhan. Ketika Farhan jauh lebih shaleh dalam kapasitasnya sebagai seorang muslim benar-benar telah membuatku jatuh cinta tiada tara padanya.

Namun karena keshalehannya pula dia meninggalkanku, melupakan kenangan cinta kami dulu yang mulai terajut sejenak. Bukankah wanita baik untuk laki-laki yang baik pula dan wanita pezina untuk laki-laki pezina pula??...aku diam, kali ini mematut wajahku di cermin, melihat apa yang telah aku lakukan selama ini

-------------

Ku baca kembali isi email Farhan yang menyayat hatiku itu. Sebuah bisikan syaithan tak akan membiarkan aku menerima keputusan Farhan yang sepihak meninggalkanku. Jika kuturuti bisa saja akan ku bongkar perselingkuhan ini pada istrinya, tapi apa yang kudapatkan setelah itu hanya dosa dan dosa lagi dan akhirnya aku kecewa.

Berat memang menafikan sebuah cinta yang bercokol kuat di hati, apalagi jika yang dicintai adalah seseorang yang selalu mengingatkanmu untuk melakukan kebaikan. Aku pikir Farhan mengakhiri ini karena tak ingin mencampur sesuatu yang bersifat maksiat dengan yang bersifat kebaikan. Bagaimana mungkin kotoran dicampur madu, pada akhirnya tetap akan menjadi najis.

Ya Allah,…Ya Rabb,..ampuni hamba, biarkanlah cinta ini pergi perlahan tanpa hamba memaksanya, biarkanlah sisa-sisa perih ini digantikan oleh ketulusan hamba untuk lebih mencintaiMu, biarkanlah semua pergi agar tak berlanjut menjadi penyesalan seumur hidupku dan Farhan.

Ku balas email Farhan dengan uraian air mata di pipiku.

Dear Farhan,..
Jujur dalam hatiku sangat perih menerima keputusanmu. Tapi sebagai seorang yang faham agama, tentu ini menjadi ukuran kau menuruti hawa nafsumu atau tidak. Aku sadar kondisi yang kita alami selama ini hanya mendatangkan ketaknyamanan dalam hati dan ibadah kita karena semua ini adalah dosa.

Dengan kekuatan hatiku yang tak seberapa ini, aku ikhlaskan semua telah berakhir antara kita, mulai hari ini dan selanjutnya. Semoga Allah mengampuni kekhilafanku selama ini…Amiiinnn

Regard
Fathya


****
Untuk seorang sahabat,..
Kata merpati,..tak selamanya selingkuh itu indah

Jakarta, 30 April 2010

Aida Maslamah
www.warnawarnisisihati.blogspot.com
www.scribd.com/aida_affandi

Minggu, 28 Maret 2010

Kisah Cinta Wanita Rupawan


Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat –Hamka

Wanita itu duduk tepat di sampingku, perutnya yang kelihatan membuncit dapat dipastikan wanita itu sedang hamil. Wajahnya manis, matanya indah aku mengagumi kecantikannya perpaduan wajah melayu oriental dan arab. Tak jarang aku mencoba sesekali mencuri-curi pandang ke arahnya setiap kali kami bertemu di ruang tunggu pemeriksaan kandungan.

Beberapa kali jadwal pemeriksaan kandungan kami selalu bersamaan. Wanita itu selalu datang sendiri, lalu duduk di sudut ruangan sambil membaca sebuah buku atau Qur’an. Sesekali aku melirik apa judul setiap buku yang dibacanya. Selalu berubah, ternyata wanita itu melumat semua jenis buku tidak terpaku pada sastra saja atau politik saja misalnya. Beberapa kali dia tersenyum padaku, ketika mengucapkan permisi duduk di bangku kosong di sebelahku. Semenjak itu pula aku selalu berusaha memulai sebuah percakapan antara kami.

“Udah trimester berapa mba??” tanyaku membuka percakapan.

“Trimester kedua mba, masuk bulan keenam” jawab wanita itu dengan senyuman.

“Oh,..sama dunk dengan saya timpalku kemudian.

“Hamil anak pertama juga mba??” tanyaku lagi

“Kedua,..jawabnya lagi masih mengembangkan senyumnya.

“Ohya,..saya pikir anak pertama juga...

“Hasil USGnya laki-laki atau perempuan mba” aku kembali bertanya, masih ku tatap mata indahnya. Aku belum menemukan sebuah tanda kurang berkenan dari sorot matanya yang bening. Jadi tetap saja ku lanjutkan bertanya. Entah mengapa aku semakin ingin tahu tentang wanita ini, senyumnya sering menimbulkan tanya. Kembali ennegramku yang dominan pengamat beraksi lagi.

“Anak pertama saya perempuan, kalau yang ini kata obgynnya seh laki-laki. Kalau mba hasil USG nya apa?” sekarang wanita itu mulai membuka pembicaraan dua arah denganku.

“Dokter bilang laki-laki juga mba, tapi saya pengalaman hamil yang pertama ne” aku melirik ke arahnya mencoba mencari kesamaan dari pernyataanku dengannya.

“Hamil yang pertama saya terpaksa melahirkan dengan tindakan cesar, karena sudah tidak ada pembukaan dan bayi saya terlalu besar, tapi alhamdulillah semua sehat-sehat saja, sekarang umurnya sudah 3 tahun cantik dan cerdas lagi” aku menangkap ada nada bangga di balik ucapan wanita itu.

“Ohya, pasti seneng banget ya mba”

“Ya, ucap wanita itu datar lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya.

”Tapi saya hanya bisa melihatnya 3 bulan sekali itupun kalo ada kesempatan, karena dia ikut papanya di jakarta” sambung wanita itu kemudian. Sorot matanya yang tajam menunjukkan sesuatu yang bermakna hilang.

“Ehhhmmm,..konsekuensi dari pekerjaan ya mba” ujarku dengan percaya diri.

“Bukan karena pekerjaan, tapi akibat perceraian, pengadilan memutuskan anak saya diasuh oleh bapaknya” aku terdiam mendengar pengakuan wanita yang rupawan ini. Wanita secantik ini bisa diceraikan juga pikirku.

“Oh, maaf mba…saya ga bermaksud mengingatkan mba kepada kisah itu” aku mencoba mengalihkan pembicaraan kami dengan menyodorkan minuman dingin padanya.

“Tidak apa-apa, sudah berlalu kok setengah tahun yang lalu” ucap wanita itu sambil mengambil botol minuman yang kusodorkan padanya.

Setengah tahun yang lalu?? Baru enam bulan yang lalu berarti massa iddahnya baru berlalu kurang dari dua bulan yang lalu karena massa iddah seorang wanita adalah empat bulan. Ingin sekali aku bertanya jika perceraian itu sudah enam bulan yang lalu. Lalu apakah sekarang wanita ini sudah menikah lagi?? Atau mungkin kehamilan ini hasil dari pernikahannya terdahulu?? Tapi kuurungkan niatku bertanya, aku tak ingin terlalu dalam ingin mengetahui kehidupannya, kecuali jika dia berinisiatif untuk menceritakannya padaku kemudian.

“Eh, sampai lupa kenalkan nama saya Almira” ku sodorkan tanganku ke arah wanita itu, yang langsung disambut hangat olehnya.

“Aurora, panggil saja Rora ucapnya lembut.

Demikian perkenalanku dengan wanita yang menarik perhatianku itu. Wajahnya yang cantik, senyuman yang menghiasi bibirnya yang selalu membuatku ingin mengetahui siapa dia. Entah mengapa ketika berawal dari proses mengamati segala hal, terutama tentang kehidupan wanita lain di luar hidupku. Banyak hikmah di balik kisah hidup setiap orang, mendengar banyak kisah selalu membuatku tak henti-hentinya bersyukur atas apa yang Allah berikan padaku sampai dengan hari ini.

--------

Hampir dua bulan aku menjadi sahabat baru Rora, komunikasi antara kami tidak hanya di ruang tunggu pemeriksaan kandungan, tapi juga berlanjut di telpon selular dan email. Kedekatan itu terjadi begitu saja, mungkin karena kami berdua sama-sama datang sendiri tanpa suami, Rora memang hanya datang seorang diri, sementara aku terpaksa datang sendiri memeriksakan kandunganku karena suamiku bekerja di luar kota.

“Aku yang salah Mir,..” Rora sesenggukan menahan air matanya yang jatuh berlinang tak tertahankan lagi. Matanya yang bening berubah keruh dan memerah. Aku menatapnya dengan sendu dan haru.

“Aku yang sudah membuat perceraian itu terjadi, aku telah menduakannya, aku menyelingkuhinya dalam hatiku,…” Rora semakin tak sanggup menahan lara yang menyesakkan dadanya saat menceritakan kembali kisah cintanya dulu pada pernikahannya yang pertama.

“Aku merasa belum cukup dewasa dalam bersikap, aku hanya memikirkan apa yang ada di depanku saja, apa yang ada di fikiranku saat itu. Bahkan aku berani menduakan cinta suami yang sangat kucintai”

“Mengapa bisa begitu mba” tanyaku penasaran.

Rora menarik nafas dalam, menatapku lekat masih dengan buraian air mata. Dadanya bergerak naik turun menahan emosi yang berlebihan. Seperti mengumpulkan seluruh kekuatan dalam sebuah start pertandingan sprint atau lari jarak pendek saat dia mulai berbagi kisahnya itu denganku.

----------

Kilas Balik

Aku pikir pernikahanku sangat indah. Setiap hari yang aku lalui penuh dengan kata cinta.
Namun ternyata tembang cinta dalam kehidupan berumah tangga itu tak selamanya indah sesuai irama, terkadang terdengar sumbang, terkadang sering terdengar keluar jalur tangga nada. Tapi begitulah hidup berumah tangga, ada dua kepala yang berbeda latar belakang sifat, didikan dan sebagainya dipertemukan menjadi satu. Tentu terkadang benturan itu hadir tanpa diminta sekalipun. Ibarat sendok dan garpu yang bertemu dalam sebuah piring makan, sesekali akan berbenturan nyaring satu sama lainnya, begitulah juga sebuah pernikahan.

Semenjak menikah aku diboyong ke kota dimana tempat suamiku bekerja dan dilahirkan. Aku pun berhenti bekerja demi bisa hidup bersama-sama di satu kota agar lebih mendapat ketenangan. Awalnya aku ngotot untuk tetap bekerja di kota asalku, tapi mengingat pesan seorang sahabat yang mengatakan bahwa salah satu ciri keluarga sakinah itu adalah selalu bersama, tidak berbeda tempat dalam waktu yang lama. Akhirnya aku mengalah untuk ikut saja, lagi pula aku dan suami ingin segera punya momongan, bagaimana mau cepat dapat momongan jika kami berpisah terus pikirku.

Ternyata tak semuanya indah seperti yang kita harapkan. Aku ikut suami dan tinggal di rumah mertuaku. Berawal dari rasa khawatir jika ibu mertuaku yang sudah melewati usia 60 tahun harus tinggal sendirian di rumah, akhirnya tinggallah kami serumah dengan ibu mertuaku. Dengan adanya aku di rumah, diharapkan bisa menemani beliau ya paling tidak untuk ke pengajian dan teman ngobrol di saat senggang.

Aku sangat hafal ketika pak ustadz berbicara berulang kali di pengajian. Bahwa manusia itu ibarat lingkaran, kondisinya akan terus berputar seperti sedia kala. Saat bayi di lahirkan tanpa kemampuan untuk duduk, berjalan dan sebagainya. Kemudian kondisi itu juga akan hadir kembali ketika usia telah lanjut. Barang siapa yang dipanjangkan umurnya maka akan dikurangi nikmat fisiknya.

Mungkin karena seiring pertambahan umur tadi maka semakin berkurang nikmat fisik dan kemampuannya pula, maka tak jarang orang yang sudah tua akan cenderung lebih cerewet daripada saat dia masih muda. Awal-awalnya aku mencoba memahami itu, bersikap sabar dengan kondisi ini. Tapi lama kelamaan aku pikir kondisi ini semakin tidak sehat terutama untuk rumah tangga kami.

Memang tak bisa dipungkiri perasaan seorang ibu yang selalu berupaya melindungi anaknya.
Tak jarang yang merasa bahwa anaknya tetaplah seperti anak kecil di mata seorang ibu, padahal si anak sudah beranjak dewasa, sudah memiliki tanggung jawab atas anak dan istrinya pula. Namun tetap saja pikiran seorang ibu ingin mengayomi anaknya, takut kehilangan anaknya. Sehingga segala sesuatu seorang ibu cendrung ingin diikut sertakan dalam kehidupan anaknya bahkan terkadang keinginan itu melebar ke segala hal yang semestinya tidak perlu dijangkau oleh seorang orangtua.

Ingin sekali aku melepaskan beban bathinku yang terus saja kupendam. Hidup dengan segala kecukupan di rumah mertua tak serta merta membuat hatiku tenang. Jika boleh memilih tinggal di rumah kontrakan yang hanya memiliki satu kamar sajapun bukan masalah buatku, apalagi aku bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Jadi bersusah-susah bukanlah hal yang aku hindari dalam hidup ini. Hal ini sangat kontras dengan suamiku yang sudah terbiasa dimanjakan oleh kedua orangtuanya. Bagaimanapun aku pun tak bisa menyalahkannya, aku hanya bisa berulang kali meyakinkannya bahwa suatu saat kami mampu mandiri.

Setahun, dua tahun, tiga tahun telah berlalu namun tak ada yang berubah. Aku kembali menahan perasaanku hampir tanpa keluhan, ibu mertuaku tetap ikut campur dari hal-hal yang kecil tentang rumah tangga kami bahkan hingga ke urusan pengaturan keuangan. Aku semakin tertekan dengan sikap suami ku yang sangat sensitif setiap kali mengajaknya membicarakan tentang rencana mengontrak rumah.

Situasi seperti ini terus saja berjalan tanpa penyelesaian. Aku sadar kondisi seperti ini semakin memperparah hubungan kami. Kondisi seperti ini jika semakin dipupuk tentu semakin menimbulkan penyakit, laksana bisul yang semakin lama semakin membesar dan siap meledak.

“Bersabarlah,..sebagai anak tentu harus lebih sabar dari orangtuanya” hanya itu yang dikatakan suamiku tiap kali aku merasa kurang nyaman dengan sikap mertuaku, ya bersabar hanya itu yang aku lakukan. Berulang kali aku membaca surah Al-Hasyr ayat 10 dan surah Ali Imran ayat 159 ketika rasa kesal itu semakin hadir di hatiku. Berulang kali aku membacanya sehingga aku sudah hafal dengan artinya bahkan. Namun bagaimanapun penyakit tetap harus dicari obatnya, tidak mendiamkannya tanpa ada penanganan, seperti sel kanker yang tak terdeteksi perlahan-lahan namun pasti membayangi nyawa manusia.
Apakah hanya itu masalah dalam rumah tanggaku?? Tidak,..bukan hanya itu. Aku menyadari ada yang salah dalam komunikasi kami yang hampir hanya berlangsung lewat telpon saja.

Kebiasaan suamiku yang menjadi sosok pendiam ketika sudah tiba di rumah sehingga membuat hubungan kami hanya sebatas mengucapkan hai dan hello. Suamiku sering pulang di atas jam 9 malam bahkan lebih, dia lebih senang menghabiskan waktunya dengan makan dan menonton telivisi berjam-jam. Aku merasa ketika di rumah dia enggan bercerita banyak, lalu membiarkan aku dan anaknya tidur. Keesokan harinya dia kembali bekerja dan begitu lagi dan begitu lagi.

Aku tak ingin membenarkan apa yang aku lakukan. Karena bagaimanapun perselingkuhan tetap haram dalam sebuah pernikahan. aku membagi resahku dengan laki-laki lain bukan suamiku setelah mencoba membicarakan segala hal dengannya tanpa mendapatkan solusi yang tepat dan baik untuk kami semua. Seharusnya aku tidak lelah untuk membina komunikasi tapi aku terlanjur lelah sehingga perselingkuhan itu terjadi.

Belum selesai masalah komunikasi antara kami, lagi-lagi kesedihan hatiku ditambah dengan perlakuan suamiku yang sama sekali berubah. Suamiku tak pernah memberikan nafkah batin untukku lagi semenjak kehamilan anak pertamaku. Aku tak pernah menyadari ketika tanpa kebutuhan biologis antara kami benar-benar memberikan perubahan dan akibat yang sangat hebat dalam rumah tangga kami. Aku yakin semua telinga yang mendengar hal ini akan menyatakan hal yang sama, ada apakah gerangan di balik semua ini???

Dalam Fiqh Islam hal ini bisa dikategorikan dengan ILA’ atau sengketa batin adalah ketika seorang suami yang bersumpah tak akan menggauli istrinya dalam waktu yang tidak ditentukan. Sumpah ini bisa diucapkan di depan banyak orang ataupun tidak diucapkan tapi dilakukan secara diam-diam kepada istrinya. Ya, suamiku tak pernah memberikanku nafkah batin selama setahun semenjak aku hamil anak pertama kami, kemudian setelah anak kami lahir kondisi itu juga tidak berubah. Dia menggauliku hanya di saat dia ingin menggauliku saja, terkadang 5 bulan sekali, terkadang 3 bulan sekali.
Kondisi ini semakin memperparah kejiwaanku. Aku berubah menjadi pendiam dan tegang.

Rasanya hilang sudah rasa maluku untuk meminta digauli selayaknya seorang istri. Tak jarang aku menutup wajahku dengan bantal menahan tangisku saat dia berkali-kali menolak mencumbuiku. Ku lebur hasratku dengan berpuasa sunnah untuk menahan hal-hal yang tak diinginkan karena kebutuhan biologisku yang tak kunjung dipenuhi. Sungguh tersiksa rasanya ketika intuisiku sebagai istri mengatakan suamiku tak pernah menginginkanku lagi. Seperti boneka usang yang tak terlalu menarik lagi untuk diajak bermain, akhirnya aku hanya dipajang, jika suatu kali bosan dengan boneka yang lain maka dia akan mengajakku kembali untuk bersenda gurau.

Tidak,..aku tidak tahu apakah suamiku mendua hati di luar sana. Aku juga tak pernah mencari tahu walaupun terkadang terbaca olehku kata-kata cinta dari seorang wanita. Tapi lagi-lagi aku tak ingin memikirkannya, walaupun aku sempat merasakan cemburu dan rasa sakit yang menjalar sejenak di hatiku. Kembali aku ingat kata-kata suamiku seperti sebuah sugesti tertanam tepat dalam memory ingatanku “aku mencintai anakku, berarti aku juga mencintai ibunya, apapun yang terjadi aku tak akan menyakiti istri dan anakku”.

Ku akui kata-kata itu seperti sebuah hipnotis untukku agar selalu percaya padanya. Aku tak pernah berfikir bahwa dia berlaku aneh di belakangku, atau dia menyelingkuhiku atau bahkan telah menikah di belakangku dengan cara nikah sirri. Sama sekali aku tak ingin memikirkannya walaupun dia tak kunjung memberikanku nafkah batin. Aku masih berusaha untuk sabar.

Suatu hari aku bertanya pada seorang ustadz. Apa sebenarnya hukum jika suami tak pernah menggauli istrinya lagi?? Dengan panjang lebar pak ustadz menjelaskannya padaku. ILA’ hanya boleh dilakukan oleh suami apabila istri melakukan kesalahan, tapi dalam waktu 4 bulan harus kembali berbaikan jika si istri sudah berubah menjadi baik atau jika tidak bisa dilanjutkan dengan perceraian. Yang kedua jika ILA’ terjadi karena suami tidak mau menggauli istri atau dalam kondisi tidak mampu menggauli maka boleh diajukan permohonan cerai atau si istri bisa bersabar dengan sebenar-benarnya.

Terdiam aku mendengar penjelasan pak ustadz. Bercerai?? Ah, tidak boleh sejauh itu. Mungkin saja suamiku kelelahan jawab hatiku karena begitulah selalu jawaban yang ku peroleh tiap kali aku bertanya mengapa dia tak menggauliku lagi, tapi mengapa kelelahan terus saja berbulan-bulan??timpal hatiku yang lain pula. Bukankah aku juga lelah mengurusi rumah dan anak seorang diri tanpa pembantu pula?? Tapi aku tetap ingin melaksanakan tugasku sebagai istri yang melayaninya dengan baik.

Pernah kutemukan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud dikatakan bahwa jika seorang istri menolak digauli oleh suaminya maka wanita itu akan dilaknat Allah. Ingin sekali aku memperoleh keterangan jika kondisinya dibalikkan. Bagaimana jika suami yang menolak ajakan istrinya, apakah si suami juga akan dilaknat Allah??...namun aku tak pernah menemukan satupun hadist yang menggambarkan kondisi sebaliknya. Akhirnya aku hanya menenangkan hatiku dengan mengatakan bahwa suami yang terbaik adalah yang memperlakukan istrinya dengan sebaik-baiknya.

Ku buang jauh-jauh setiap tanya dan kemungkinan dalam hatiku. Walaupun akhirnya aku merasa bahwa suamiku seperti tak tertarik lagi padaku atau bahkan tak menginginkanku lagi. Hanya lelahkah?? Dulu bagiku jawaban itu sudah cukup, suamiku lelah maka aku harus mengerti. Aku terlalu malu meminta lagi ketika setiap kali ditolaknya, akhirnya aku hanya diam dan pasrah menunggu kapan dia akan mendekatiku lagi.

Seiring waktu tahun keempat sudah pernikahan kami, aku mulai merasakan kejenuhan itu.
Tanpa ada kemesraan, tanpa komunikasi dua arah. Tak ada kondisi saling berbagi cerita lagi, semua itu hilang entah kemana seperti asap yang mengepul ke atas hilang bersama partikel-partikel udara. Tapi aku tak mau kalah dengan keadaan ini, aku tetap ingin mempertahankan pernikahanku sampai seseorang yang berada di masalaluku kembali hadir lagi menghiasi hari-hariku.

---------

Laki-laki itu mantan pacarku, dulu kami pernah hampir menikah. Aku memperoleh nomer telponnya lewat jejaring pertemanan di internet dari seorang sahabat lama kami. Semua berawal dari sebuah pesan singkat lalu berlanjut di telpon. Akhirnya komunikasi itu semakin lancar ketika kami berdua sama-sama mencurahkan isi hati dari masalah-masalah dalam rumah tangga kami.

Lagi-lagi aku tak ingin menyatakan ini benar. Bagaimanapun masalah rumahtangga cukuplah hanya diselesaikan oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Aku sadar aku salah, tapi nafsu terlalu memasung hasratku untuk melangkah dalam jalur yang tidak benar. Kehadiran laki-laki itu seperti menutupi kesedihan yang kurasakan selama menjadi istri yang tersia-siakan.

Hubungan kami hanya berlangsung lewat telpon. Tak pernah sekalipun aku bertemu dengannya, semua pembicaraan kami selalu disampaikan via telpon atau email. Ketika masalah hadir aku cepat-cepat mencarinya untuk berbagi. Awal-awalnya semua biasa saja, tapi lama kelamaan sisa-sisa cinta di masalalu antara kami akhirnya berkuncup juga bahkan mulai mekar seolah-olah tak perduli di antara kami ada terlalu banyak alasan untuk mengakhiri semua kisah lalu itu.

Perselingkuhan via telpon itu berlangsung enam bulan sudah. Perasaanku padanya semakin menggebu-gebu di tengah hubunganku dengan suami yang semakin rumit. Aku tahu, ini bukan alasan atas legalisasi perselingkuhan. Bagaimanapun semua ini harus diakhiri ucapku dalam hati. Kupaksakan hatiku untuk mengakhiri semuanya, kembali ku ingat romantisme saat pertama kali menjadi pengantin baru. Kembali ku buka foto-foto ku dan suami saat masih pacaran dulu, ku coba mengingat kembali bahwa kami juga pernah merasakan bahagia itu dulu.

“aku tak ingin hubungan ini terlalu jauh, aku harap kau mengerti. Walaupun ada yang salah dengan pernikahan kita masing-masing, tapi aku sangat sadar hubungan lain yang terajut di tengah badai rumah tangga juga merupakan kesalahan terbesar” ku akhiri emailku buat sang mantan kekasihku dulu. Semua harus berakhir, sekarang juga tekadku di hati. Memang sejak saat itu tak ada komunikasi apapun antara kami.

Dulu bagiku setiap permasalahan apapun itu pasti ada jalan keluarnya. Tapi perselingkuhan memiliki tingkat penanganan yang lebih serius, ketika berselingkuh akan ada perbandingan antara pria idaman lain dengan suami sendiri. Terkadang nafsu dan syaitan terlalu pandai memainkan perasaan manusia, padahal belum tentu apa yang kita inginkan akan indah seperti yang kita bayangkan.

“Apa ini….” Suamiku melemparkan handphoneku di atas kasur sebelum aku beranjak tidur.
Aku hanya diam saat matanya melotot menahan marah yang menyelubungi setiap sendi tubuhnya.

“Sekarang juga,…bereskan pakaianmu, keluar dari rumahku” aku menatap tak percaya atas apa yang dia lakukan, ini sudah jam 11 malam, aku harus kemana dengan tanpa uang dan tanpa saudara seorangpun di kota ini. Bukankah dalam kelam malam selalu ada kejahatan yang tersembunyi, lalu bagaimana dia tega mengusirku di tengah malam seperti ini.

Aku sujud tersungkur di kaki laki-laki yang dulu pernah membahagiakanku. Sekarang tanpa bertanya banyak, tanpa meminta penjelasan dariku dia mengusirku dengan cara yang sangat hina. Mungkin benar aku tak pernah pantas mendapatkan kata maaf, tapi seburuk apapun yang telah aku lakukan, bukan berarti dia boleh bentindak semena-mena padaku. Bukankah dulu dia mengambilku dari kedua tangan orangtuaku dengan cara yang baik, lalu mengapa dia ingin mengembalikanku tanpa mengantarkannya kembali dengan cara yang baik pula??

Apakah dengungan cinta yang membahana ruang hati kami dahulu telah sirna atau mungkin suamiku merasa terhina atas perselingkuhanku. Entahlah apapun alasannya, aku merasa perlakuannya kali ini lebih menyakitkan daripada alphanya dia memberikanku nafkah bathin. Masih beruraian air mata, perlahan kumasukkan beberapa baju ke dalam tas besar lalu memasukkan juga beberapa baju anakku.

“Tidak,…baju Wiena tidak boleh dibawa, dia akan tetap di sini bersamaku bukan bersama ibu yang tak tahu diri seperti dirimu”

Kata-kata suamiku begitu tajam kurasakan menyayat hatiku. Apakah aku harus membela diri dengan mengatakan aku menyesal dan aku telah mengakhiri hubungan dengan mantan pacarku karena ingin mempertahankan pernikahan kami??? Apakah dia masih mau mendengarkan ketika cinta yang menyatukan kami telah lenyap dalam pekatnya amarah..., Tuhan mungkin punya rencana yang lain, suamiku menendangku dari ikatan yang menyatukan kami. Bahkan dengan teganya dia memisahkan aku dari anak yang sangat kusayangi.

Aku tak ingin membela diriku, karena mungkin aku tak punya hak untuk membela diri.
Dengan segala keresahanku ku tampung semua duka hatiku ketika kukuatkan hati bahwa aku telah diceraikan dengan cara yang sangat menyakitkan. Apakah dia akan mendengarkan bahwa aku tersiksa dengan semua perlakuannya selama ini????... Apakah dia mau tahu penyebab dari semua ini???..ingin sekali aku meneriakkan di wajahnya dimana janjinya yang ingin membawaku ke syurga?? Dimana janjinya untuk selalu bisa menjadi imam dalam shalat jama’ah kami, dimana janjinya untuk bisa membangunkanku tahajjud bersama??...aku hanya diam ketika dia mengusirku dengan segala ketakberdayaanku.

Kulangkahkan kakiku bersama hancurnya tiap keping jiwaku, kukecup lembut kening anak semata wayangku yang masih tertidur pulas.

“Maafkan bunda sayang,…bunda bertahan untukmu, tapi bunda tak berdaya untuk membawamu serta,..bunda Cinta Wiena”

Malam itu aku benar-benar bisa merasakan bagaimana rasanya tanpa arti lagi. Langkah gontaiku di pekat malam semakin membuat kesendirian ini begitu terasa. Aku istri yang tak berbudi, aku ibu yang tak bertanggung jawab. Semua kata-kata itu seperti bayangan gelap mencekam yang membuntuti setiap langkahku. Aku telah tercampakkan, sangat dalam.

Masih kutatap bayanganku dalam redup lampu-lampu rumah yang menerangi mata kakiku untuk melangkah. Langit hitam, tanpa bintang dan bulan. Tak seorang pun yang menahanku untuk pergi. Semua diam, hanya isak tangisku saja yang kudengar hingga menembus kepekatan malam yang lengang.

Bagaimana ku tatap duniaku lagi yang memandangku penuh benci ketika hembusan perselingkuhan itu menjadi topik utama dalam sidang perceraian kami. Semua melihat akibatnya tanpa mencari penyebabnya. Harus ku kemanakan hatiku jika bukan karena iman aku sudah meminta Allah mencabut nyawaku. Karena isu perselingkuhan itu pula, hak asuh anak semata wayangku jatuh pada suamiku. Serasa dunia kiamat di depanku, serasa beribu gunung yang runtuh di depanku seketika.

Seburuk apapun aku akan bangkit, sekeras apapun terjangan itu aku harus kuat. Terakhir kali suamiku menggauliku ternyata membuahkan seorang janin di kandunganku. Tapi lagi-lagi aku harus dua kali lebih sabar dan kuat ketika anak yang ku kandung dianggap menjadi insan yang tak diinginkan ayahnya karena menurut suamiku janin yang kukandung bukan anaknya.

Lengkap sudah penderitaanku, ku kepakkan sayap lemahku demi anak yang dititipkan Allah padaku. Aku hanya ingin menjadi ibu yang shaleh. Aku hanya ingin membahagiakan anakku, walaupun mati-matian ku kumpulkan setiap pundi-pundi ketegaranku. Bagaimanapun aku hanya manusia biasa, wanita biasa yang terkadang lemah jika diterjang dari segala arah, terkadang sayapku juga terasa sakit akibat patah kena hantaman kehidupan. Tapi aku harus bangkit, tak ada gunanya meratapi yang lalu hanya akan menyisakan perih yang tak pernah usai.

------

Aurora masih terisak dalam pelukanku, aku bisa merasakan beban berat yang dia pikul sendiri saat ini. Tubuhnya berguncang hebat menahan air mata yang mengalir. Ku tatap ada sorot mata penyesalan, tapi aku juga melihat ada sorot kelegaan. Antara menyesal telah melakukan sebuah kesalahan dengan kelegaan terlepas dari beban bathin yang telah menghadangnya selama berumah tangga.

“Mira,…menurutmu apa aku ibu yang baik??

Ku anggukkan kepalaku sambil memberikan sapu tangan pada Rora. Sebersit aku menatap kagum pada wanita satu ini. Beban hidupnya begitu berat, kenyataan hidupnya begitu pahit untuk dipikul sendiri. Bukankah Allah Maha Pengampun atas setiap dosa yang dilakukan?? Bukankah Allah Maha Penyayang sehingga Rora mampu menjalani ini semua.

Tapi setiap hati memiliki cara merasakan masing-masing pada setiap masalah. Mungkin Rora salah telah berselingkuh lewat dunia maya, tapi bukan berarti suaminya juga suami yang baik untuk seorang Rora. Tak ada seorangpun yang tahu bagaimana aib itu tersingkap dan tersimpan dengan baik.

Diam aku menatap sajadah panjangku setelah menghabiskan bacaan surah Ar-rahman. Wahai yang Maha Sayang,..sayangilah hamba dan suami hamba untuk selalu berjuang mempertahankan pernikahan kami dalam kasih dan sayang. Wahai yang Maha Pengasih Kasihilah wanita-wanita yang teraniaya hatinya, ampunilah khilafnya dalam sebuah tabir penyesalan,..Amiennn

Untuk Wanita yang menghampiriku
Dengan genangan air mata
Ahris Nafsaka anittadbir (Ringankanlah dirimu atas apa yang menjadi kehendakNya)

Jakarta, 28 Maret 2010
Aida affandi
www.warnawarnisisihati.blogspot.com
www.scribd.com/aida_affandi